Kumparan Logo

Pemerintah Terbitkan Panda Bond pada 23 Juli 2026, Target Raup USD 1 Miliar

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konferensi Pers APBN KiTA bulan Juni 2026 di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (21/7/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi Pers APBN KiTA bulan Juni 2026 di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (21/7/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan

Pemerintah bakal menerbitkan surat utang dalam mata uang yuan atau Panda Bond di pasar China senilai USD 1 miliar pada 23 Juli 2026.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan penerbitan Panda Bond merupakan strategi untuk memperluas sumber pembiayaan pemerintah sekaligus menjajaki pasar surat utang China yang memiliki likuiditas besar.

"Rencana issuance ini 23 Juli. Targetnya USD 1 miliar. Karena ini pasar baru, kita jajaki dulu. Walaupun mungkin offering-nya atau bidnya besar sekali, kita batasi dulu USD 1 miliar," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di kantor Kemenkeu, Selasa (22/7).

Apabila respons investor positif, kata Purbaya, pemerintah membuka peluang kembali menerbitkan Panda Bond dalam jumlah yang lebih besar beberapa bulan mendatang.

Purbaya juga menjelaskan Indonesia baru saja memperoleh peringkat AAA dengan outlook stabil dari Lianhe Credit Rating, salah satu lembaga pemeringkat di China.

"Di sana dilakukan oleh Lianhe Credit Rating. Kita keluar report-nya memberikan rating AAA stable. Jadi AAA itu yang paling tinggi di China peringkat utang kita itu yang mentok atas," kata Purbaya.

Purbaya menilai pasar obligasi China punya potensi besar karena didukung oleh likuiditas yang melimpah. Selama ini, China dikenal sebagai salah satu investor terbesar di pasar obligasi global.

"China merupakan pasar yang besar untuk surat utang. Dulu mereka punya surat utang pemerintah Amerika lebih dari USD 3 triliun. Sekarang memang turun mendekati USD 1 triliun, tapi jelas market mereka amat menjanjikan dan modal di sana amat besar," ungkap Purbaya.

Purbaya mengatakan Lianhe memberikan peringkat tertinggi kepada Indonesia dengan mempertimbangkan sejumlah faktor fundamental, di antaranya pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di atas 6 persen, dan rasio utang pemerintah yang masih rendah.

"Dengan rating AAA ini harusnya kita tidak terlalu sulit menerbitkan surat utang di sana," kata Purbaya.

Dalam penerbitan Panda Bond, pemerintah menunjuk Bank of China sebagai lead underwriter. Sementara ICBC, CITIC, CICC, dan DBS bertindak sebagai joint lead underwriter sekaligus joint bookrunner. Lalu, Agricultural Bank of China (ABC), China Construction Bank (CCB), Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), serta China Merchants Bank menjadi co-manager.

Purbaya menilai besarnya minat lembaga keuangan China untuk terlibat dalam penerbitan Panda Bond mencerminkan tingginya kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

"Respons dari China terhadap surat utang kita amat bagus," tutur Purbaya.