Nasdaq Menguat 1,05 Persen, Saham AI Terdorong Kinerja SpaceX dan Super Micro

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (21/10), dipimpin indeks Nasdaq yang sarat saham teknologi. Penguatan terjadi setelah laporan keuangan SpaceX dan Super Micro Computer meningkatkan minat investor terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, pelemahan saham sektor jasa komunikasi membatasi kenaikan indeks utama Wall Street.
Dikutip dari Reuters, Kamis (22/10), Indeks Dow Jones Industrial Average naik 360,21 poin atau 0,69 persen ke level 52.856,09. S&P 500 menguat 44,60 poin atau 0,58 persen ke posisi 7.757,17, sedangkan Nasdaq Composite naik 278,04 poin atau 1,05 persen menjadi 26.702,86.
Saham SpaceX (SPCX) melonjak 7,8 persen setelah perusahaan teknologi roket dan antariksa milik Elon Musk tersebut membukukan laba pertamanya sebagai perusahaan publik.
Setelah laporan keuangan dirilis, Musk mengatakan penggabungan SpaceX dengan Tesla (TSLA) akan menjadi ide yang bagus. Pernyataan tersebut turut mendorong saham Tesla.
Di sisi lain, saham Super Micro Computer (SMCI) melesat 9,6 persen dan menjadi salah satu saham dengan kenaikan terbesar di indeks S&P 500. Perusahaan pembuat server AI tersebut memproyeksikan pendapatan dan margin laba kuartal berikutnya melampaui perkiraan Wall Street.
Proyeksi itu memperkuat sinyal bahwa permintaan terhadap teknologi AI masih bertahan. Sentimen positif juga merambat ke saham Hewlett Packard Enterprise (HPE) yang naik 3,7 persen dan Dell Technologies (DELL) yang menguat 5,3 persen.
Kinerja kedua perusahaan tersebut memberikan sedikit kepastian kepada investor yang sebelumnya khawatir terhadap keberlanjutan belanja besar-besaran untuk pengembangan infrastruktur AI serta kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi tersebut.
Sektor teknologi sebelumnya tertekan aksi jual saham-saham terkait AI pada pekan lalu. Operator pusat data CoreWeave menjadi salah satu perusahaan yang berada di pusat gejolak tersebut.
Strategi Global Senior Edward Jones, Angelo Kourkafas, menilai kinerja SpaceX dan Super Micro membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap prospek AI.
“Berita SpaceX ini meredakan sebagian kekhawatiran investor,” kata Kourkafas, merujuk pada dukungan dari kinerja Super Micro.
Menurut dia, laporan tersebut belum menjawab seluruh pertanyaan investor mengenai tingkat pengembalian investasi AI. Namun, hasil tersebut menjadi awal yang positif.
Indeks S&P 500 sektor teknologi informasi menguat 1,6 persen, menjadi sektor dengan kenaikan terbesar di antara 11 sektor utama S&P 500.
Chief Investment Officer Huntington Bank, Marc Dizard, mengatakan penguatan saham teknologi mencerminkan keyakinan investor bahwa tren investasi AI masih berlanjut.
“Reaksi pasar teknologi menegaskan kembali bahwa tren investasi AI masih bertahan,” ujar Dizard.
Meski demikian, dia mengingatkan sentimen investor terhadap AI dapat berubah dengan cepat. Pelaku pasar masih akan mencermati laporan keuangan perusahaan lain untuk memastikan keberlanjutan tren tersebut.
Saham Meta Platforms (META) naik 3 persen dalam perdagangan setelah penutupan pasar reguler, menyusul publikasi laporan keuangan kuartalannya. Saham Tesla, yang sebelumnya ditutup menguat 3,4 persen, kembali naik 1,6 persen setelah laporan keuangannya dirilis.
Di sektor teknologi, saham semikonduktor juga menjadi salah satu pendorong utama. Indeks Philadelphia Semiconductor menguat 2 persen setelah mengalami pergerakan volatil sepanjang bulan ini, termasuk aksi jual selama delapan sesi berturut-turut.
Di sisi lain, kenaikan S&P 500 tertahan oleh pelemahan sektor jasa komunikasi yang turun 1,3 persen.
Saham operator telekomunikasi AT&T (T) anjlok 6,5 persen meskipun perusahaan tersebut mencatatkan pendapatan dan laba kuartal III di atas ekspektasi pasar.
Kinerja SpaceX, ditambah pembelian spektrum nirkabel yang baru-baru ini dilakukan perusahaan tersebut, memicu kekhawatiran bahwa SpaceX berpotensi menjadi pesaing kuat di industri telekomunikasi.
Saham T-Mobile US (TMUS) turun 2,5 persen, sementara Verizon Communications (VZ) melemah 2,2 persen.
Di sektor yang sama, saham Netflix (NFLX) merosot 5,3 persen setelah perusahaan layanan streaming video tersebut memberikan proyeksi laba kuartal IV yang lebih rendah dari perkiraan pasar. Saham Alphabet (GOOGL), induk Google, juga turun 1,6 persen.
Sementara itu, saham Abbott Laboratories (ABT) melemah 1,9 persen setelah perusahaan perangkat medis tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan penjualan untuk 2026.
Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang naik dibandingkan saham yang turun mencapai rasio 1,37 banding 1. Sebanyak 131 saham mencatatkan level tertinggi baru, sedangkan 221 saham menyentuh level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 2.690 saham menguat dan 2.068 saham melemah, dengan rasio saham naik terhadap saham turun sebesar 1,3 banding 1.
S&P 500 mencatatkan 26 saham yang mencapai level tertinggi dalam 52 minggu dan tiga saham yang menyentuh level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatatkan 53 saham pada level tertinggi baru dan 216 saham pada level terendah baru dalam 52 minggu.
Total volume perdagangan saham di bursa AS mencapai sekitar 16,11 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 17,10 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.
