Populer: Stok Masker Ludes Akibat Erupsi; BPS Bantah Desil Ubah Kemiskinan

Lonjakan permintaan masker akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Selasa (8/9).
Selain itu, terdapat penjelasan BPS mengenai perubahan desil kesejahteraan yang tidak memengaruhi angka kemiskinan. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
Erupsi Anak Krakatau Picu Lonjakan Permintaan, Stok Masker Langsung Ludes
Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu lonjakan permintaan masker jenis KN95 secara mendadak hingga 80 persen di sentra perdagangan Pasar Pramuka, Jakarta Timur.
Kenaikan drastis yang terjadi pada periode Minggu hingga Senin tersebut menyebabkan persediaan di tingkat retail maupun distributor habis total. Volume penjualan harian di beberapa toko dilaporkan melonjak tajam dari rata-rata 10 boks menjadi 100 boks per hari akibat peningkatan kesadaran proteksi kesehatan masyarakat.
Meskipun pasokan tersendat dan permintaan pasar sangat tinggi, para pedagang berkomitmen menjaga stabilitas harga dengan hanya menerapkan penyesuaian harga minor sekitar 10 persen atau berkisar Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per boks guna menghindari spekulasi pasar.
Di pasar fisik, harga masker KN95 dibanderol bervariasi mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 110.000 per boks tergantung pada merek produk. Sementara di platform e-commerce seperti Shopee dan TikTok Shop, produk sejenis dipasarkan pada rentang harga Rp 30.000 hingga lebih dari Rp 70.000 per boks dengan isi 50 buah.
BPS Tegaskan Perubahan Desil Tidak Menentukan Angka Kemiskinan
Badan Pusat Statistik (BPS) mengklarifikasi polemik mengenai perubahan posisi desil masyarakat dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Nashrul Wajdi, menegaskan bahwa pergeseran kelompok kesejahteraan ini tidak memiliki korelasi struktural terhadap penurunan angka kemiskinan secara nasional.
Hal ini dikarenakan kedua indikator tersebut menggunakan konsep, tujuan, serta metodologi pengukuran yang sangat berbeda.
Secara teknis ekonomi, desil membagi populasi ke dalam 10 kelompok kesejahteraan yang masing-masing merepresentasikan 10 persen dari total keluarga secara berurutan dari yang terendah hingga tertinggi.
Dinamika naik-turunnya posisi desil warga bersifat relatif dalam pengelompokan internal tersebut dan tidak serta-merta mengubah garis kemiskinan riil.
Sebagai ilustrasi, ketika angka kemiskinan nasional berada di level 8 persen, jumlah populasi miskin tersebut secara statistik akan tetap tercakup di dalam kategori desil 1 yang memiliki porsi 10 persen populasi terbawah.
