Okupansi Mal Penuh pada Kuartal II 2026, Harga Sewa Diproyeksi Naik 3%

Tingkat okupansi di mal-mal utama di Jakarta tercatat mencapai 96 persen pada kuartal II 2026. Angka ini menunjukkan tingkat keterisian yang sangat tinggi.
Head of Research JLL Indonesia & Heads of Insights & Advisory, James Taylor, mengatakan pertumbuhan tersebut hampir membuat tidak ada ruang yang kosong di mal-mal utama di Jakarta.
“Tingkat okupansi di mal-mal utama di kota ini mencapai 96 persen. Angka tersebut tergolong sangat tinggi. Pada dasarnya, hampir tidak ada ruang yang kosong,” kata James dalam gelaran media briefing di Kantor JLL, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (18/8).
Dari sisi sewa, permintaan di pasar ritel dinilai cukup kompleks karena dipengaruhi oleh ekspansi, aktivitas tenant, serta upaya pemilik mal dalam mengoptimalkan fasilitas. “Namun, indikator keuangannya jauh lebih sederhana,” sebut James.
Ia menjelaskan, meskipun sebagian area mal ditutup sementara untuk renovasi, harga sewa tetap mengalami pertumbuhan. Untuk 2026, pertumbuhan harga sewa diperkirakan mencapai sekitar 3 persen sejalan dengan tren historis dan proyeksi yang telah dibuat.
“Jadi kami memperkirakan pertumbuhan (harga sewa) sekitar 3 persen pada 2026,” jelas James.
Kemudian dari sisi pasokan, aktivitas pembangunan mal baru dinilai relatif terbatas. James mengungkapkan saat ini, total stok ruang ritel di seluruh kota mencapai sekitar 3,2 juta meter persegi.
“Klaster terbesar berada di pusat kota, di sekitar kawasan CBD, tetapi mal-mal utama juga tersebar di berbagai wilayah,” sebut James.
Dalam beberapa waktu terakhir, penambahan jumlah ruang tercatat cukup terbatas dan tidak terdapat pasokan baru yang selesai pada kuartal ini. Namun, sekitar 66.000 meter persegi pasokan baru diperkirakan akan masuk hingga akhir 2026.
“Sementara itu, jika melihat periode setelahnya, mulai 2027 dan seterusnya, kami hanya memperkirakan sekitar 56.000 meter persegi pasokan baru selama periode tersebut,” lanjut James.
Berdasarkan data JLL, total stok ruang ritel di Jakarta saat ini mencapai 3,2 juta meter persegi, dengan proyeksi tambahan pasokan di masa depan hanya sekitar 0,1 juta meter persegi hingga akhir 2026.
Harga sewa rata-rata mal premium di Jakarta tercatat berada di angka Rp 621.341 per meter persegi. Angka ini mengalami kenaikan tipis secara kuartalan sebesar 0,25 persen.
James juga menyinggung soal toko ritel eksperimental. Katanya, konsep tersebut dinilai dapat membantu meningkatkan jumlah kunjungan ke mal, khususnya untuk sektor minuman.
“Kami juga melihat bahwa konsep tersebut meningkatkan durasi kunjungan. Dengan demikian, pengunjung dapat menghabiskan waktu lebih lama di dalam mal,” imbuh James.
