PLN Retrofit PLTU Suralaya Unit 6-7, Bisa Gunakan Batu Bara Kalori Rendah

PT PLN (Persero) melakukan uji coba proyek peremajaan alias retrofit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di PLTU Suralaya Unit 6-7. Melalui proyek ini, pembangkit bisa menggunakan batu bara dengan nilai kalori rendah, untuk mengatasi pemadaman listrik bergilir terutama di wilayah Jawa.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan retrofit ini memungkinkan PLTU Suralaya unit 6-7 menyerap batu bara kalori rendah, yakni kisaran 4.100 sampai 4.200 kcal/kg GAR, dari sebelumnya 4.600-4.800 kcal/kg GAR.
"Kami sudah berhasil melakukan retrofit secara skala kecil pilot project di Suralaya dan berhasil dengan baik mengurangi kalori yang tadinya 4.600 menjadi 4.100-4.200, volume batu bara dengan kalori 4.100-4.200 sudah masuk dalam low rank coal," ungkapnya saat RDP Komisi XII DPR, Kamis (2/7).
Darmawan mengatakan penyesuaian ini di saat produksi batu bara nilai kalori tinggi mulai terbatas, sehingga Indonesia lebih banyak memproduksi batu bara kalori rendah. Selain PLN Indonesia Power dan PLN Nusantara Power, PLN juga mengimbau pembangkit swasta atau Independent Power Producer (IPP) melakukan hal yang sama.
"Pembangkit milik IPP ini, dalam PPA (Power Purchase Agreement) yang sudah ada, juga kita melihat kebutuhannya sebagian besar adalah pembangkit dengan batu bara tingkat menengah ke atas," imbuhnya.
Dia pun meminta maaf terkait fenomena pemadaman listrik bergilir beberapa waktu lalu, yang diklaim sudah tidak lagi terjadi sejak 21 Juni 2026. Hal ini karena ada tambahan pasokan batu bara kalori 4.500 kcal/kg GAR ke atas.
PLN mengamankan tambahan pasokan 1,8 juta ton batu bara untuk kebutuhan Juli 2026. Kemudian, untuk Agustus hingga Desember 2026, tambahannya mencapai 3 juta ton per bulan. Dengan demikian, totalnya mencapai 16,8 juta ton dan dapat memberikan tambahan daya mampu pasok 5 gigawatt (GW).
"Kami mohon maaf sebesar-besarnya terhadap masyarakat di mana ada ketidaknyamanan dengan adanya pemadaman bergilir. Kami di PT PLN bekerja all out untuk menyelesaikan persoalan ini," tegas Darmawan.
Darmawan mengungkapkan bahwa penguatan sistem ini akan dilaksanakan secara permanen, terutama dari sisi penyesuaian pasokan batu bara sesuai dengan kebutuhan pembangkit.
"Permasalahan mismatch antara produksi batu bara nasional yang didominasi dengan batu bara kalori rendah dan produksi batu bara kalori menengah dan tinggi semakin menipis, juga kami selesaikan dengan kita melakukan retrofit dengan pembangkit-pembangkit kami, sehingga ke depannya tentu saja kami betul-betul memastikan bahwa kondisi ini tidak akan berulang kembali," tuturnya.
Ditemui usai acara, Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, membuka peluang retrofit akan dilakukan di PLTU lain meskipun tidak menjelaskan dengan rinci.
"Nanti kita lihat yang lain-lain juga. PLTU-PLTU kita ini banyak yang sudah tua-tua. Jadi, kita lihat nanti untuk bisa meningkatkan kemampuan mereka menyerap dari batu bara-batu bara yang low-calorie," tuturnya.
Ke depannya, Rizal juga akan mengembangkan teknologi terbaru untuk mengurangi emisi yang dikeluarkan dari batu bara, apalagi dengan nilai kalori rendah yang lebih besar daripada kalori tinggi.
"Kita akan memperbaiki peralatan-peralatannya. Kemudian, boilernya apa segala macam kita lihat. Dulu kan pembangkit-pembangkit kita ini didesain untuk konsumsi yang high-calorie, sedangkan sekarang sudah batu bara yang low-calorie, kan mau tidak mau harus adaptasi, tandas Rizal.
