Kumparan Logo

NPL Naik, BI Ungkap Penyebab Kredit UMKM Nyaris Tak Tumbuh pada April 2026

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Dhaha P Kuantan dan Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama di Makassar, Jumat (21/5/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Dhaha P Kuantan dan Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama di Makassar, Jumat (21/5/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melambat tajam pada April 2026. Bank Indonesia (BI) menilai kenaikan kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) membuat perbankan semakin berhati-hati menyalurkan pembiayaan ke sektor tersebut.

Data BI menunjukkan kredit UMKM hanya tumbuh 0,16 persen secara tahunan pada April 2026. Di saat yang sama, rasio NPL UMKM naik menjadi 4,62 persen.

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Dhaha P Kuantan, mengatakan lonjakan risiko kredit mendorong bank menerapkan penyaluran kredit yang lebih ketat, terutama untuk sektor UMKM.

“Risiko kreditnya meningkat sehingga bank-bank melakukan selective lending. Untuk sektor-sektor UMKM, bank akan pilih-pilih, sehingga pertumbuhan kreditnya relatif tertahan,” kata Dhaha dalam di Makassar, dikutip Sabtu (22/5).

Kenaikan NPL tersebut membuat bank cenderung lebih berhati-hati menyalurkan pembiayaan ke sektor riil yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi. Kondisi daya beli masyarakat menengah bawah yang masih terbatas juga ikut menambah tekanan terhadap pelaku usaha kecil.

Dhaha mengatakan situasi ini menjadi perhatian BI. Bank sentral pun menyiapkan langkah lanjutan agar penyaluran kredit ke sektor UMKM bisa kembali meningkat.

“Ini memang menjadi concern kita. Diperlukan kebijakan-kebijakan yang terus mendorong pertumbuhan UMKM. Dari sisi kami, akan kami perkuat lagi ke depan apa-apa yang bisa kami dorong. Concern-nya memang banyak terkait NPL yang meningkat dan daya beli masyarakat menengah bawah yang terbatas,” ungkapnya.

Meski pertumbuhan kredit UMKM melambat pada April 2026, BI masih optimistis kondisi dapat membaik. Dhaha menilai sejumlah program pemerintah yang menyasar masyarakat lapisan bawah berpotensi mendukung pemulihan daya beli sekaligus menekan rasio kredit bermasalah.

Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Kelurahan/Desa Merah Putih (KDKMP), hingga penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dinilai dapat menjadi penopang pertumbuhan pembiayaan ke depan.

“Harapannya dengan adanya program pemerintah yang banyak menyasar masyarakat menengah bawah, seperti MBG, KDKMP, KUR, dan lain sebagainya, itu bisa membaik di tahun 2026,” pungkasnya.