Kumparan Logo

Menteri KP Soroti Industri Pakan Udang yang Masih Banyak Bergantung Impor

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri KP Sakti Wahyo Trenggono dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV di Kompleks Parlemen, Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri KP Sakti Wahyo Trenggono dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV di Kompleks Parlemen, Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Menteri Kelautan dan Perikanan (Menteri KP), Sakti Wahyu Trenggono, mengungkapkan saat ini terdapat penurunan harga udang di tingkat pembudidaya yang terjadi di sejumlah daerah. Menurutnya, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) beberapa waktu terakhir tidak otomatis mendorong kenaikan harga udang di tingkat pembudidaya.

Padahal, kinerja ekspor udang Indonesia masih tercatat cukup tinggi, dengan nilai mencapai sekitar USD 6,7 miliar. Ekspor itu juga sempat terkendala gangguan akibat kasus Cesium-137.

Trenggono menyoroti fasilitas penetasan telur atau hatchery serta pakan sebagai penyebabnya.

“Kita masih lemah semua. Di-hatchery, kita belum memiliki industri hatchery yang memadai. Ini yang berkali-kali saya sampaikan kepada teman-teman khususnya di IPB, Brawijaya, Undip, untuk coba dilakukan satu penelitian-penelitian,” kata Trenggono dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (11/6).

Selain itu, Trenggono juga menyoroti tingginya kebergantungan industri pakan terhadap bahan baku impor. Menurutnya, hampir seluruh bahan baku pakan, terutama tepung ikan sebagai komponen utama, masih berasal dari luar negeri.

“Saya bisa nyebut 100 persen pakan itu bahan bakunya impor. Sudah sekian tahun KKP lahir, 26 tahun sudah (tetapi masih impor),” tutur Trenggono.

Ilustrasi udang beku. Foto: Shutterstock

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Trenggono menyatakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah melakukan transformasi di sektor pendidikan vokasi perikanan. Melalui langkah itu, kementerian berupaya mengubah paradigma pembelajaran di politeknik agar tidak hanya berfokus pada teori.

“Kita jangan sampai belajar teori terus, kita akan geser. Kita akan transformasi,” ucap Trenggono.

Hingga 10 Desember 2025, sebanyak 640 kontainer udang bersertifikat bebas Cs-137 telah dikirim sejak ekspor perdana yang kembali dibuka pada Oktober 2025. Total volume pengiriman mencapai 10.312 ton dengan nilai USD 108,10 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun.

Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan KKP, Ishartini, menjelaskan Indonesia kini menjadi pihak yang dipercaya otoritas AS sebagai certifying entity yang berwenang memastikan keamanan produk udang yang masuk ke AS.