Sempat Anjlok, Ini Penyebab Harga Emas Global Kembali Melesat

Harga emas dunia kembali menguat setelah sempat tertekan pada sesi sebelumnya. Penguatan ini dipicu oleh sinyal Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan bahwa aksi militer di Timur Tengah tidak akan berlangsung berkepanjangan, sehingga kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi mulai mereda.
Mengutip laporan Bloomberg, Kamis (3/9), harga emas spot naik hingga 1,2 persen menembus USD 4.430 per troy ons. Sehari sebelumnya, harga emas juga menguat lebih dari 1 persen sekaligus mengakhiri tren penurunan selama tiga hari berturut-turut.
Pada Kamis (3/9) pukul 11.46 waktu Singapura, harga emas spot tercatat menguat 1 persen ke level USD 4.427,09 per troy ons. Kenaikan ini turut diikuti oleh perak yang menguat 1 persen menjadi USD 65,94 per ons, serta kenaikan harga pada platinum dan paladium.
Sebelumnya, eskalasi konflik sempat memicu kekhawatiran lonjakan inflasi yang menekan harga emas, mengingat logam mulia merupakan aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset).
Sepanjang tahun ini, pergerakan harga emas cenderung fluktuatif.
Setelah mencetak rekor tertinggi pada Januari, harga emas sempat terkoreksi selama empat bulan berturut-turut hingga Juni sebelum akhirnya kembali merangkak naik.
Aksi Beli
Selain konflik Timur Tengah, harga emas tertopang oleh aksi beli berlanjut dari sejumlah bank sentral dunia serta proyeksi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyatakan pada Rabu (2/9) bahwa inflasi berangsur mereda, dampak tarif mulai berkurang, dan kenaikan harga energi belum merembet ke sektor jasa.
Pernyataan tersebut meredakan ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga agresif, didukung oleh data penyerapan tenaga kerja AS periode Agustus yang tumbuh lebih moderat.
"Pasar, mulai dari emas hingga obligasi, kini semakin rentan terhadap pergerakan dua arah dengan amplitudo yang lebih besar," ujar Ahli Strategi Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC), Christopher Wong.
Wong menambahkan, fokus investor saat ini tertuju pada rilis data ekonomi AS jelang pertemuan FOMC pertengahan September, termasuk laporan ketenagakerjaan pada Jumat.
Pidato hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pekan lalu kian menegaskan bahwa rilis data ekonomi mendatang akan menjadi penentu utama arah kebijakan moneter jangka pendek.
