Konten dari Pengguna

Rupiah Melemah: Alarm Stabilitas atau Koreksi yang Wajar?

Husnul Khotimah MM MAk

Husnul Khotimah MM MAk

Dosen Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Husnul Khotimah MM MAk tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Petugas penukaran uang menunjukkan uang Rupiah di sebuah gerai penukaran mata uang di Jakarta (12/5/2026). Foto: Bay Ismoyo/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Petugas penukaran uang menunjukkan uang Rupiah di sebuah gerai penukaran mata uang di Jakarta (12/5/2026). Foto: Bay Ismoyo/AFP

Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan. Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah bergerak mendekati level psikologis Rp. 17.000,- per dolar AS. Data bi.go.id per tanggal 29 Mei 2026 menunjukkan bahwa kurs jual berada pada Rp. 17.877,94,- sedangkan kurs beli Rp. 17.700,-. Situasi ini memunculkan pertanyaan publik: Apakah pelemahan rupiah mencerminkan rapuhnya fundamental ekonomi Indonesia, atau sekadar dampak gejolak global yang bersifat sementara?

Pelemahan rupiah saat ini sejatinya tidak bisa dibaca secara parsial. Ada kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memengaruhi. Dari sisi global, penguatan dolar AS masih terjadi akibat tingginya suku bunga Amerika Serikat dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia. Reuters melaporkan bahwa sentimen negatif terhadap rupiah pada 2026 menjadi yang paling tinggi sejak 2022 karena kenaikan harga energi global dan arus modal keluar dari negara berkembang.

Kondisi tersebut membuat investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami tekanan.

Namun demikian, menyalahkan faktor global semata juga kurang tepat. Pasar tetap melihat faktor domestik sebagai variabel penting dalam menentukan kepercayaan terhadap rupiah. Persepsi terhadap konsistensi kebijakan fiskal, independensi bank sentral, hingga prospek investasi nasional turut menentukan arah nilai tukar.

Petugas keamanan melakukan penjagaan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Bank Indonesia sendiri menilai pelemahan rupiah belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. Gubernur BI, Perry Warjiyo, bahkan menyebut rupiah saat ini “undervalued” dibanding kekuatan ekonomi domestik.

Pandangan tersebut ada benarnya. Hingga kini, Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekonomi relatif stabil, inflasi terkendali, serta surplus perdagangan yang cukup baik. Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, juga menilai pelemahan rupiah tidak sepenuhnya sejalan dengan fundamental ekspor-impor dan daya saing Indonesia.

Meski begitu, pasar keuangan bekerja bukan hanya berdasarkan data fundamental, melainkan juga ekspektasi dan sentimen. Ketika muncul persepsi bahwa risiko fiskal meningkat atau arah kebijakan ekonomi kurang pasti, tekanan terhadap rupiah akan semakin besar.

Dalam konteks ini, pemerintah dan Bank Indonesia perlu menjaga komunikasi publik secara konsisten. Stabilitas rupiah bukan hanya soal intervensi pasar valas, melainkan juga soal menjaga kepercayaan investor. Intervensi BI di pasar spot dan Non-Deliverable Forward (NDF) memang penting untuk meredam volatilitas jangka pendek. Namun, yang lebih penting adalah memastikan bahwa pasar percaya terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Ilustrasi Rupiah melemah. Foto: Dokumentasi pribadi

Pelemahan rupiah juga harus menjadi momentum evaluasi terhadap struktur ekonomi nasional. Ketergantungan pada impor bahan baku, tingginya kebutuhan dolar untuk pembayaran utang dan impor energi, serta derasnya arus modal jangka pendek membuat rupiah rentan terhadap guncangan eksternal.

Karena itu, penguatan rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi moneter. Indonesia membutuhkan penguatan sektor riil, peningkatan ekspor bernilai tambah, hilirisasi industri yang konsisten, dan peningkatan kepercayaan investor melalui kepastian hukum serta reformasi birokrasi.

Pada akhirnya, pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan kurs. Ia adalah cerminan tingkat kepercayaan pasar terhadap daya tahan ekonomi nasional. Selama fundamental ekonomi dijaga dan kebijakan publik tetap kredibel, tekanan terhadap rupiah seharusnya bersifat sementara, bukan krisis berkepanjangan.

Yang perlu dihindari adalah kepanikan berlebihan. Sebab dalam ekonomi modern, sentimen sering kali lebih cepat melemahkan pasar dibanding data ekonomi itu sendiri.