Kumparan Logo

Stasiun MRT dan Revitalisasi: Saatnya Kota Tua Tak Sekadar 'Tua'

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana kawasan Kota Tua, Jakarta Utara. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kawasan Kota Tua, Jakarta Utara. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

Jakarta punya gedung-gedung pencakar langit untuk menunjukkan wajah metropolitannya. Tetapi untuk menunjukkan dari mana kota ini berasal, Jakarta masih punya Kota Tua. Kawasan di mana jejak peninggalan Batavia, pecinan, dan masa depan bertemu.

Namun, di antara bangunan tua dan lorong-lorong bersejarah itu, PT MRT Jakarta (Perseroda) membayangkan sesuatu yang berbeda, kawasan yang lebih hidup, modern, dan punya alasan baru untuk didatangi.

Melalui konsep placemaking, perusahaan siap mengembangkan Kota Tua sebagai kawasan berorientasi transit (TOD) baru. Jika Blok M telah menemukan identitasnya sebagai wadah anak muda yang ekspresif, Kota Tua akan membawa karakter yang berbeda, namun tak kalah skena.

Division Head Business Planning and Expansion Division PT MRT Jakarta, Samuel Ryan Pradipta Pranowo, mengatakan Kota Tua akan menjadi objek revitalisasi selanjutnya seiring dengan perpanjangan jalur MRT lintas selatan-utara Fase 2A, dari Stasiun Bundaran HI menuju Kota Tua.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, Samuel Ryan Pradipta Pranowo, saat kelas MRTJ Fellowship 2026, Rabu (9/8/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

“Area Kota Tua akan kami revitalisasi juga, mudah-mudahan tetap hidup dengan mempertahankan identitas heritagenya. Jadi heritage Chinatown, Little Amsterdam itu tidak hilang, tapi tetap areanya akan dibuat hidup dengan kombinasi retail, komunitas dan lain sebagainya,” jelasnya saat kelas MRTJ Fellowship Program 2026, Rabu (9/9).

Samuel menegaskan bahwa Kota Tua tidak akan diminta melupakan masa lalunya untuk menyambut masa depan. Jejak pecinan di Glodok, riuh perdagangan elektronik, bangunan dan nuansa kolonial Belanda diharapkan menjadi alasan wisatawan lebih betah menghabiskan waktu di Jakarta.

Pasalnya, dia mencatat waktu tinggal wisatawan di Jakarta saat ini rata-rata 3 hari 2 malam. Meski waktu tinggal ini sudah lebih lama dari rata-rata sebelumnya yang hanya 1 malam, sebelum para pelancong akhirnya bergeser ke kota lain seperti Bali atau Bangka Belitung.

“Kenapa kita enggak naikin jadi stay di Jakarta lamaan dikit, 3 hari, 4 hari. Salah satunya mengeksplor dulu Kota Tua. Nah, ini yang sebetulnya lagi didorong sama Pemerintah Provinsi Jakarta, supaya turisme Jakarta itu hidup dengan destinasi, atau Destination Tourism,” jelas Samuel.

Kota Tua: Perpaduan Masa Lalu dan Masa Depan

Samuel menjelaskan bahwa ‘jiwa’ yang akan dibangkitkan di kawasan Kota Tua, sebagai salah satu kawasan TOD di sekitar Stasiun MRT, yakni kombinasi antara ornamen sejarah dan futuristik.

Dalam konsep placemaking yang dikembangkan MRT Jakarta, kendati wajah lama Kota Tua akan tetap menjadi pondasi, namun pecinan tetap pecinan, dan Glodok tetap Glodok, yang terkenal sebagai pusat perbelanjaan elektronik, baik bekas maupun baru.

“Ada yang futuristik banget, ada yang heritage yang banget, jadi dua sisi berlawanan tapi digabung jadi satu. Identitas Glodok itu akan tetap ada jadi sentra elektronik yang hidup kembali, interaksi fisik akan dipertahankan jadi identitas di sana. Tapi pastinya akan ada tema baru,” tuturnya.

Pintu masuk kawasan pecinan Glodok Pancoran, Jakarta Utara. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

Sementara untuk memperkuat pondasi wisata sejarah, MRT Jakarta akan mengembangkan sebuah penjenamaan kawasan yakni Little Amsterdam, menyusul kesuksesan Blok M yang saat ini tidak bisa lepas dengan identitas Little Tokyo.

Selain dengan bangunan peninggalan VOC yang memang sudah eksis sejak zaman kolonial, identitas tersebut akan diperkuat dengan menggandeng berbagai komunitas, seniman, pemangku kepentingan seperti Dinas Kebudayaan. Salah satunya dengan memperkuat peran museum yang dirancang tetap relevan dengan masa kini.

“Untuk pengembangan placemaking ke depannya, ada satu mix yang akan masuk memang yaitu museum. Jadi kita berharap ada satu museum, mungkin bisa sejarah, tapi bisa juga museumnya nanti yang lebih modern,” ungkap Samuel.

Suasana Museum Fatahillah di kawasan Kota Tua, Jakarta Utara. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

Samuel menyebutkan, seni dan industri kreatif menjadi warna lain yang ingin dibawa ke kawasan tersebut. Pameran seni, kegiatan komunitas, aktivitas perfilman, hingga kemungkinan hadirnya studio-studio film baru dapat menjadi bagian dari kehidupan Kota Tua.

Dia mencontohkan komunitas yang akan ikut serta seperti Jakarta Film Committee yang diketuai oleh Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno. Melalui revitalisasi ini, diharapkan Kota Tua dapat menjelma sebagai wadah pengembangan sinema, pameran seni, sekaligus pariwisata.

“Itu supaya Kota Tua memiliki visi sendiri, karena Blok M sudah skena, Kota Tua berbeda lagi identitasnya,” tegas Samuel.

Foto udara pembangunan proyek MRT Fase 2 segmen CP203 Glodok - Kota di Kawasan Glodok, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Pedestrian juga menjadi salah satu bagian penting dalam konsep placemaking Kota Tua. Kawasan ini, kata Samuel, diarahkan untuk semakin ramah bagi pejalan kaki tanpa terus-menerus berhadapan dengan kendaraan bermotor. Bahkan, ia membuka potensi adanya jalur trem yang bebas emisi.

“Pun nanti Kota tua juga sama, akan ada area yang hanya ada pedestrian, bahkan mungkin ada kereta trem yang dia hanya bisa maju-mundur, dan di situ car-free emission zone. Jadi enggak boleh ada kendaraan bermotor supaya enggak polusi,” ujar Samuel.

Untuk mempertahankan masa lalu, bukan berarti Kota Tua harus berhenti di masa lalu. Di balik bangunan-bangunan dan warisan bersejarah, MRT Jakarta membayangkan hadirnya wajah yang jauh lebih modern.

Ruang retail dan komunitas akan berdampingan dengan kawasan bersejarah. Seni dan industri kreatif bisa mengambil tempat. Museum tidak hanya menjadi ruang untuk menyimpan artefak, tetapi juga dapat dikembangkan dengan konsep yang lebih memanusiakan manusia.

instagram embed