Kumparan Logo

PHRI Bali Sebut Belum Ada Dampak Penerbangan Batal terhadap Hotel

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan imbas abu vulkanik Gunung Anak Krakatau beristirahat di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Senin (7/9/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan imbas abu vulkanik Gunung Anak Krakatau beristirahat di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Senin (7/9/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali menjelaskan kondisi okupansi hotel di sana, seiring banyaknya penerbangan pesawat yang batal utamanya dari Bandara Soekarno Hatta dan Halim Perdanakusuma. Saat ini, tingkat okupansi cenderung sama jika dibanding sebelumnya saat belum banyak pembatalan penerbangan.

Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menjelaskan hal itu karena saat ini wisatawan yang seharusnya sudah menginap masih tertahan di Jakarta sementara di Bali juga masih ada wisatawan asal Jakarta yang tertahan karena tak bisa terbang ke Jakarta.

Jadi yang rencananya check-in yang akan datang dari Jakarta juga ditunda di Jakarta, terus yang mau berangkat (ke Jakarta) juga tertunda, yang mau berangkat karena tidak ada penerbangan ke Jakarta tanggal 6 dan tanggal 7 ini. Sehingga dia memperpanjang tinggalnya. Itu yang terjadi, jadi hampir sama (tingkat okupansinya),” kata Rai saat dihubungi kumparan pada Senin (7/9).

Rai menjelaskan, tingkat rata-rata okupansi hotel di regional Bali masih stabil di kisaran 80 persen. Angka tersebut menurutnya masih cukup bagus.

“Jadi ada yang di daerah utara 60 persen, daerah timur 70 persen, ada 90 persen di daerah selatan, saya bicara okupansi regional,” ujarnya.

Ia juga berharap agar para wisatawan khususnya asal Jakarta yang tak bisa terbang melalui Bandara Soekarno Hatta maupun Halim Perdanakusuma untuk melakukan perancangan ulang penerbangan lewat bandara-bandara yang masih beroperasi. Selain itu, ia juga menyarankan bahwa jalan darat masih bisa menjadi opsi untuk berlibur ke Bali.

“Harapan kita yang ingin ke Bali untuk me-reroute tripnya melalui Jogja, atau Surabaya, atau jalan darat yang ingin berlibur,” kata Rai.

Sebelumnya, penerbangan di sejumlah bandara, mulai dari Bandara Soekarno-Hatta sampai Bandara Husein Sastranegara, masih ditutup hingga pukul 18.00 WIB hari ini (7/9). Berdasarkan NOTAM A3373/26 NOTAMR A3368/26 saat ini Bandara Radin Inten II, Lampung; Bandara Budiarto, Banten, Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Bandara Pondok Cabe, Banten, Bandara Muhammad Taufiq Kiemas, Lampung dan Bandara Husein Sastranegara, Jawa Barat memang ditutup sampai pukul 18.00 WIB nanti.

instagram embed

Selain itu, Kemenhub juga menyiapkan sejumlah bandara alternatif yang dapat digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi operasional penerbangan. Terdapat enam bandara yang dapat dijadikan alternatif, yakni:

  • Bandara Juanda di Provinsi Jawa Timur

  • Bandara Adi Soemarmo di Provinsi Jawa Tengah

  • Bandara Internasional Yogyakarta di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

  • Bandara Adisutjipto di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

  • Bandara Jenderal Ahmad Yani di Provinsi Jawa Tengah

  • Bandar Udara Internasional Kertajati, Jawa Barat.