Kumparan Logo

PLTS-Mesin Pengering, Local Hero Pertamina Nyalakan Harapan Petani Saat Mendung

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos di Cilacap. Foro: Pertamina
zoom-in-whitePerbesar
Program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos di Cilacap. Foro: Pertamina

Dulu, warga Desa Mernek Jenek, Kabupaten Cilacap, harus menengadah ke langit untuk menentukan nasib hasil panennya. Matahari berarti harapan agar gabah cepat kering, sementara mendung bisa berarti padi harus kembali diselamatkan dari hujan. Namun, di desa itu, kini keringnya padi tak lagi hanya diharapkan datang dari langit.

Energi sinar matahari ditangkap oleh panel surya, disimpan, lalu digunakan untuk membantu mengeringkan padi melalui mesin pengering. Melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos, energi bersih menjadi jawaban atas persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan petani.

Suyitno merupakan penggerak para petani setempat, dengan memanfaatkan teknologi mesin pengering bernama Pinky Rudal untuk mengeringkan gabah menjadi lebih cepat dan meningkatkan hasil panen. Sebelum dikenal sebagai Local Hero Pertamina, ia adalah pedagang kecil yang memproduksi keripik tempe dari nol.

Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan desa, mulai dari BUMDes hingga kawasan wisata pertanian, kemudian membawanya pada persoalan yang jauh lebih besar, yakni bagaimana membantu petani menghadapi berbagai tantangan di kampungnya.

“Program DEB di desa kami itu yang pertama adalah mengeringkan padi yang Alhamdulillah sampai saat ini juga masih berjalan yang terutama untuk musim hujan, karena kalau musim hujan kan susah mengeringkan padi, jadi kita dengan Pertamina membuat inspirasi yaitu dengan adanya Pinky Rudal,” jelasnya saat berbincang bersama kumparan.

Inovasi yang digawangi Suyitno tersebut bernama pengembangan Kawasan Wisata Pertanian (Kawista) dan inovasi rice cycle dengan teknologi horizontal drying Pinky Rudal sebagai alat pengering padi. Program ini memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mendukung pompa hidroponik, pengering padi (rotary dryer), dan kawasan agrowisata.

Sebelum ada inovasi tersebut, para petani Desa Mernek Jenek mengalami keterbatasan akses pengering ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang berdampak pada kualitas hasil panen. Para petani kemudian terpaksa menjual padi yang masih basah dengan harga rendah, berimbas kepada rendahnya pendapatan petani.

“Sebelumnya kalau pengeringan padi kita jemur manual paling ya kalau di musim hujan tuh 4 sampai 5 hari baru kering. Nah kalau setelah ada Pinky Rudal, itu sehari langsung kering. Hematnya tuh di situ, cepat ,” jelas Suyitno.

Selain itu, Suyitno menyebutkan bahwa teknologi tersebut juga berhasil meningkatkan produktivitas hasil panen, menjadi sekitar 1.5 ton per hari. Inovasi ini juga bermanfaat untuk mengurangi aktivitas jemur padi di jalanan yang mengganggu aktivitas masyarakat.

PLTS tidak hanya menjadi berkah bagi operasional pengeringan padi. Suyitno menyebutkan bahwa terdapat kegiatan perkebunan hidroponik di dalam rumah kaca alias greenhouse yang dilaksanakan para ibu-ibu, yang juga mengandalkan energi bersih dari matahari.

“Alhamdulillah sampai saat ini PLTS masih sangat berguna, dan bukan hanya untuk Pinky Rudal saja, di sini juga kami ada greenhouse yang dikelola oleh ibu-ibu KWT, kita menanam buah melon, selada, hidroponik dan juga bayam,” tutur Suyitno.

Hasil panen perkebunan tersebut juga dijual langsung oleh kelompok Kawista, sehingga menambah pendapatan para anggota. Dari jasa pengeringan padi, hasil panen, sayur dan buah-buahan tersebut bisa meraup omzet sekitar Rp.20 jutaan setiap tahunnya. Potensi peningkatan pendapatan petani juga bisa mencapai diatas Rp.90 jutaan per tahun.

Selain menjadi petani, Suyitno sebelumnya juga berjualan keripik tempe yang ia produksi dan menjadi salah satu UMKM binaan Pertamina, sekaligus sudah aktif mengembangkan program Kawista dan melakukan edukasi kepada warga desa sekitar. Pada tahun 2019, ia akhirnya mengikuti kegiatan Cerdas Sadar Lingkungan dan dipilih menjadi Local Hero.

“Sempat juga dari desa-desa lain melihat bagaimana caranya menanam padi berbagai macam jenis, mereka bisa pilih jenis padi apa saja yang sekiranya bagus untuk ditanam di daerah mereka masing-masing,” tuturnya.

Ia bersyukur atas seluruh bantuan yang disalurkan melalui program DEB, selain pembangunan PLTS, juga termasuk sistem pengairan sawah, pompa vertikal, pupuk, hingga berbagai penunjang operasional greenhouse.

Seluruh dukungan tersebut, lanjut Suyitno, pun berdampak pada penghematan energi. Ia menyebutkan PLTS tersebut juga menyalurkan pasokan listrik untuk penerangan jalan di desanya, yang sebelumnya tidak ada sama sekali.

“Hemat waktu dan juga hemat biaya. Seumpamanya biaya kalau 1 ton ya kita bayar ke orang yang ngeringin padi itu Rp 100 ribu lah ya. Jadi lebih murah lah ya dibandingkan itu. Misalnya 100 kali 4 kan Rp 400 ribu. Tapi kalau dikeringkan sama Pinky Rudal kan 1 hari selesai,” ungkap Suyitno.

Ke depannya, Suyitno bahkan bermimpi menciptakan fasilitas olahraga yang layak bagi masyarakat Mernek Jenek. Ia tengah membangun sebuah lapangan untuk jogging track, yang nantinya juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan kemasyarakatan lainnya yang masih memegang erat sifat kekeluargaan dan gotong royong.

“Kami punya rencana, ini kan sedang pengurukan lapang untuk nanti dibikin jogging track, dan kami mempunyai keinginan dan permintaan kepada Pertamina untuk ke depannya bisa dikasih lampu-lampu di situ di sekeliling lapangan untuk kegiatan warga di Desa Mernek,” tandasnya.

Perjalanan itu mungkin masih panjang. Namun, perubahan yang dimulai dari panel-panel surya telah menunjukkan bahwa Desa Energi Berdikari bukan hanya soal membangun pembangkit.

Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan bahwa Pertamina melalui program DEB mencoba membangun ekosistem yang berkesinambungan.

"Ketika energi bertemu dengan pertanian, usaha warga, dan ruang publik. Dari padi yang kini tak lagi terlalu bergantung pada panas matahari langsung, program DEB di Desa Mernek Jenek sedang belajar bahwa kemandirian juga bisa dimulai dari cara baru memanfaatkan cahaya yang sama," ujar Baron.