Setelah 15 Tahun, Gaji Menteri di Singapura Naik 9 Persen

Para menteri di Singapura, yang masuk dalam jajaran pejabat dengan gaji tertinggi di dunia, akan mendapatkan kenaikan gaji 1 kali hingga 9 persen. Kebijakan ini memicu sorotan terhadap sistem penggajian yang selama ini sensitif secara politik di negeri singa itu.
“Gaji politik adalah isu yang sulit dan emosional...pada akhirnya ini menyangkut apakah Singapura akan terus memiliki kualitas kepemimpinan politik yang kita perlukan untuk membawa negara kita maju,” kata Perdana Menteri Lawrence Wong dalam sidang parlemen pada Selasa (8/9), dikutip dari Bloomberg.
Penyesuaian gaji tersebut akan bergantung pada kondisi masing-masing individu, termasuk kinerja, dan mulai berlaku pada 15 Oktober. Seorang menteri tingkat awal dapat menerima kenaikan hampir SGD 100.000 atau sekitar Rp 1,39 miliar (kurs Rp 13.930). Sehingga pendapatan tahunannya menjadi sekitar SGD 1,2 juta atau Rp 16,72 miliar.
Wong mengaku akan menyumbangkan seluruh kenaikan gaji hasil penyesuaian tersebut selama 5 tahun ke depan, dengan asumsi ia masih menjabat sebagai perdana menteri.
Saat ini, Wong menerima gaji sebesar SGD 2,2 juta per tahun, yang menempatkan pemimpin Singapura tersebut sebagai salah satu pejabat politik dengan bayaran tertinggi di dunia.
Jika dibandingkan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menerima USD 400.000 per tahun, sementara presiden Swiss digaji sekitar USD 600.000/tahun.
Singapura telah lama menerapkan gaji tinggi bagi pejabat politik untuk menarik orang-orang yang kompeten ke dalam pemerintahan sekaligus mengurangi risiko korupsi.
Namun, sistem tersebut tetap sensitif secara politik di tengah meningkatnya kekhawatiran ekonomi, terutama ketika Wong berupaya menarik lebih banyak talenta dari sektor swasta ke dunia politik. Sebelumnya Singapura telah membekukan kenaikan gaji pejabat politik selama 15 tahun terakhir.
Pada 2012, gaji tahunan para pemimpin pemerintahan dipangkas lebih dari 30 persen menyusul kemarahan publik terkait gaji menteri dan kesenjangan yang semakin melebar dalam pemilu 2011.
Perdana Menteri pertama Singapura, Lee Kuan Yew, kerap membela tingginya gaji pegawai negeri. Dalam autobiografinya yang berjudul “From Third World to First”, ia berpendapat menteri dan pejabat publik yang digaji terlalu rendah telah menghancurkan banyak pemerintahan di Asia.
Wong mengatakan, meski gaji para pejabat politik tidak berubah, upah di sektor lain telah meningkat, sehingga pemerintah semakin sulit menarik talenta dari sektor swasta.
“Jika kita ingin sistem politik kita tetap efektif, kita tidak bisa membiarkan ketentuan dasar pengabdiannya semakin lama semakin jauh dari kenyataan,” ujar Wong.
