Purbaya Mau Buyback Obligasi Lewat BSF, Apa Dampaknya ke APBN?
·waktu baca 4 menit

Intervensi pasar obligasi akan dilakukan pemerintah melalui Bond Stabilization Fund (BSF) untuk mencegah arus modal asing keluar atau capital outflow. Namun, hal ini dinilai bisa berdampak pada APBN dalam jangka panjang.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, mengatakan BSF bisa bermanfaat secara jangka pendek yakni menstabilkan harga obligasi, di mana pemerintah akan berperan sebagai pembeli ketika permintaan berkurang.
"Proyeksi jangka pendek saya pikir ini tentunya bisa bermanfaat dalam merendam volatilitas market, karena Bond establishment fund ini kan bisa berperan sebagai set by buyer ketika terjadinya capital outflow," jelasnya kepada kumparan, Kamis (14/5).
Menurut Nafan, hal ini bisa mencegah terjadinya kenaikan imbal hasil obligasi atau yield. Bahkan, BSF juga berfungsi untuk menjaga nilai tukar rupiah tidak terdepresiasi lebih jauh. Dengan begitu, secara jangka pendek, instrumen ini bisa menjadi sentimen positif untuk menjaga likuiditas pasar.
Hanya saja, dia menilai sentimen negatif diprediksi muncul secara jangka panjang, yakni salah satunya menjadi beban bagi keuangan negara. Pasalnya, dana untuk BSF kemungkinan disediakan melalui APBN.
"Masalahnya untuk jangka panjang, ini bisa menjadi fiscal burden. Itu risikonya. Kalau misalnya dikelola dengan efektif, tentunya BSF ini bisa memperkuat struktur pasar modal kita supaya tidak terlalu mengalami depresiasi yang signifikan," tutur Nafan.
Dengan begitu, Nafan menilai BSF harus dikelola dengan tepat dan efektif, serta harus dititikberatkan pada transparansi dan akuntabilitas. "Apalagi kalau misalnya BSF ini mengambil porsi besar dari APBN, nanti fleksibilitas fiskal pemerintah di sektor produktif lainnya bisa terganggu," imbuhnya.
Sementara itu, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai bahwa BSF bisa menjadi salah satu solusi menjaga stabilitas pasar obligasi atau Surat Utang Negara (SUN) di Indonesia di tengah terjadinya tekanan dari sisi internal maupun eksternal.
"Kementerian Keuangan bisa melakukan intervensi. Misalkan terjadi penurunan harga surat utang negara akibat capital outflow, akibat investor asing yang melakukan profit taking. Supaya harganya tidak anjlok, pemerintah bisa masuk ke situ," ungkapnya.
Dengan begitu, melalui pembelian kembali (buyback) atau pengalihan utang (debt switching), BSF dinilai dapat berdampak pada terjaganya harga obligasi dan nantinya bisa menurunkan imbal hasil atau biaya utang yang perlu dibayarkan pemerintah.
"Untuk jangka pendek ini bagus sih. Setidaknya pada saat ada pressure, yield dari surat utang negara itu tidak mengalami lonjakan signifikan, kalau yield melonjak dampaknya buat biaya utang itu jadi lebih mahal, meningkat," jelas Myrdal.
"Kalau biaya utangnya naik, pemerintah nanti bayar biaya utangnya lebih besar. Ini akan mempengaruhi juga post pembayaran fiskal untuk APBN, nanti pengaruhnya bisa ke primary balance-nya pemerintah," imbuhnya.
Lonjakan imbal hasil, lanjut Myrdal, juga bisa berdampak buruk pada sektor ril. Sebab, jika kenaikannya jauh di atas biaya penanganan deposit untuk bank, perbankan akan menggeser fungsi intermediari dari yang sebelumnya fokus untuk memberikan pinjaman ke sektor ril. Dengan begitu, BSF dinilai bisa menjaga iklim bisnis yang sehat.
Dia menuturkan, dengan terjaganya imbal hasil obligasi, BSF juga bisa menjaga kredibilitas obligasi nasional. Misalnya, dengan target imbal hasil SUN 10 tahun sesuai APBN sebesar 6,9 persen, intervensi pemerintah bisa menjaga lonjakannya tetap di bawah 7 persen.
"Saat terjadi market panic terutama dari faktor eksternal, yield kita itu bisa dijaga misalkan tadinya untuk 10 tahun 6,7 persen, bisa dijaga itu tidak melebihi 7 persen karena ada langkah stabilisasi yang dilakukan oleh pemerintah termasuk juga oleh BI. Jadi kredibilitas dari pasar kita juga bisa terjaga," tegas Myrdal.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah sedang mencoba intervensi pasar sekunder obligasi untuk mencegah arus modal asing keluar yang akan menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah semakin signifikan.
“Kita sedang ambil langkah untuk membantu memperkuat juga dari sisi bond market, mungkin kita coba lihat apakah kita bisa masuk untuk membantu apa nggak, tapi ke depan akan ada perbaikan,” jelasnya kepada awak media, Rabu (13/5).
Purbaya menilai, BSF akan membuat harga obligasi di Indonesia lebih stabil dan menarik bagi investor. Dia meyakini bahwa nilai tukar rupiah bisa menguat kembali.
“Kita ada masuk ke stabilize bond market kan, kalau bond tidak stabil orang itu menjual, takut capital loss yang keluar juga berkurang, itu hitungan saya. Apalagi kalau bond menguat menguat ada potensi capital gain selain itu mereka biasa dapetnya capital gain,” tuturnya.
