Pupuk Kaltim Produksi 3,44 Juta Ton Pupuk hingga Semester I 2026

PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) memproduksi 3,44 juta ton pupuk hingga semester I 2026, atau sekitar 52,32 persen dari target produksi sepanjang tahun ini.
Direktur Utama Pupuk Kaltim, Rafli Yandra, mengungkapkan realisasi produksi hingga 30 Juni 2026 terdiri atas 1,85 juta ton urea, 165 ribu ton pupuk NPK, dan 1,42 juta ton amonia. Menurut Rafli, capaian ini menunjukkan konsistensi perusahaan dalam menjaga keandalan operasional demi memastikan ketersediaan pupuk bagi sektor pertanian nasional.
“Kami terus memaksimalkan kinerja produksi, agar kebutuhan pupuk nasional dapat terpenuhi tepat waktu dan tepat jumlah. Seluruh upaya tersebut bermuara pada satu tujuan, agar petani dapat memperoleh pupuk sesuai kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas,” kata Rafli melalui keterangannya, dikutip Jumat (17/7).
Ia menambahkan, realisasi tersebut juga mencerminkan kinerja operasional perusahaan yang tetap terjaga dalam mengejar target produksi sepanjang 2026. Dengan kapasitas produksi mencapai 3,43 juta ton urea, 300 ribu ton NPK, dan 2,74 juta ton amonia, ia optimistis mampu mempertahankan tren positif hingga akhir tahun. Optimisme itu turut didukung oleh pencapaian produksi pada 2025 yang mencapai 6,67 juta ton atau melampaui target yang ditetapkan.
Rafli menjelaskan, keberhasilan menjaga kinerja produksi didorong oleh penerapan Operational Excellence di seluruh lini bisnis. Strategi tersebut dilakukan melalui optimalisasi teknologi berbasis Smart Production, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan budaya keselamatan kerja untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kualitas produk secara berkelanjutan.
Perusahaan juga mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam kegiatan operasional. Pupuk Kaltim menilai peningkatan produksi harus berjalan seiring dengan efisiensi energi, penurunan emisi karbon, serta penguatan tata kelola perusahaan agar pertumbuhan bisnis tetap berkelanjutan.
Salah satu upaya itu juga diwujudkan melalui proyek strategis revamping Pabrik Amonia-2 yang rampung pada awal 2026. Proyek revitalisasi tersebut mampu menurunkan konsumsi gas sebesar 4 MMBTU per ton amonia atau lebih dari 10 persen dibandingkan sebelumnya, sekaligus memangkas emisi karbon hingga 110.000 ton CO2 per tahun.
Saat pabrik soda ash pertama di Indonesia mulai beroperasi, fasilitas tersebut diproyeksikan mampu menyerap hingga 174.000 ton CO2 per tahun. Selain itu, pihaknya juga tengah mengkaji pengembangan clean ammonia sebagai bagian dari upaya mendukung transisi menuju industri pupuk rendah karbon.
Ke depan, perusahaan menegaskan akan terus memperkuat kinerja produksi sekaligus memperluas implementasi prinsip keberlanjutan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan memperkokoh posisinya sebagai produsen pupuk yang efisien, andal, serta ramah lingkungan.
“Penerapan prinsip ESG bukan sekadar kepatuhan pada regulasi, melainkan bagian dari cara kami membangun bisnis yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan kinerja perusahaan senantiasa selaras dengan kelestarian lingkungan dan upaya mendukung ketahanan pangan,” tutur Rafli.
