Kumparan Logo

The Fed Akan Pertahankan Suku Bunga, Wall Street Menguat di Atas 1 Persen

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis (3/9). Penguatan ini terjadi setelah investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada September.

Dikutip dari Reuters, Jumat (4/9), indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 624,16 poin atau 1,18 persen ke level 53.686,11. Sementara, indeks S&P 500 bertambah 81,11 poin atau 1,06 persen menjadi 7.747,71. Indeks Nasdaq Composite juga menguat 366,23 poin atau 1,40 persen ke 26.584,06.

Sentimen positif tersebut muncul setelah Gubernur The Fed Christopher Waller Waller mengatakan akan memilih mempertahankan suku bunga jika data mendatang mengonfirmasi bahwa tekanan harga terus mereda. Namun, ia tetap membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan The Fed menahan suku bunga pada pertemuan September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 50,4 persen dari 63,2 persen pada Rabu (2/9).

Sentimen positif juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil (yield) US Treasury kembali turun untuk hari kedua berturut-turut, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak November 2023.

Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller berpose untuk foto pada 23 Mei 2022, di Washington. Foto: AP/Patrick Semansky

Sebelumnya, kenaikan yield dalam beberapa hari terakhir sempat meningkatkan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi, membengkaknya utang pemerintah AS, hingga ketidakpastian geopolitik. Kondisi tersebut turut mendorong aksi jual di pasar obligasi global.

"Komentar dari Gubernur The Fed Waller memberikan dorongan secara luas bagi pasar," kata Senior Investment Director U.S. Bank Wealth Management Bill Northey, dikutip Reuters.

Northey menambahkan meski indeks pasar secara keseluruhan bergerak positif, kinerja saham di masing-masing sektor masih dipengaruhi oleh sejumlah perusahaan yang baru merilis laporan keuangan kuartal II.

Sejumlah data AS yang dirilis Kamis (3/9) menunjukkan kondisi yang cukup positif. Klaim tunjangan pengangguran tercatat rendah dan aktivitas sektor jasa meningkat. Namun, terdapat tekanan dari kenaikan harga input sektor jasa yang mencapai level tertinggi sejak Oktober 2022 dan defisit perdagangan internasional AS melebar sebesar 24,4 persen.

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat. Data tersebut diperkirakan menunjukkan ekonomi AS hanya menambah sekitar 56.000 lapangan kerja pada Agustus, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap di 4,1 persen.

video story embed

Penguatan Wall Street turut didorong saham-saham teknologi, khususnya kelompok perusahaan berkapitalisasi besar yang dikenal sebagai "Magnificent Seven".

Saham Nvidia (NVDA.O) naik 1,8 persen setelah perusahaan mengumumkan rencana akuisisi platform pengembang Hugging Face senilai USD 12,9 miliar sebagai langkah untuk menantang OpenAI dan Anthropic.

Sementara saham Snowflake (SNOW.N) melonjak 16,6 persen setelah memperkirakan pertumbuhan pendapatan tahunan yang kuat. Kenaikan tersebut turut mengangkat saham ServiceNow (NOW.N), Salesforce (CRM.N), dan Adobe (ADBE.O) masing-masing menguat antara 2,1 persen hingga 6,5 persen. Saham MicroStrategy (MSTR.O) melonjak 17,6 persen dan Coinbase Global (COIN.O) melesat 10,1 persen.

Namun, saham produsen cip Broadcom (AVGO.O) tercatat turun 2,7 persen setelah memberikan proyeksi pendapatan kuartal IV yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor consumer discretionary menjadi penguat terbesar. Sementara itu, sektor energi menjadi yang tertinggal.