Kumparan Logo

Perang AS-Iran Mulai Ganggu Ekonomi Malaysia, PHK hingga Biaya Logistik Naik

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bendera Malaysia. Foto: Cloud_Yew/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Bendera Malaysia. Foto: Cloud_Yew/Shutterstock

Pemerintah Malaysia mulai melihat dampak ekonomi dari perang antara Amerika Serikat dan Iran terhadap sejumlah sektor industri domestik. Gangguan diperkirakan akan semakin terasa dalam beberapa bulan mendatang, terutama pada sektor penerbangan, perdagangan komoditas, dan logistik.

Menteri Ekonomi Malaysia Akmal Nasrullah Mohd Nasir mengatakan jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan meningkat 21 persen menjadi 7.057 orang pada April 2026 dibandingkan Maret. Meski angka pemutusan hubungan kerja (PHK) sempat lebih tinggi pada Januari dan Februari, pemerintah menilai perkembangan terbaru tetap perlu diwaspadai.

“Perkembangan ini patut mendapat perhatian,” kata Akmal dalam paparan pada Senin (25/5).

Tingkat pengangguran Malaysia tercatat sebesar 2,9 persen pada kuartal I 2026.

Dari sektor penerbangan, pergerakan pesawat harian pada April turun 31,5 persen setelah sejumlah rute ke Timur Tengah dibatalkan. Sementara itu, penanganan kargo udara internasional turun 14,3 persen dan kargo udara domestik merosot 18 persen seiring lonjakan biaya bahan bakar dan penyesuaian operasional maskapai.

Di sektor pertanian, volume perdagangan turun 14,7 persen pada kuartal I 2026. Penurunan ekspor terjadi pada sejumlah komoditas utama seperti kakao, karet, minyak sawit, lada, dan kayu.

Akmal memperkirakan ekspor sektor pertanian Malaysia akan menyusut sekitar 13,5 persen sepanjang tahun ini, sedangkan impor diperkirakan turun sekitar 3,3 persen.

Tekanan juga terjadi pada sektor logistik. Biaya pengiriman ke Timur Tengah melonjak 50-80 persen. Selain itu, biaya operasional perkebunan dan mesin naik hingga 30 persen, sedangkan biaya penanaman ulang karet meningkat sampai 55 persen.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan perombakan kabinet di Malaysia, Selasa (16/12/2025). Foto: Kantor Perdana Menteri Malaysia/HO/Antara

Kenaikan biaya juga dirasakan industri hilir sawit. Menurut Akmal, biaya produksi oleokimia sawit naik hingga 30 persen.

Sebelumnya, Akmal telah memperingatkan dampak krisis rantai pasok global terhadap ekonomi Malaysia diperkirakan akan lebih terasa pada kuartal III 2026.

Laju pertumbuhan ekonomi Malaysia sendiri mulai melambat sepanjang kuartal I 2026, dari 6,8 persen pada Januari menjadi 5,2 persen pada Februari dan kembali turun menjadi 4,1 persen pada Maret.

instagram embed