RI Bakal Groundbreaking Fasilitas Logam Tanah Jarang di Babel Pekan Depan
·waktu baca 2 menit

Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, mengungkap Indonesia akan memiliki fasilitas logam tanah jarang. Nantinya, fasilitas tersebut ditarget dapat mulai dibangun pekan depan.
Adapun nantinya proyek tersebut akan digarap PT Timah Tbk dengan menggandeng PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas).
“Iya, jadi itu masih dikebut terus, ya, nanti Perminas bersama dengan PT. Timah tentunya, saat ini sedang kita lakukan persiapan terus-menerus, ya. Kita kejar, di tanggal 20 minggu depan,” kata Brian ditemui di JCC, Jakarta, Selasa (12/5).
Terkait lokasi, nantinya fasilitas itu menurut Brian akan dibangun di Bangka Belitung
“Tapi memang tahun ini pasti akan mulai dibangun. Bukan (Mamuju) ini yang Bangka Belitung,” ujarnya.
Sebelumnya, PT Timah memang sudah menyambut baik pembentukan BIM yang akan mengelola potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) atau rare earth element di Indonesia.
Adapun perusahaan tersebut memang tengah mengembangkan Pilot Plant LTJ di Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saat ini, PT Timah juga tercatat telah menemukan potensi cadangan monasit sekitar 25.700 ton di wilayah Bangka Belitung.
Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian ESDM, dari total 28 lokasi mineralisasi logam tanah jarang yang telah teridentifikasi, baru sekitar sembilan lokasi atau 30 persen yang menjalani eksplorasi tahap awal. Sementara itu, sekitar 19 lokasi lainnya atau 70 persen belum tersentuh maupun belum dieksplorasi secara optimal.
LTJ terkandung dalam salah satu mineral ikutan timah, yakni monasit, yang terdiri dari 15 unsur dengan unsur dominan Cerium, Lantanum, Neodymium dan Praseodimium. LTJ juga mengandung Thorium yang dapat diolah menjadi sumber energi nuklir.
