Kumparan Logo

OJK: Relaksasi DHE SDA Buka Persaingan Bank Rebut Dana Eksportir

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae di Gedung DPR, Rabu (12/7/2023). Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae di Gedung DPR, Rabu (12/7/2023). Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai relaksasi pengelolaan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang berlaku sejak 1 September 2026 memberikan dampak positif terhadap likuiditas valas perbankan.

“Kebijakan DHE SDA tersebut memberikan ruang yang lebih luas bagi eksportir pertambangan tertentu untuk memilih bank penempatan yang terbagi menjadi 5 Bank BUMN dan 10 Bank Non BUMN,” jelas Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/9).

Dian menilai, kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan likuiditas valas pada bank yang ditunjuk untuk mengelola DHE SDA. Namun, besarnya dampak bakal bergantung pada kemampuan masing-masing bank dalam menarik dan mempertahankan dana.

Di sisi lain, persaingan antarbank untuk mendapatkan dana DHE SDA berpotensi mendorong bank menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Dian mengingatkan strategi itu bisa meningkatkan biaya dana atau cost of fund valas.

instagram embed

“Apabila pemberian imbal hasil yang terlalu tinggi semata-mata untuk menarik DHE SDA, justru dapat meningkatkan cost of fund valas dan pada akhirnya menekan profitabilitas bank apabila tidak diimbangi dengan pemanfaatan dana yang memadai,” kata Dian.

Dian juga mendorong persaingan antarbank berlangsung secara sehat. Persaingan, katanya, tak hanya melalui imbal hasil, tetapi juga melalui kualitas layanan dan produk yang diberikan kepada eksportir.

“Persaingan antarbank sebaiknya terjadi secara sehat antara lain dengan meningkatkan kualitas layanan, kemampuan memenuhi kebutuhan transaksi valas eksportir, produk treasury dan hedging, serta solusi pengelolaan dana yang memberikan nilai tambah bagi nasabah,” lanjutnya.