Kumparan Logo

Perang Bikin Harga Pupuk Melambung, Bank Dunia Ingatkan Risiko Ketahanan Pangan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pupuk urea. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pupuk urea. Foto: Shutterstock

Laporan Commodity Markets Outlook terbaru dari Bank Dunia atau World Bank Group memproyeksikan harga pangan global akan naik sekitar 2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 2026 dan meningkat tipis lagi pada 2027. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Bank Dunia menyebut, kenaikan harga pangan tahun ini relatif terbatas karena pasokan biji-bijian global masih melimpah sejak awal periode guncangan.

“Kenaikan harga pangan yang diperkirakan tahun ini relatif moderat, karena pasokan biji-bijian global yang melimpah di awal guncangan, yang berasal dari produsen yang tersebar luas," tulis laporan Bank Dunia, dikutip Rabu (29/4).

Meski begitu, tekanan harga akibat konflik diperkirakan paling terasa pada kelompok minyak nabati dan produk turunannya, yang juga menjadi bahan baku biofuel pengganti minyak.

“Di bawah asumsi dasar, tekanan harga pangan terkait konflik diperkirakan paling terasa pada minyak nabati dan produk turunannya, yang sebagian merupakan bahan baku umum untuk biofuel sebagai substitusi minyak.”

Sebagai contoh, harga minyak sawit dan minyak kedelai diproyeksikan masing-masing naik sekitar 8 persen pada 2026.

Meski begitu, dampak terhadap harga pangan kali ini dinilai lebih terbatas dibandingkan 2022. Saat itu, gangguan terjadi di wilayah produsen utama pangan global karena pandemi COVID-19.

“Dampak harga pangan kemungkinan lebih terbatas dibandingkan 2022, karena saat itu gangguan terpusat di wilayah produsen pangan utama, sementara kawasan Teluk memiliki peran yang lebih terbatas dalam perdagangan pangan," kata Bank Dunia.

Harga Pupuk Melonjak, Dipicu Kelangkaan Gas Alam

Ilustrasi tanker LNG. Foto: Stefan Dinse/Shutterstock

Sebaliknya, negara-negara yang terlibat konflik merupakan pemasok utama pupuk. Akibatnya, indeks harga pupuk diproyeksikan melonjak 31 persen (yoy) pada 2026.

Kenaikan ini terutama dipicu gangguan pasokan bahan baku, khususnya gas alam, yang berdampak besar pada produksi urea.

“Kenaikan harga tahun ini terutama mencerminkan gangguan pasokan bahan baku yang menyebabkan lonjakan harga urea hingga 60 persen, yang sangat bergantung pada gas alam.”

Sementara itu, kenaikan harga pupuk lain seperti potash diperkirakan lebih terbatas karena kebutuhan gas alamnya lebih rendah.

Meski kenaikan harga pupuk tahun ini besar, levelnya masih lebih rendah dibandingkan lonjakan pada 2008, 2021, dan 2022. Namun, lonjakan harga pupuk yang jauh melampaui kenaikan harga pangan diperkirakan akan memperburuk keterjangkauan pupuk.

“Dengan kenaikan harga pupuk yang jauh melampaui harga komoditas pangan, keterjangkauan pupuk diperkirakan memburuk tahun ini ke level terburuk sejak 2022, sehingga menekan margin keuntungan pertanian," tulis Bank Dunia.

Jika gangguan akibat konflik berlangsung lebih lama, risiko terhadap produksi pangan bisa meningkat.

Ilustrasi World Bank. Foto: Shutterstock

“Jika gangguan terkait perang berlangsung lebih lama dari asumsi, harga pupuk yang lebih tinggi dapat menurunkan hasil panen di beberapa wilayah dan mengancam ketahanan pangan," kata Bank Dunia.

Secara keseluruhan, indeks harga pertanian, yang mencakup minuman, pangan, dan bahan baku, diproyeksikan turun 6 persen pada 2026. Penurunan ini terutama dipicu oleh turunnya harga komoditas minuman. Sementara pada 2027, indeks harga pertanian diperkirakan relatif stabil

“Penurunan ini didorong oleh proyeksi penurunan tajam harga minuman, yang lebih dari mengimbangi penguatan harga pangan dan stabilnya harga bahan baku," tulis Bank Dunia.

instagram embed