Kumparan Logo

Rupiah Menguat ke Level Rp 17.693, Ekonom Ulas Faktor Pendorong dan Prospeknya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp 17.693 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (28/8). Meski begitu, penguatan ini dinilai belum mencerminkan perbaikan fundamental ekonomi Indonesia secara penuh.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai fundamental eksternal rupiah masih relatif rapuh. Hal ini dipicu lonjakan defisit transaksi berjalan kuartal II 2026 menjadi 3,34 persen PDB seiring penurunan surplus perdagangan dan membengkaknya defisit jasa.

“Jadi, cadangan devisa memang masih cukup besar, tetapi bantalan bersihnya menghadapi tekanan yang lebih besar dibandingkan awal tahun,” kata Josua kepada kumparan, Minggu (30/8).

Selain itu, penguatan rupiah sepanjang 2026 masih sangat bergantung pada arus modal asing berjangka pendek di instrumen SRBI yang mencapai 9,86 miliar dolar AS. Sementara pasar saham justru mencatat arus keluar sekitar 4,07 miliar dolar AS.

Josua menambahkan, pendorong utama rupiah saat ini lebih didominasi oleh faktor sentimen global, terutama pelemahan indeks dolar AS dan langkah stabilisasi Bank Indonesia melalui BI-Rate di level 5,75 persen.

“Karena itu, saya belum melihat Rp 17.600–Rp 17.700 sebagai level yang pasti dapat dipertahankan tanpa dukungan lanjutan dari pelemahan dolar global. Untuk saat ini, saya membaca Rp 17.693 sebagai penguatan yang sehat tetapi masih lebih banyak mencerminkan membaiknya kondisi pasar dan arus modal daripada perubahan fundamental eksternal Indonesia secara penuh,” jelasnya.

Pandangan senada disampaikan Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Ia menekankan bahwa pelebaran defisit transaksi berjalan dan terbatasnya pasokan devisa dari perdagangan membuat posisi rupiah masih rentan berbalik tertekan jika sentimen global berubah.

“Penguatan rupiah saat ini lebih tepat dibaca sebagai tekanan yang sedang mereda, bukan tekanan yang sudah selesai. Perbaikan fundamental baru akan lebih meyakinkan jika defisit transaksi berjalan mulai menyempit, cadangan devisa meningkat secara konsisten, dan arus modal jangka panjang semakin kuat,” tegas Yusuf.