Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.529 per USD, BI Ungkap Penyebabnya
·waktu baca 3 menit

Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (12/5). Di tengah meningkatnya tekanan global dan tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp 17.529 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung.
Menurut dia, eskalasi konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global.
“Conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” kata Destry kepada kumparan, Selasa (12/5).
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya kebutuhan dolar AS di pasar domestik. BI mencatat kebutuhan valuta asing meningkat secara musiman untuk pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen perusahaan, hingga kebutuhan ibadah haji.
“Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dolar secara musiman seperti pembayaran ULN dan pembayaran dividen serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik,” ujarnya.
Di tengah tekanan tersebut, BI memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah yang ditempuh antara lain melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF).
Operasi Moneter Dimaksimalkan
Destry menegaskan bank sentral juga akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter guna meredam gejolak nilai tukar.
“BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah,” tutur dia.
Meski rupiah melemah, BI melihat kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan domestik masih cukup baik. Hal itu tercermin dari aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selama April 2026, aliran modal asing yang masuk ke kedua instrumen tersebut tercatat mencapai Rp 61,6 triliun.
Selain itu, BI juga memastikan likuiditas valuta asing di pasar domestik masih memadai. Hal itu tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas yang mencapai 10,9 persen secara year to date (ytd) pada akhir Maret 2026.
Ke depan, BI memperkirakan tekanan terhadap rupiah yang bersifat musiman akan mulai mereda sehingga nilai tukar dapat kembali bergerak sesuai fundamental ekonomi domestik.
“BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,” kata Destry.
