Kumparan Logo

Rio Tinto Perluas Bisnis Trading, Mulai Jual-Beli Logam dari Produsen Lain

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Rio Tinto. Foto: Karolis Kavolelis/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Rio Tinto. Foto: Karolis Kavolelis/Shutterstock

Perusahaan tambang raksasa global Rio Tinto berencana memperluas bisnis pemasaran dan perdagangan logam dengan membeli dan menjual komoditas milik produsen lain. Perusahaan juga mulai mempertimbangkan penggunaan instrumen derivatif untuk mengelola risiko harga komoditas.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Chief Executive Officer (CEO) Rio Tinto, Simon Trott, untuk membuat bisnis perusahaan lebih fleksibel sekaligus meningkatkan keuntungan dari aset yang dimiliki.

Rio Tinto merupakan salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia dengan operasi yang mencakup bijih besi di Australia Barat, tembaga di Mongolia, hingga aluminium di Amerika Utara.

Selama ini, aktivitas perdagangan Rio Tinto lebih banyak berfokus pada pemasaran produk yang berasal dari tambangnya sendiri. Perusahaan kini ingin memperluas aktivitas tersebut dengan memperdagangkan komoditas dari pihak ketiga.

“Memasarkan hasil produksi dari operasi kami sendiri untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan mitra tetap menjadi dasar bisnis Rio Tinto. Bersamaan dengan itu, kami terus mengembangkan kemampuan untuk membeli dan menjual produk milik pihak ketiga,” kata Manajemen Rio Tinto dikutip dari Bloomberg, Kamis (24/9).

Rio Tinto menilai pengembangan bisnis perdagangan tersebut dapat membantu perusahaan memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur, mengoptimalkan penempatan produksi sendiri, serta memberikan lebih banyak pilihan bagi pelanggan.

“Kami melihat ini sebagai peluang untuk memberikan nilai tambah dengan memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur, mengoptimalkan penyaluran produksi kami, serta memberikan lebih banyak pilihan bagi pelanggan,” ujar Rio Tinto.

Fokus pada Alumina hingga Tembaga

Cerobong Garfield Smelter di fasilitas Kennecott milik Rio Tinto di Utah, Amerika Serikat. Foto: 365 Focus Photography/Shutterstock

Salah satu area yang menjadi perhatian Rio Tinto adalah perdagangan alumina. Perusahaan melihat adanya perbedaan kondisi pasokan di sejumlah wilayah, dengan beberapa pasar mengalami kelebihan pasokan sementara wilayah lainnya justru kekurangan.

Rio Tinto juga melihat peluang di pasar tembaga Amerika Utara. Perusahaan memiliki kapasitas peleburan yang belum sepenuhnya digunakan di fasilitas Kennecott.

Melalui pengembangan bisnis perdagangan tersebut, Rio Tinto berpotensi memperdagangkan katoda tembaga serta produk terkait seperti asam sulfat.

Selain memperdagangkan komoditas fisik, Rio Tinto juga terbuka untuk menggunakan instrumen derivatif keuangan sebagai lindung nilai terhadap posisi dan eksposur perusahaan.

Penggunaan derivatif tersebut ditujukan untuk mengelola risiko, bukan untuk mengambil taruhan terhadap arah pergerakan harga komoditas.

Rio Tinto tidak berniat mengubah bisnis perdagangannya menjadi perusahaan perdagangan komoditas mandiri seperti pemain besar di sektor tersebut. Pengembangan ini lebih diarahkan untuk meningkatkan keuntungan dari aset dan jaringan yang sudah dimiliki perusahaan.

Bisnis perdagangan Rio Tinto saat ini dipimpin Chief Commercial Officer Bold Baatar. Tim komersial perusahaan memiliki sekitar 20 trader dan berencana menambah beberapa orang lagi.

Rio Tinto sebelumnya telah memusatkan aktivitas komersialnya ke Singapura pada 2018. Langkah tersebut dilakukan ketika perusahaan berupaya mengejar ketertinggalan dari perusahaan tambang lain seperti BHP Group dan Anglo American yang telah memiliki bisnis pemasaran lebih mapan.

Namun, pengembangan tersebut sempat terhambat selama pandemi COVID-19.

Di bawah kepemimpinan Simon Trott yang menjadi CEO Rio Tinto pada tahun lalu, perusahaan telah menetapkan strategi untuk menyederhanakan bisnis, menjual sejumlah aset dan memangkas biaya. Pada saat yang sama, Rio Tinto juga berupaya meningkatkan keuntungan dari kegiatan operasionalnya.

Rio Tinto juga tengah berdiskusi dengan perusahaan perdagangan minyak Vitol Group mengenai pembentukan usaha patungan di bidang pengangkutan dan logistik. Kerja sama tersebut ditujukan untuk membantu menekan biaya pengangkutan.

Perusahaan tidak mengungkapkan kontribusi keuangan bisnis perdagangan tersebut. Namun, kinerjanya akan tetap diukur secara internal.

instagram embed