Kumparan Logo

Rupiah Tertekan ke Rp 18.152 per Dolar AS, Ini Deretan Biang Kerok Pelemahan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah uang kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping uang kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah uang kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping uang kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Nilai tukar rupiah masih tertekan. Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (8/6), kurs USD/IDR tercatat berada di level Rp 18.152 per dolar AS atau melemah 116 poin (0,64%).

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pelemahan rupiah berpotensi menyentuh level Rp 19.000 per dolar AS pada akhir bulan ini.

"Kalau saya lihat dari kondisi saat ini level Rp 19.000 di akhir bulan ini kemungkinan akan tercapai,” ucap Ibrahim dalam keterangannya, Senin (8/6).

Menurut Ibrahim, salah satu faktor utama yang menekan rupiah berasal dari AS. Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan dinilai membuka peluang bank sentral AS mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

"Ini membuat Bank Sentral Amerika di bawah Kevin Warsh kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan akan menaikkan suku bunga satu kali dalam kuartal keempat,” kata Ibrahim.

Petugas penukaran uang menghitung uang dolar AS di sebuah gerai penukaran mata uang di Jakarta (12/5/2026). Foto: Bay Ismoyo/AFP

Ibrahim menilai kondisi itu membuat peluang penurunan suku bunga di AS semakin kecil, sehingga dolar AS tetap menjadi aset yang menarik bagi investor global.

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Hal ini dikhawatirkan berdampak terhadap neraca transaksi berjalan dan fiskal pemerintah.

Selain itu, dia menilai pasar juga tengah mencermati sejumlah faktor lain seperti inflasi yang meningkat, surplus neraca perdagangan yang mulai menyempit, hingga potensi perubahan status pasar saham Indonesia oleh MSCI.

Ibrahim pun menyoroti kekhawatiran sebagian investor terhadap berbagai program prioritas pemerintah yang membutuhkan anggaran besar, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan subsidi energi.

"Merosotnya mata uang rupiah di tengah keresahan investor atas apa? Atas banyaknya agenda yang agenda dari Presiden Prabowo yang begitu besar,” kata Ibrahim.

Presiden Prabowo Subianto tinjau program MBG di SDN Kedung Jaya 1 Bogor, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, Senin (10/2/2025). Foto: Cahyo/Biro Pers Sekretariat Presiden

Sementara itu analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dalam jangka pendek lebih dipengaruhi penguatan dolar AS pasca-rilis data ketenagakerjaan AS serta meningkatnya tensi geopolitik global.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan,” ucap Lukman.

Di sisi lain, kata Lukman, eskalasi konflik di Timur Tengah juga ikut mendukung dolar dan bakal menekan rupiah pada level Rp 18.000-Rp 18.150.