Pemerintah Siapkan Paket Stimulus Ekonomi Usai Harga Pertamax Naik
·waktu baca 2 menit

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pemerintah telah menyiapkan paket stimulus ekonomi untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah usai kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax. Langkah itu dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah penyesuaian harga energi tersebut.
Airlangga mengungkapkan stimulus tersebut masih tahap finalisasi. Ia menekankan pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi, yakni Pertalite. Sehingga dampak kenaikan harga energi terhadap masyarakat luas dapat diminimalkan.
“Ya pertama kan BBM yang kita pertahankan kan Pertalite dan B50. Terus kemudian kita siapkan (stimulus) yang untuk kelas menengah ke bawah, desil 4 ke bawah,” kata Airlangga kepada wartawan di Wisma Danantara, Senin (15/6).
Pemerintah menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter sejak 10 Juni 2026. Saat ditanya mengenai dampak kenaikan harga BBM terhadap kelompok kelas menengah, Airlangga menyebut pemerintah akan kembali mendorong program magang sebagai salah satu upaya menjaga aktivitas ekonomi dan kesempatan kerja.
“Kelas menengah salah satu program magang yang kita lagi dorong kembali di bulan Juni,” ujar Airlangga.
Tak Ada BLT Tunai Tambahan
Airlangga juga menegaskan stimulus yang sedang disiapkan bukan berupa bantuan langsung tunai (BLT) untuk masyarakat secara luas. Menurutnya, bantuan akan difokuskan kepada kelompok berpendapatan rendah.
“Kalau BLT, bukan yang di menengah tetapi yang di bawah,” ujarnya.
Ketika ditanya lebih lanjut apakah bantuan tersebut akan diberikan dalam bentuk uang tunai, Airlangga menjawab singkat, “Tidak.”
Pemerintah Masih Waspadai Harga Minyak Dunia
Selain menyiapkan stimulus domestik, pemerintah juga terus memantau perkembangan harga minyak dunia usai mulai meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, harga minyak diperkirakan turun setelah tercapainya kesepakatan terkait konflik Iran.
Meski begitu, pemerintah masih mengambil asumsi yang konservatif sampai seluruh proses kesepakatan benar-benar rampung.
“Ya pertama tentu kita monitor karena harga minyak akan turun lagi ke sekitar USD 83 per barel tetapi kan semua ini baru selesai sudah ditandatangani. Jadi sebelum ditandatangani kita tetap konservatif,” kata Airlangga.
