Konten dari Pengguna

Mudah Membeli, Sulit Menabung: Dilema Keuangan di Era Digital

Aditya Karim

Aditya Karim

Mahasiswa S1 Manajemen - Univesitas Pamulang

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aditya Karim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Generate AI (Gemini)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Generate AI (Gemini)

Pernahkah kita merasa uang baru saja diterima, tetapi tiba-tiba sudah berkurang cukup banyak? Baru beberapa hari setelah menerima uang, kita sudah harus membayar tagihan, membeli kebutuhan sehari-hari, memesan makanan secara online, berbelanja di marketplace, atau sekadar nongkrong bersama teman. Ketika melihat saldo rekening, terkadang muncul pertanyaan sederhana: “Uang saya sebenarnya habis untuk apa?”

Kondisi seperti ini semakin mudah terjadi di era digital. Bukan karena masyarakat semakin tidak mampu mendapatkan uang, tetapi karena saat ini membelanjakan uang jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Hanya dengan sebuah smartphone kita dapat membeli hampir apa saja, pembayaran pun dapat dilakukan dalam hitungan detik. Di satu sisi, perkembangan teknologi tentu memberikan banyak manfaat. Kita tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah banyak, transaksi menjadi lebih cepat dan berbagai kebutuhan dapat dipenuhi dengan lebih praktis. Namun, di sisi lain, kemudahan tersebut juga membuat kita harus semakin mampu mengendalikan diri dalam menggunakan uang.

Inilah salah satu dilema keuangan yang dihadapi masyarakat saat ini: semakin mudah membeli, tetapi belum tentu semakin mudah menabung.

Ketika Membeli Sesuatu Hanya Membutuhkan Beberapa Klik

Kalau kita melihat kehidupan sehari-hari, hampir semua aktivitas sudah semakin dekat dengan teknologi digital. Belanja dapat dilakukan melalui marketplace, makanan dapat dipesan melalui aplikasi, pembayaran dapat dilakukan menggunakan QRIS atau dompet digital, dan kebutuhan keuangan dapat diakses melalui mobile banking. Bahkan perkembangan penggunaan internet di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat semakin terhubung dengan dunia digital.

Berdasarkan Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2024, meningkat dari 69,21 persen pada tahun 2023. Angka tersebut bukan sekadar statistik, angka tersebut menggambarkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin banyak masyarakat yang terhubung dengan internet berarti semakin banyak pula orang yang memiliki akses terhadap berbagai layanan digital, termasuk layanan perdagangan dan keuangan.

Kemudahan tersebut tentu merupakan sesuatu yang positif, masalahnya muncul ketika kemudahan transaksi tidak diimbangi dengan kemampuan mengatur keuangan. Dahulu, ketika ingin membeli sesuatu mungkin kita harus pergi ke toko, membawa uang, dan berpikir beberapa kali sebelum melakukan pembelian. Sekarang, kita cukup membuka aplikasi, memilih barang, memasukkan alamat, lalu melakukan pembayaran.

Terkadang prosesnya bahkan terasa terlalu mudah, kita mungkin awalnya hanya berniat melihat-lihat barang. Kemudian muncul tulisan “diskon 50 persen,” “gratis ongkir,” “flash sale,” atau “tinggal beberapa barang lagi.” Tanpa terasa, barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan akhirnya masuk ke keranjang dan dibayar. Yang lebih menarik, sekarang kita bahkan tidak selalu harus memiliki uangnya terlebih dahulu untuk membeli sesuatu. Adanya fasilitas paylater membuat seseorang dapat membeli barang sekarang dan membayarnya kemudian, di sinilah kita harus mulai berhati-hati. Kemudahan membeli bukan berarti kemampuan finansial kita ikut bertambah.

Transaksi Digital Semakin Cepat, Apakah Kita Semakin Bijak?

Perkembangan transaksi digital di Indonesia juga menunjukkan perubahan yang sangat besar. Bank Indonesia mencatat bahwa volume transaksi pembayaran digital pada Februari 2026 mencapai 4,67 miliar transaksi, atau tumbuh 40,35 persen secara tahunan. Transaksi QRIS juga terus berkembang dengan pertumbuhan sebesar 133,20 persen secara tahunan, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat memang semakin nyaman menggunakan pembayaran digital. Membeli makanan, membayar transportasi, berbelanja, atau melakukan transaksi lainnya kini dapat dilakukan tanpa uang tunai.

Tetapi ada satu pertanyaan yang penting untuk dipikirkan:

Apakah semakin mudahnya transaksi juga membuat kita semakin bijak dalam menggunakan uang?

Teknologi sebenarnya bukan masalah. QRIS, mobile banking, marketplace, dompet digital, dan paylater diciptakan untuk memberikan kemudahan. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita menggunakan fasilitas tersebut. Seseorang yang memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan baik akan tetap berpikir sebelum melakukan transaksi. Sebaliknya, seseorang yang kurang mampu mengendalikan pengeluaran dapat semakin mudah melakukan pembelian hanya karena prosesnya sangat praktis. Karena itu, perkembangan teknologi harus diikuti dengan perkembangan kemampuan mengelola keuangan.

Kita Semakin Mudah Mengakses Uang, tetapi Belum Tentu Memahaminya

Hal yang cukup menarik terlihat dari hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan OJK bersama BPS, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46 persen. Sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen, perbedaan angka tersebut memberikan gambaran yang cukup penting. Masyarakat sudah semakin banyak yang memiliki akses terhadap produk dan layanan keuangan, tetapi tingkat pemahaman terhadap keuangan masih belum setinggi akses tersebut. Sederhananya, kita mungkin sudah bisa menggunakan layanan keuangan tetapi belum tentu semuanya memahami bagaimana cara menggunakannya secara bijak.

Misalnya, seseorang dapat menggunakan kartu kredit tetapi tidak memahami bagaimana bunga dan cicilan bekerja. Seseorang dapat menggunakan paylater tetapi tidak memperhitungkan kewajiban pembayaran pada bulan berikutnya, seseorang juga dapat berinvestasi karena melihat orang lain mendapatkan keuntungan tanpa memahami bahwa investasi juga memiliki risiko. Inilah alasan mengapa kemampuan mengelola keuangan menjadi semakin penting di era digital, kita tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi yang aktif tetapi juga harus menjadi pengguna yang bertanggung jawab.

Mengapa Menabung Terasa Lebih Sulit?

Salah satu alasan menabung terasa sulit adalah karena kita lebih mudah melihat manfaat dari membeli sesuatu dibandingkan manfaat dari menabung. Ketika membeli pakaian baru, kita bisa langsung menggunakannya. Ketika membeli makanan, kita langsung menikmatinya. Ketika membeli gadget, kita langsung mendapatkan pengalaman baru. Sementara ketika menabung, hasilnya tidak langsung terlihat. Kita hanya melihat saldo rekening bertambah sedikit demi sedikit.

Karena itu, menabung membutuhkan kesabaran dan disiplin, ditambah lagi dengan gaya hidup yang berkembang di media sosial. Kita setiap hari melihat orang bepergian, membeli barang baru, makan di tempat yang sedang populer, atau menunjukkan pencapaian tertentu. Tanpa sadar, kita dapat membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Hal ini dapat membuat seseorang merasa harus mengikuti gaya hidup tertentu agar tidak merasa tertinggal. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi keuangan seseorang yang sebenarnya.

Bisa saja seseorang terlihat memiliki gaya hidup mewah, tetapi ternyata memiliki banyak cicilan. Sebaliknya, seseorang yang terlihat sederhana mungkin justru memiliki tabungan dan investasi yang cukup baik. Karena itu, saya berpendapat bahwa kondisi keuangan yang sehat tidak selalu terlihat dari apa yang kita miliki, tetapi dari bagaimana kita mengelola apa yang kita punya.

Generasi Muda Perlu Belajar Mengatur Uang Sejak Sekarang

Generasi muda merupakan salah satu kelompok yang perlu memberikan perhatian lebih terhadap masalah ini, kita hidup di zaman ketika informasi tentang keuangan sangat mudah ditemukan. Kita dapat belajar mengenai investasi, tabungan, bisnis, perbankan, bahkan perencanaan keuangan melalui internet. Namun kemudahan mendapatkan informasi juga memiliki tantangan, tidak semua informasi yang kita lihat di media sosial dapat langsung dipercaya, Kita sering melihat konten yang membahas cara cepat mendapatkan keuntungan, investasi yang katanya pasti menghasilkan, atau gaya hidup yang terlihat sangat sukses. Jika tidak berhati-hati, kita dapat mengambil keputusan hanya karena ikut-ikutan.

Saya sendiri melihat bahwa generasi muda perlu membangun kebiasaan untuk bertanya sebelum mengeluarkan uang:

Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?

Apakah saya mampu membayarnya?

Apakah pembelian ini akan mengganggu kebutuhan saya yang lain?

Dan yang paling penting:

Apakah saya masih memiliki uang yang bisa disimpan setelah membeli ini?

Pertanyaan sederhana seperti itu mungkin terlihat sepele, tetapi dapat membantu kita mengambil keputusan yang lebih rasional.

Menabung Tidak Harus Menunggu Kaya

Ada anggapan bahwa seseorang baru bisa mulai menabung ketika memiliki penghasilan besar, pola pikir tersebut perlu diubah. Menabung seharusnya bukan sesuatu yang dilakukan hanya ketika memiliki uang lebih, justru kebiasaan menyisihkan uang perlu dibangun sejak penghasilan masih terbatas. Jumlahnya mungkin tidak besar, yang penting adalah konsistensinya. Begitu juga dengan dana darurat, kita tidak harus langsung memiliki jumlah yang sangat besar, kita dapat memulainya secara bertahap sesuai kemampuan. Hal yang sama berlaku untuk investasi, kita tidak perlu terburu-buru mengejar keuntungan besar. Sebelum berinvestasi, kita perlu memahami instrumen, risiko, jangka waktu, dan kemampuan finansial kita sendiri. Lebih baik memiliki kebiasaan keuangan yang sehat secara perlahan daripada mengejar hasil besar tetapi tidak memahami risikonya.

Teknologi Bukan Musuh, Cara Kita Menggunakannya yang Harus Diperbaiki

Pada akhirnya, saya tidak berpikir bahwa teknologi digital adalah penyebab seseorang menjadi boros. Teknologi justru memberikan banyak manfaat, kita dapat melakukan transaksi dengan lebih cepat, menyimpan uang dengan lebih aman, memperoleh informasi keuangan dan bahkan belajar mengenai investasi tanpa harus mengikuti pendidikan formal khusus. Yang perlu kita ubah adalah cara kita menggunakan teknologi tersebut.

Kalau marketplace digunakan untuk membeli kebutuhan, tentu sangat membantu. Kalau dompet digital digunakan untuk mempermudah pembayaran, tentu bermanfaat. Kalau mobile banking digunakan untuk mengatur keuangan, tentu memberikan efisiensi. Tetapi jika teknologi digunakan hanya untuk mempermudah kita membeli sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan, maka kemudahan tersebut justru dapat menjadi masalah. Teknologi seharusnya membuat hidup kita lebih mudah, bukan membuat kondisi keuangan kita semakin sulit.

Dari “Mudah Membeli” Menjadi “Mampu Mengendalikan”

Dari berbagai hal tersebut, saya melihat bahwa tantangan keuangan di era digital sebenarnya bukan sekadar persoalan pendapatan. Kita mungkin tidak dapat mengendalikan semua harga barang, kita juga tidak dapat mengendalikan berbagai promosi yang muncul di marketplace atau media sosial. Tetapi kita masih dapat mengendalikan keputusan kita sendiri, kita dapat memilih untuk tidak membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan, kita dapat menunda pembelian. Kita dapat membuat anggaran, kita dapat menyisihkan uang sebelum membelanjakannya, kita juga dapat belajar memahami berbagai produk keuangan sebelum menggunakannya. Kemampuan seperti inilah yang perlu dibangun sejak sekarang. Karena pada akhirnya, menjadi orang yang mampu mengelola uang bukan berarti harus menjadi orang kaya terlebih dahulu.

Justru kemampuan mengelola uang merupakan salah satu cara agar kita dapat menggunakan penghasilan yang kita miliki dengan lebih baik, jangan sampai kita terbiasa dengan pola “mudah membeli, sulit menabung.”

Mari mulai membalik kebiasaan tersebut menjadi “mudah membeli, tetapi tetap mampu mengendalikan”. Sebab uang yang kita miliki hari ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hari ini, sebagian dari uang tersebut juga merupakan persiapan untuk kebutuhan kita di masa depan. Dan mungkin, sebelum kita bertanya “Apa yang ingin saya beli?,” ada pertanyaan yang lebih penting untuk kita tanyakan:

“Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau saya hanya tergoda karena terlalu mudah untuk membelinya?”

Kemampuan menjawab pertanyaan sederhana tersebut adalah salah satu langkah awal untuk memiliki kehidupan keuangan yang lebih sehat.