Kumparan Logo

Tak Hanya Kuala Lumpur, Sarawak dan Sabah Juga Incar Peningkatan Potensi MICE

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Laut Sabah, Malaysia. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Laut Sabah, Malaysia. Foto: Shutter Stock

Potensi Malaysia sebagai destinasi business events khususnya Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) diharap tak hanya bertumpu pada Kuala Lumpur. Negara bagian Sabah dan Sarawak juga ingin meningkatkan potensi dari sektor tersebut.

CEO, Sabah Convention Bureau, Noredah Othman menjelaskan langkah tersebut dilakukan agar potensi MICE yang sebelumnya sudah pernah diselenggarakan di Kuala Lumpur tak keluar Malaysia. Alih-alih mencari tempat lain, ia ingin potensi yang ada tetap berada di Malaysia namun memilih kota atau destinasi lain.

“Tujuannya adalah agar acara tersebut tetap datang ke Malaysia. Jadi jika tahun ini acara nasional diselenggarakan di Kuala Lumpur, dalam empat tahun berikutnya bisa saja acara tersebut pindah ke Kuching atau Kota Kinabalu. Kita ingin mempertahankan acara tersebut di Malaysia. Baik acara nasional, Asia-Pasifik, maupun acara dunia,” kata Noredah dalam acara Destination Convention Malaysia secara daring pada Selasa (8/9).

Untuk mengoptimalisasi potensi MICE, Ia juga menjelaskan Sabah bukan daerah yang tak memiliki bekal. Sudah sejak lama Sabah memang dikenal sebagai destinasi wisata yang menarik khususnya untuk turis dari kawasan utara Asia seperti China dan Korea.

Di samping itu, saat ini Sabah utamanya Kota Kinabalu (KK) juga sudah didukung oleh konektivitas yang baik utamanya dari sisi transportasi udara. Baik penerbangan internasional maupun penerbangan ke Kuala Lumpur, Sabah sudah memiliki akses penerbangan langsung.

“Kinabalu menerima sekitar 128 penerbangan internasional langsung per minggu, tidak termasuk penerbangan dari Kuala Lumpur. Penerbangan tersebut dilayani oleh 11 maskapai dari 15 kota. Jadi kekuatan kami adalah aksesibilitas udara. Kota Kinabalu juga memiliki posisi yang sangat strategis. Jika melihat peta, kami berada di jantung Asia Tenggara,” ujarnya.

Di samping itu, Noredah juga ingin potensi MICE yang ada turut berdampak ke masyarakat lokal. Hal ini karena masih ada wilayah-wilayah di Sabah yang terpencil dengan infrastruktur yang terbatas.

Ia juga mengincar agar potensi MICE yang ada di Sabah bisa menjangkau wilayah-wilayah tersebut.

“Kami ingin memastikan bahwa MICE juga menjangkau pelosok-pelosok negara bagian kami. Dari sisi positioning sebagai destinasi MICE, kami selalu memastikan bahwa kami menonjolkan keberagaman budaya dan masyarakat,” kata Noredah.

video story embed

CEO Business Events Sarawak (BESarawak) & Chair, ICCA Asia Pacific Chapter (2026–2028), Jason Tan Chin Foo menjelaskan meski dari segi konektivitas Sarawak masih ada di bawah Sabah, hal itu tak boleh membatasi pengembangan sektor MICE.

Adapun saat ini Sarawak juga sudah memiliki maskapai sendiri yakni Air Borneo yang melayani beberapa penerbangan Kuching ke Kuala Lumpur dan Kuching ke Singapura.

“Namun dengan konektivitas internasional yang masih terbatas, khususnya ke Kuching, kita tidak boleh menjadikan hal itu sebagai alasan untuk menghentikan pengembangan destinasi. Kita perlu memahami pola perjalanan MICE. MICE memiliki karakter yang berbeda,” ujar Jason.

Untuk mengatasi hal tersebut, Jason menjelaskan Sarawak juga memiliki strategi yang berbeda. Hal ini karena ia menyadari bahwa lini MICE seperti pertemuan korporasi memang sensitif terhadap urusan konektivitas. Untuk itu, ia melihat potensi Sarawak dalam segi MICE lebih ke arah konferensi sampai pameran.

“Namun association meeting, society meeting, konferensi, dan pameran relatif kurang sensitif. Bukan berarti konektivitas tidak penting, tetapi tingkat sensitifitasnya lebih rendah.

Karena itu Sarawak memilih untuk menargetkan lebih banyak association business dan exhibition. Inilah cara kami menyusun strategi,” kata Jason.

Selain itu, ia juga mendorong para pelaku usaha sektor perhotelan di Sarawak khususnya Kuching agar dapat membangkitkan destinasi di sekitar. Hal ini menurutnya akan menjadi nilai tambah perekonomian.

“Mereka juga harus menjual destinasinya. Karena itu, pengetahuan tentang destinasi sangat penting bagi seorang hotelier. Jika hotelier mampu menceritakan lebih banyak tentang destinasi, mereka akan memiliki nilai tambah dan strategi yang lebih kuat untuk memenangkan bisnis,” ujarnya.

Menambahkan, Market VP Malaysia Marriot International, George Varughese menjelaskan bahwa untuk mengejar potensi MICE, suatu wilayah juga harus bisa memberi kesan khusus. Hal ini agar potensi MICE di wilayah tersebut tak hanya dimanfaatkan untuk jangka pendek.

“Perjalanan bukan lagi sekadar kebutuhan. Perjalanan adalah sesuatu yang ingin dilakukan orang. Orang memiliki passion yang berbeda terhadap perjalanan, apakah itu musik, makanan, keberagaman, pariwisata, belanja, dan sebagainya. Jadi yang pertama adalah pengalaman yang harus diciptakan. Jika ingin menjadi unik, kita harus menciptakan pengalaman khusus,” kata George.

Di samping itu, faktor keberlanjutan dari suatu wilayah yang memanfaatkan potensi MICE juga menjadi hal penting. Hal ini karena generasi muda memiliki perhatian khusus pada keberlanjutan.

“Kedua, kita harus menyadari bahwa sustainability atau keberlanjutan akan selalu menjadi faktor penting. Ketika melihat generasi muda, khususnya Gen Z, mereka sangat memperhatikan perusahaan atau destinasi yang melakukan upaya khusus dalam hal keberlanjutan,” ujarnya.