Konten dari Pengguna

Pinjol dan Bayang-Bayang Generasi Tekor yang Terjebak Klik Instan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aurelia Melinda Nisita Wardhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi : Kemudahan akses digital jadi pintu masuk jerat pinjol dan judol bagi generasi muda. (sumber : Chatgpt.com)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi : Kemudahan akses digital jadi pintu masuk jerat pinjol dan judol bagi generasi muda. (sumber : Chatgpt.com)

Pinjol tumbuh pesat di Indonesia bukan tanpa sebab. Kemudahan akses, proses pencairan yang kilat, dan literasi keuangan masyarakat yang masih rendah menjadi kombinasi yang membuat pinjaman online melesat dalam beberapa tahun terakhir. Data terbaru OJK mencatat 146,5 juta pengguna pinjol dengan total utang tembus Rp102,7 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik keuangan. Ia potret generasi tekor yang tumbuh di tengah kemudahan klik dan notifikasi promo pinjaman yang datang tanpa diminta.

Di satu sisi, pinjol memang membantu inklusi finansial. Kelompok yang selama ini sulit menjangkau layanan bank konvensional kini punya akses dana darurat hanya dalam hitungan menit. Namun kemudahan yang sama juga membuka pintu darurat sosial-ekonomi: jebakan utang yang sulit dihentikan, kredit macet yang terus meningkat, dan maraknya pinjol ilegal yang tumbuh subur seiring kecanduan judi online.

Generasi Tekor Bukan Salah Diri Sendiri Semata

Tuduhan bahwa generasi tekor hanya generasi yang boros, malas, atau tidak bisa mengatur uang, terlalu mudah untuk diterima begitu saja. Anggapan semacam itu justru mengalihkan perhatian dari akar masalah yang sesungguhnya: sistem pinjol yang dirancang untuk membuat orang mengklik dulu, berpikir belakangan.

Coba perhatikan pola pinjol ilegal. Ia tidak menunggu orang datang mencari pinjaman. Ia mendatangi lewat SMS, iklan media sosial, bahkan komentar di akun publik figur. Prosesnya cepat, tanpa banyak verifikasi, seolah dirancang khusus untuk menembus pertahanan logis siapa pun yang sedang butuh uang mendesak. Demografi terbesar peminjam justru milenial dan gen Z, kelompok usia produktif dengan pengeluaran menengah Rp2,5 hingga Rp3,5 juta per bulan. Ini bukan kelompok yang tidak paham uang. Ini kelompok yang dihujani kemudahan sampai batas antara kebutuhan dan jebakan pinjol jadi kabur.

Rendahnya literasi keuangan memperparah situasi. Banyak generasi tekor tidak sempat membaca simulasi bunga, denda keterlambatan, atau skema penagihan sebelum menekan tombol "ajukan pinjaman". Ketika tagihan datang lebih besar dari perkiraan, jalan keluar yang tersedia justru sering kali pinjol lain, hingga jebakan utang berlipat menjadi lingkaran yang sulit diputus.

Efek dominonya bahkan bisa mengancam jiwa, bukan hanya penggunanya sendiri, tapi juga nyawa orang lain. Sebuah kasus pembunuhan pada Mei lalu jadi pengingat pahit. Dua sahabat sesama satpam, terjerat pinjol yang sama, berakhir dengan satu nyawa melayang hanya karena perselisihan soal tanggung jawab cicilan. Ini bukan lagi soal angka di laporan OJK. Ini soal bagaimana tekanan finansial digital bisa merusak relasi paling dekat sekalipun, sampai ke titik yang tidak masuk akal.

Cara Pandang yang Harus Diubah, Bukan Sekadar Regulasi

Ilustrasi: konseptual seseorang berdiri di persimpangan jalan, satu arah menuju jerat utang digital, satu arah menuju kendali diri (Sumber: Chatgpt.com)

Blokir nomor dan penutupan aplikasi pinjol ilegal memang penting. Kemkomdigi sudah memblokir ribuan nomor penipu. Namun langkah semacam ini seperti memotong satu kepala hidra: yang lain tumbuh lagi lewat jalur berbeda, dari luar negeri, lewat jaringan terkoordinasi yang lebih licin.

Yang sebenarnya perlu diubah adalah cara generasi tekor memandang uang, waktu, dan tekanan hidup itu sendiri. Selama pinjol dijual sebagai jalan pintas dari rasa cemas ekonomi, larangan administratif hanya akan jadi tambal sulam. Perlu ada keberanian mengakui bahwa krisis ini juga krisis kesehatan mental: keputusasaan, kendali diri yang lemah, dan tekanan sosial untuk terlihat mampu secara finansial.

Generasi tekor punya kesempatan menulis ulang ceritanya sendiri, bukan dengan berhenti pakai teknologi, tapi dengan belajar curiga terhadap kemudahan pinjol yang datang tanpa diminta. Setiap notifikasi pinjaman instan adalah undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya: siapa yang diuntungkan kalau tombol itu ditekan sekarang?

Ada juga pandangan bahwa solusi ada di tangan regulator dan platform semata, bukan individu. Sebagian dari pandangan itu masuk akal: platform memang wajib bertanggung jawab menyaring iklan pinjol dan bot semacam ini. Namun menyerahkan seluruh tanggung jawab ke pihak luar hanya membuat generasi tekor makin pasif menghadapi jebakan yang datang setiap hari ke saku celana mereka sendiri.

Generasi tekor tidak butuh dihakimi. Ia butuh diyakinkan bahwa kendali atas hidup finansialnya masih mungkin direbut kembali, satu keputusan kecil pada satu waktu: menutup notifikasi, mempertanyakan tautan, dan berhenti percaya bahwa jalan pintas selalu lebih murah daripada jalan panjang yang jujur.