Kumparan Logo

Super El Nino Bikin Musim Hujan Mundur, Ini Antisipasi Kementan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah warga mengumpulkan bantuan air bersih gratis dari BPBD di wilayah yang dilanda kekeringan saat musim kemarau, di tengah ancaman fenomena El Nino, di desa Rido Galuh, Kabupaten Bekasi, Indonesia, Kamis (16/7/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga mengumpulkan bantuan air bersih gratis dari BPBD di wilayah yang dilanda kekeringan saat musim kemarau, di tengah ancaman fenomena El Nino, di desa Rido Galuh, Kabupaten Bekasi, Indonesia, Kamis (16/7/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan periode 2026/2027 akan mengalami kemunduran. Meski begitu, Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan panen dan produksi beras nasional tahun depan tetap aman dan terkendali.

Plt. Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Gunawan, menjelaskan meski musim hujan diprediksi melambat, pihaknya telah mengantisipasi kondisi tersebut melalui early warning system yang matang, sehingga optimistis pasokan beras tidak akan terganggu.

"Terkait proyeksi BMKG mengenai pergeseran awal musim hujan, Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian menegaskan bahwa kesiapan panen dan produksi beras nasional untuk tahun depan tetap aman dan terkendali," kata Gunawan kepada kumparan, dikutip Kamis (24/9).

Sebagai langkah antisipasi, Gunawan menyebut Kementan tengah gencar memanfaatkan pompanisasi secara masif.

Ribuan unit pompa air telah disebar ke wilayah sentra produksi padi, guna memastikan lahan pertanian tetap mendapat pasokan air yang cukup dari sumber air permukaan atau sungai terdekat, meski hujan datang lebih lambat. Dengan cara ini, indeks pertanaman (IP) diharapkan tetap terjaga.

Selain pompanisasi, optimalisasi lahan rawa dan bendungan juga terus dilakukan.

Petani membersihkan rumput di lahan sawah yang mengalami kekeringan di Desa Pematang Bangsal, Kecamatan Pemulutan Selatan, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Kamis (6/8/2026). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO

"Kami memaksimalkan pengelolaan air di lahan rawa (program oplah) serta mengoptimalkan distribusi air dari bendungan-bendungan strategis yang telah dibangun pemerintah. Langkah ini membuat pertanian kita tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pola hujan alami," ujar Gunawan.

Di sisi lain, Kementan turut menyiapkan benih unggul yang tahan kekeringan untuk menghadapi fase transisi cuaca ini.

"Kami memprioritaskan penyaluran benih padi varietas unggul yang memiliki karakteristik berumur genjah (cepat panen) serta toleran terhadap cekaman kekeringan (drought-tolerant)," kata Gunawan.

Sebagai langkah terakhir, percepatan tanam juga terus digencarkan, khususnya di wilayah-wilayah yang pasokan airnya masih mencukupi.

"Kami mendorong para petani untuk segera melakukan percepatan tanam (pumping and planting) agar momentum panen tahun depan tetap terjaga sesuai jadwal dan target," ujarnya.

Sebelumnya, BMKG memprediksi awal musim hujan periode 2026/2027 di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dari rerata klimatologisnya. Kondisi ini dipicu oleh fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat, ditambah Indian Ocean Dipole (IOD) di perairan sekitar Indonesia.

Ilustrasi BMKG. Foto: Thrive Studios ID/Shutterstock

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 Samudra Pasifik pada akhir Agustus 2026 tercatat sebesar +2,83, dengan nilai indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) sebesar +2,63—mengindikasikan El Nino dalam kategori sangat kuat.

Sementara di Samudra Hindia, indeks IOD pada Agustus tercatat +0,376 dan berpeluang bergerak menuju fase positif hingga akhir tahun.

"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," kata Faisal.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan awal musim hujan di Indonesia tidak akan terjadi secara bersamaan di seluruh wilayah.

"Sebagian besar wilayah baru akan mengawali musim hujan pada bulan November 2026 (185 ZOM/24,66 persen wilayah) dan Desember 2026 (266 ZOM/17,31 persen wilayah)," ujarnya.

Wilayah yang diperkirakan mengalami awal musim hujan pada November di antaranya sebagian Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan.

Sementara itu, musim hujan pada Desember diperkirakan dialami sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian besar Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.