Kumparan Logo

Profil Bandara Riyadh yang Diserang Houthi: Dibangun 1983 & Layani 42 Juta Orang

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Foto: Fedor Selivanov/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Foto: Fedor Selivanov/Shutterstock

King Khalid International Airport (KKIA), bandara internasional yang melayani Riyadh, Arab Saudi, menjadi sasaran serangan di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Bandara ini merupakan salah satu infrastruktur transportasi udara utama Arab Saudi yang melayani puluhan juta penumpang setiap tahun.

Serangan terbaru pada Sabtu (10/10) dilaporkan menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Otoritas Saudi menyalahkan kelompok Houthi asal Yaman atas serangan tersebut. Namun, tanggung jawab Houthi atas insiden terbaru itu belum dikonfirmasi secara independen.

Di luar perkembangan konflik, KKIA memiliki skala infrastruktur dan aktivitas bisnis yang besar. Bandara ini terus mengembangkan kapasitasnya untuk mengakomodasi pertumbuhan lalu lintas penumpang dan memperkuat konektivitas penerbangan internasional.

King Khalid International Airport mulai beroperasi pada 1983. Berlokasi sekitar 35 kilometer dari pusat kota Riyadh, bandara ini memiliki kawasan seluas 225 kilometer persegi atau setara dengan 22.500 hektare.

Dikutip dari situs King Khalid International Airports, Minggu (10/10), infrastruktur bandara mencakup lima terminal penumpang utama, 40 jembatan penghubung penumpang ke pesawat, serta fasilitas parkir yang dirancang untuk menampung sekitar 11.600 kendaraan. KKIA juga memiliki dua landasan pacu paralel yang masing-masing memiliki panjang 4.260 meter.

Bandara ini melayani lebih dari 121 destinasi melalui jaringan maskapai domestik dan internasional. Besarnya kawasan dan infrastruktur tersebut menunjukkan peran KKIA dalam menopang aktivitas penerbangan di Riyadh, mulai dari perjalanan domestik dan internasional hingga konektivitas antardestinasi.

Dikelola Perusahaan Milik Negara

Kepulan besar asap hitam membubung dari area penyimpanan bahan bakar di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (19/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Operasional dan pengembangan KKIA berada di bawah Riyadh Airports Company (RAC), perusahaan pengelola bandara milik negara Arab Saudi yang didirikan pada 2016.

RAC merupakan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki Matarat Holding Company, badan usaha milik negara yang mengawasi perusahaan-perusahaan pengelola bandara di Arab Saudi.

"Riyadh Airports Company didirikan sebagai bagian dari program privatisasi dan restrukturisasi sektor penerbangan Arab Saudi. Perusahaan ini merupakan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki Matarat Holding Company, organisasi milik negara yang bertanggung jawab mengawasi perusahaan-perusahaan pengelola bandara di Arab Saudi," dikutip dari Riyadh Airports.

RAC juga menyatakan pembentukannya membantu mengarahkan pengelolaan bandara menuju model operasional yang berorientasi komersial, dengan fokus pada efisiensi, kualitas layanan, dan investasi.

Layani Lebih dari 40 Juta Penumpang per Tahun

Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Foto: Crystal Eye Studio/Shutterstock

Dari sisi lalu lintas penumpang, KKIA melayani lebih dari 40 juta penumpang per tahun. Pengelola bandara juga tengah meningkatkan kapasitasnya untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan perjalanan udara.

Dalam pengumuman pada Februari 2026, Riyadh Airports Company menyebut kapasitas total bandara ditargetkan meningkat dari 42 juta penumpang pada 2025 menjadi 56 juta penumpang pada akhir 2026. Target tersebut setara dengan peningkatan kapasitas sekitar 33,3%.

Penataan ulang operasional terminal menjadi bagian dari strategi ekspansi. Kapasitas Terminal 3 dan 4 ditargetkan meningkat dari 16 juta menjadi 25 juta penumpang per tahun.

Selain itu, kapasitas untuk penumpang transit dan penerbangan lanjutan diproyeksikan mencapai 7,5 juta penumpang per tahun.

Pengembangan tersebut ditujukan untuk meningkatkan konektivitas penerbangan domestik dan internasional, mengoptimalkan penggunaan infrastruktur, serta mengurangi waktu perpindahan penumpang.

Upaya tersebut juga sejalan dengan ambisi Arab Saudi memperkuat posisi Riyadh sebagai pusat penerbangan regional dan global dalam kerangka Saudi Vision 2030.

Kontribusi Ekonomi Capai SAR 22,5 Miliar

Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Foto: Crystal Eye Studio/Shutterstock

Peran KKIA tidak terbatas pada kegiatan penerbangan. Bandara ini juga berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi Riyadh melalui layanan transportasi, kegiatan komersial, dan penciptaan lapangan kerja.

Saudi Press Agency (SPA) melaporkan bahwa KKIA diperkirakan menyumbang sekitar 2,2% terhadap produk domestik bruto (PDB) Riyadh pada 2024, dengan nilai sekitar 22,5 miliar riyal Saudi atau SAR 22,5 miliar.

Bandara tersebut juga dikaitkan dengan hampir 66.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung.

Presiden General Authority of Civil Aviation (GACA) sekaligus Ketua Dewan Direksi Matarat Holding Company, Abdulaziz Al-Duailej, menyampaikan bahwa pengembangan terminal dan peningkatan kapasitas bandara mendukung efisiensi operasional serta peningkatan layanan penumpang.

"engembangan Terminal 1 dan 2 sebagai sebuah lompatan kualitatif dalam peningkatan fasilitas bandara," katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa kapasitas gabungan kedua terminal internasional tersebut meningkat dari sekitar 6 juta menjadi 14 juta penumpang per tahun.

Peningkatan itu setara dengan sekitar 133,3% dibandingkan kapasitas sebelumnya, sehingga kedua terminal tersebut dapat melayani lebih banyak penumpang.