Kumparan Logo

Rupiah Diproyeksi Menguat Terbatas Pekan Depan ke Rp 17.842 per Dolar AS

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah uang kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping uang kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah uang kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping uang kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Nilai tukar rupiah diproyeksikan menguat terbatas pada perdagangan pekan depan. Pada penutupan Jumat (26/6), rupiah menguat 21 poin ke level Rp 17.922 per dolar AS.

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Myrdal Gunarto, memproyeksikan pergerakan rupiah berada di kisaran Rp 17.842 sampai Rp 17.952 per dolar AS.

Penguatan ini ditopang oleh masuknya kembali aliran dana asing (capital inflow) ke pasar keuangan domestik seperti saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) seiring meredanya tensi geopolitik global.

Namun, Myrdal mengingatkan bahwa penguatan tersebut akan tertahan oleh tingginya permintaan dolar AS pada akhir bulan untuk kebutuhan impor dan pembayaran bunga utang.

Di sisi lain, penurunan harga minyak dunia diperkirakan memberi sentimen positif terhadap neraca perdagangan Juni 2026 yang berpotensi surplus hingga 436 juta dolar AS.

Sementara itu, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif. Pada perdagangan Senin (29/6), rupiah berpotensi ditutup melemah di rentang Rp 17.920 hingga Rp 17.960 per dolar AS, sedangkan dalam sepekan diproyeksi bergerak antara Rp 17.880 hingga Rp 18.100 per dolar AS.

Sejumlah uang kertas rupiah Indonesia difoto di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026), setelah nilai tukar rupiah melemah hingga melampaui angka 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Menurut Ibrahim, pasar merespons positif langkah pemerintah yang mengefisienkan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menjaga stabilitas fiskal dan kepercayaan investor.

Langkah Bank Indonesia (BI) memperkuat intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar SBN juga menjadi jangkar penting bagi nilai tukar.

Jika pelemahan berlanjut, BI berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuan meskipun sudah menaikkannya sebesar 100 basis poin dalam dua bulan terakhir.

Dari faktor eksternal, pasar mencermati aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang mulai normal setelah gencatan senjata antara Iran dan Israel, meskipun volume kapal yang melintas masih di bawah rata-rata sebelum konflik.

Selain itu, pelaku pasar juga mengantisipasi rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed terhadap mata uang negara berkembang.

instagram embed