Refleksi Pribadi: Mengapa Lingkaran Pertemanan Saya Beralih ke Investasi Syariah

Mahasiswa Perbankan Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Afra Karimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, ada fenomena menarik yang secara konsisten saya amati dari lingkaran pertemanan terdekat. Jika beberapa tahun lalu obrolan nongkrong di kedai kopi seputar Jakarta hanya berkisar pada gaya hidup, rencana liburan, atau sekadar mengeluh soal pekerjaan, kini topik yang sering muncul di meja kami sedikit bergeser.
Banyak dari mereka, yang notabene adalah generasi muda pekerja kantoran dan pelaku usaha kreatif, tiba-tiba sibuk membicarakan portofolio investasi. Yang lebih mengejutkan, mayoritas dari mereka secara sadar memilih instrumen keuangan berbasis syariah, mulai dari Reksadana Pasar Uang Syariah hingga Sukuk Ritel.
Awalnya saya mengira ini hanya tren sesaat atau sekadar ikut-ikutan tren media sosial, tetapi setelah berdiskusi lebih dalam, saya menyadari bahwa ada pergeseran paradigma yang sangat fundamental tentang bagaimana generasi saya memandang uang dan masa depan finansial.
Jujur saja, dulu stigma yang melekat pada sistem keuangan syariah di kepala saya dan banyak orang lain cukup kaku dan ketinggalan zaman. Kita sering membayangkan antrean panjang di kantor cabang, birokrasi yang berbelit-belit, atau produk yang sangat terbatas hanya untuk kalangan tertentu yang memang aktif di organisasi keagamaan.
Namun, realitas yang saya dan teman-teman alami sekarang bertolak belakang seratus delapan puluh derajat. Transformasi digital telah meruntuhkan tembok tebal tersebut dengan elegan. Kini, membuka rekening atau mulai berinvestasi bisa dilakukan sambil rebahan di akhir pekan, hanya bermodal handphone dan koneksi internet. Desain aplikasi yang mulus, fitur yang ramah pengguna, hingga integrasi langsung dengan dompet digital membuat urusan finansial yang dulunya terasa menakutkan, kini berubah menjadi aktivitas yang menyenangkan dan terintegrasi dengan gaya hidup sehari-hari. Digitalisasi ini bukan sekadar tempelan kosmetik, melainkan fondasi kuat yang membuat anak muda akhirnya mau melirik dan mencoba.
Selain kemudahan teknologi, ada satu fitur digital yang diam-diam sangat memikat hati generasi muda, yaitu kemudahan beramal. Aplikasi perbankan dan investasi syariah kini tidak hanya berfungsi untuk menumpuk kekayaan pribadi, tetapi juga menyediakan fitur Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (Ziswaf) yang terintegrasi langsung.
Hanya dengan beberapa kali pencetan di layar, kita bisa menyalurkan sebagian kecil keuntungan investasi untuk membantu korban bencana atau membangun fasilitas umum. Bagi generasi yang sangat peduli pada dampak sosial, fitur ini adalah nilai tambah yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa sistem keuangan syariah tidak hanya fokus pada profit semata, tetapi juga menyeimbangkannya dengan tujuan sosial yang nyata dan berdampak.
Namun, semua kemudahan di atas hanyalah pintu masuk. Alasan utama kenapa teman-teman saya dan banyak generasi muda lainnya akhirnya bertahan dan terus menambah portofolio mereka terletak pada satu hal yang tak ternilai: ketenangan pikiran atau peace of mind.
Di era yang penuh dengan ketidakpastian dan krisis ini, generasi muda tumbuh dengan kesadaran yang tinggi terhadap etika dan dampak lingkungan. Kami tidak hanya peduli pada berapa banyak profit yang bisa didapat, tetapi juga dari mana uang itu berasal. Prinsip syariah yang menjauhkan diri dari praktik spekulatif, merugikan, dan bisnis yang merusak, diterjemahkan oleh kami sebagai bentuk investasi yang beretika.
Ada kepuasan tersendiri yang sulit dijelaskan ketika kita tahu bahwa uang yang kita kumpulkan tidak tumbuh dari cara-cara yang menindas orang lain. Menariknya, ini sejalan dengan tren global ESG (Environmental, Social, and Governance), di mana keuangan syariah sejatinya adalah pelopor investasi etis yang sesungguhnya.
Fenomena ini sebenarnya bukan hanya terjadi di lingkaran pertemanan saya saja, melainkan merupakan cerminan dari pergerakan ekonomi nasional yang lebih besar. Jika kita melihat data, tren ini memang sedang menanjak tajam dan masif.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks inklusi keuangan syariah terus menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun, didorong secara besar-besaran oleh demografi muda. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Data ini membuktikan bahwa apa yang saya lihat di lingkungan terdekat saya adalah representasi nyata dari literasi keuangan masyarakat yang semakin membaik dan terbuka.
Pada akhirnya, pengalaman mengamati lingkungan sekitar ini menyadarkan saya bahwa narasi lama tentang sistem keuangan syariah sudah tidak relevan lagi untuk dipertahankan. Ini bukan lagi soal pilihan alternatif atau sekadar kewajiban agama bagi segelintir orang.
Bagi kami, generasi yang tumbuh di tengah-tengah derasnya arus digitalisasi, memilih sistem yang adil, transparan, dan etis adalah sebuah pemikiran logis. Perbankan dan investasi syariah telah berhasil membuktikan bahwa mereka bisa tampil sangat modern tanpa harus kehilangan jati diri dan prinsip dasarnya.
Bagi saya pribadi, ini adalah kemenangan dari nilai-nilai kebaikan yang berpadu harmonis dengan inovasi teknologi, menciptakan masa depan finansial yang tidak hanya sejahtera secara materi, tetapi juga tenang secara spiritual dan berdampak positif bagi sesama.
