Satu Tahun Jadi Menkeu, Purbaya Ungkap Berat Badan Sempat Turun 14 Kg

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan berat badannya sempat turun drastis selama menjalani tugas sebagai Menteri Keuangan. Saat pertama menjabat pada September 2025, berat badan Purbaya mencapai 102 kilogram.
Kini, berat badannya berada di kisaran 97-98 kilogram. Namun, Purbaya mengaku sebelumnya berat badannya sempat turun sampai pernah menjadi 88 kilogram.
“Dukanya dulu lah nah pas jadi menteri (September 2025) saya 102 kg. Sekarang 97 kg atau 98 kg. Itu sudah recovery, sebelumnya turun sampai 88 kg. Berarti kerjanya emang berat di Kementerian Keuangan,” kata Purbaya di kawasan Sunter, Selasa (8/9).
Menurut Purbaya, tekanan selama tahun pertama menjabat Menkeu tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan rutin di Kementerian Keuangan. Dia juga harus menghadapi kondisi ekonomi dan menjaga kepercayaan masyarakat setelah terjadi gejolak pada awal masa jabatannya.
Purbaya mengatakan salah satu strategi yang diterapkannya adalah membangun ekspektasi positif terhadap perekonomian. Dia menyebut pendekatan tersebut sebagai self-fulfilling prophecy, yakni kondisi ketika ekspektasi terhadap ekonomi dapat mempengaruhi perilaku pelaku ekonomi dan pada akhirnya mendorong kondisi sesuai ekspektasi tersebut.
“Ya terpaksa ya omong gede. Itu yang dibilang orang sombong, itu purbaya sombong banget. Itu bukan sombong tapi desain untuk membentuk ekspektasi ke depan ke arah yang positif,” ujarnya.
Dia menjelaskan, optimisme terhadap perekonomian dapat mendorong investor untuk berinvestasi, masyarakat untuk berbelanja, dan perusahaan untuk melakukan ekspansi. Sebaliknya, ekspektasi negatif dapat membuat pelaku ekonomi menahan aktivitasnya sehingga pertumbuhan semakin melambat.
Menurut Purbaya, tantangan tersebut menjadi bagian dari upayanya mengembalikan kepercayaan masyarakat setelah Indonesia mengalami perlambatan ekonomi. Dia menilai kondisi ekonomi Indonesia kini mulai menunjukkan perbaikan.
Meski pertumbuhan ekonomi belum mencapai target 6 persen, Purbaya menilai Indonesia sudah mulai keluar dari pola pertumbuhan di kisaran 5 persen. Dia optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2026 dapat mendekati 6 persen.
“Jadi walaupun ekonomi Indonesia sekarang belum lari kenceng-kenceng amat. Tapi sudah keluar, saya pastikan sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5 persen,” kata dia.
Purbaya menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39 persen, kemudian 5,61 persen pada kuartal I 2026 dan melambat menjadi 5,29 persen pada kuartal II 2026.
Dia mengatakan perlambatan pada kuartal II dipengaruhi gangguan global. Namun, menurutnya, mesin pertumbuhan ekonomi mulai bergerak kembali, ditandai dengan mulai bergeraknya sektor swasta dan tetap berjalannya belanja pemerintah.
“Walaupun kita tahu masih banyak ada kendala-kendala yang membuat kita belum tumbuh secara optimal. Tapi yang penting adalah saya sudah bisa melihat mesin pertumbuhan mulai bergerak,” ujarnya.
“Sektor swasta mulai bergerak pelan-pelan, lebih cepat dari sebelumnya. Pemerintah juga berjalan dengan baik. Harusnya sih kalau ini dijaga terus, ya pertumbuhan 6 persen gak terlalu jauh untuk kita lihat dalam waktu tidak terlalu lama,” lanjut Purbaya.
Bagi Purbaya yang memiliki latar belakang ekonom, perkembangan tersebut menjadi salah satu hal yang membuatnya menikmati pekerjaannya sebagai Menkeu. Dia mengatakan kesempatan menguji teori ekonomi secara langsung melalui kebijakan pemerintah menjadi pengalaman yang menarik.
“Terus kalau sukanya sukanya kalau untuk ilmuwan seperti saya, ekonom kan ilmuwan ya. Itu paling menarik adalah ketika kita bisa menguji teori-teori di lapangan langsung,” tuturnya.
Dia menilai hasil dari sejumlah kebijakan mulai terlihat pada stabilitas ekonomi dalam setahun terakhir. Meski masih terdapat protes dan keresahan di masyarakat, Purbaya mengatakan pemerintah terus berupaya menjaga persepsi publik terhadap kondisi perekonomian.
“Tapi yang sulit itu tadi, bukan jurusnya, jurusnya gampang, itu-itu aja. Sekarang merepel, ini-ini.Tapi melawan ekspektasi publik, atau ekspektasi, cerita-cerita negatif yang dikembangkan oleh orang-orang yang tidak terlalu yakin akan arah ekonomi kita,” pungkasnya.
