Petrokimia Gresik Siapkan 219 Ribu Ton Pupuk Subsidi hingga Akhir 2026
·waktu baca 3 menit

PT Petrokimia Gresik, anak usaha PT Pupuk Indonesia, menyiapkan stok pupuk bersubsidi sebanyak 219.648 ton pada tahun ini. Perseroan memastikan tetap menjaga keberlanjutan produksi dan memastikan pupuk tetap tersedia bagi petani di tengah potensi gangguan logistik global.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, mengatakan perusahaan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis guna memastikan produksi pupuk tetap berjalan optimal selama musim tanam.
“Perubahan kondisi global dan potensi gangguan jalur logistik internasional menjadi perhatian industri pupuk dunia. Namun Petrokimia Gresik tetap berupaya optimal dalam memproduksi pupuk sehingga ketersediaan pupuk bagi petani tetap terjaga,” ujar Daconi melalui keterangannya, dikutip Kamis (14/5).
Langkah tersebut dilakukan melalui optimalisasi fasilitas produksi dan operasional perusahaan, penguatan stok pupuk bersubsidi, hingga dukungan jaringan distribusi nasional milik Pupuk Indonesia agar pupuk dapat tersalurkan tepat waktu kepada petani.
Selain menjaga operasional, perusahaan juga memperkuat langkah antisipasi terhadap gejolak global yang berpotensi mengganggu pasokan bahan baku industri pupuk.
Petrokimia Gresik melakukan diversifikasi negara asal pasokan phosphate rock, potash, dan sulphur, serta meningkatkan pemanfaatan suplai sulphuric acid dari produksi domestik. Perusahaan juga mengoptimalkan kontrak pengadaan jangka panjang dan mempercepat pengamanan stok bahan baku untuk kebutuhan enam hingga dua belas bulan ke depan.
“Di sisi operasional, Petrokimia Gresik memastikan kesiapan fasilitas produksi dan operasional perusahaan agar produksi pupuk tetap berjalan optimal untuk mendukung kebutuhan musim tanam nasional,” sebut Daconi.
Hingga 10 Mei 2026, stok pupuk bersubsidi yang dimiliki Petrokimia Gresik terdiri atas urea sebanyak 32.054 ton, NPK Phonska 166.324 ton, Petroganik 16.611 ton, ZA 2.720 ton, dan SP-36 sebesar 1.939 ton.
“Stok ini telah tersedia pada jaringan distribusi Pupuk Indonesia dan siap disalurkan kepada penerima di PPTS (Penerima Pupuk pada Titik Serah) sesuai ketentuan yang berlaku. Kami berharap petani tidak perlu khawatir, musim tanam April–September bisa dijalani dengan optimal,” ujar Daconi.
Di sisi lain, pemerintah juga terus melakukan pembenahan tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi guna mempermudah akses petani. Salah satu langkah yang dilakukan yakni penyederhanaan regulasi dari sebelumnya 145 aturan menjadi satu aturan induk melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi yang kemudian disempurnakan melalui Perpres 113/2025.
Pemerintah juga menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2025 sebagai aturan pelaksana. Daconi menilai, penyederhanaan regulasi ini turut mendorong tingginya penyerapan pupuk bersubsidi pada awal tahun. Hingga 10 Mei 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi nasional tercatat mencapai 3,46 juta ton atau sekitar 35 persen dari total alokasi tahun 2026 sebesar 9,85 juta ton. Angka itu meningkat 35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ia menambahkan, Pupuk Indonesia Group juga terus memperketat pengawasan terhadap penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi yang telah diturunkan pemerintah sebesar 20 persen untuk seluruh jenis pupuk bersubsidi.
Daconi turut mengimbau petani agar menebus pupuk melalui PPTS atau kios resmi guna memastikan produk yang diterima asli dan sesuai ketentuan.
“Petrokimia Gresik berkomitmen menjaga keberlangsungan produksi dan ketersediaan pupuk nasional di tengah tantangan global. Kami ingin memastikan kebutuhan pupuk petani tetap terpenuhi sehingga produktivitas pertanian nasional dapat terus terjaga,” tutur Daconi.
