Kumparan Logo

TOD MRT: Mencari Kembali Waktu dan Kualitas Hidup yang Hilang di Jakarta

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana proyek Extended Concourse atau akses pejalan kaki bawah tanah Bundaran HI, Rabu (19/8/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana proyek Extended Concourse atau akses pejalan kaki bawah tanah Bundaran HI, Rabu (19/8/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Sebuah kota bisa membuat hidup warganya terasa dekat, atau justru sebaliknya. Di Jakarta, semakin kota ini berkembang, semakin panjang pula sebagian perjalanan warganya berpindah dari satu titik ke titik yang lain.

Ketika rumah, tempat kerja, pusat belanja dan transportasi publik berjauhan, warga membayar jaraknya dengan waktu. Jakarta mengalami persoalan itu selama bertahun-tahun. Jalan diperlebar, kendaraan bertambah, kawasan hunian melebar ke pinggiran.

PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), anak perusahaan PT MRT Jakarta (Perseroda), melihat kualitas hidup masyarakat perkotaan memang semakin mengkhawatirkan jika tidak kunjung menemukan solusi. Hal ini, utamanya, lantaran desain ruang kota yang lebih berpihak pada kendaraan pribadi, menciptakan kekacauan dalam mobilitas.

Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta, Ferdiansyah Roestam, menilai bahwa membangun kota bukan cuma soal mendirikan gedung atau menambah jalan. Menurutnya, salah satu masalah desain tata kota yakni membuat warganya menghabiskan waktu lebih lama dalam perjalanan.

"Ada masalah-masalah di dalam urban design dan urban development, di mana mendorong orang punya lead time yang panjang sekali dan akhirnya menghabiskan kualitas hidup yang sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lain," katanya saat kelas MRTJ Fellowship 2026, dikutip Selasa (25/8).

Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta, Ferdiansyah Roestam, saat Kelas MRTJ Fellowship Program 2026, Rabu (19/8/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Ferdi mengutip kajian Asian Development Bank (ADB) yang menyoroti mobilitas masyarakat perkotaan, bahwa rata-rata pekerja menghabiskan waktu hingga 1,5 jam untuk berangkat dari rumah ke kantor, dan 2 jam perjalanan dari kantor untuk kembali pulang ke rumah.

Jika dikalikan dalam beberapa tahun, lanjut dia, waktu yang dihabiskan dalam commuting tersebut setara dengan waktu yang bisa dialokasikan untuk meningkatkan kompetensi atau keahlian, misal melalui pelatihan atau aktivitas sosial.

Ferdi menyebutkan masalah itu biasa terjadi di kota-kota dengan perkembangan pesat. Di Asia Pasifik, misalnya, ada Kuala Lumpur, Bangkok, atau bahkan Singapura. Menurutnya, Jakarta saat ini juga tengah berkembang menjadi salah satu kota modern dan terdepan di kawasan tersebut.

"Masalah yang dihadapi dalam kota-kota dengan perkembangan yang sangat cepat biasanya dia punya orientasi di kendaraan bermotor, jadi badan jalannya diperlebar terus, akhirnya tidak punya kesetaraan, tidak punya keadilan untuk pejalan kaki," tuturnya.

Selain akses pejalan kaki atau pedestrian, masalah klasik lain yakni masyarakat harus menempuh jarak antar tujuan yang terlalu jauh, dan karena bertumpu pada kendaraan bermotor, maka kota tersebut juga membutuhkan lahan yang luas untuk parkiran hingga melebarnya kawasan suburban untuk hunian.

Di tengah persoalan mobilitas tersebut, PT Integrasi Transit Jakarta membawa konsep kawasan berorientasi transit (Transit Oriented Development/TOD) sebagai upaya merajut kembali berbagai bagian kota agar lebih dekat dengan kehidupan warganya.

Hanya saja, Ferdi menyebutkan pola pikir TOD tersebut tidak bisa instan, apalagi untuk kota yang sudah berkembang seperti Jakarta, maka mau tidak mau perusahaan melakukan pendekatan penataan ulang (re-development). Bagi PT MRT Jakarta, kawasan TOD ini mencakup radius 800 meter dari titik simpul stasiun MRT.

Kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Minggu (2/8/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

"TOD itu punya beberapa prinsip yang dicoba untuk didorong supaya urban development dan re-development di perkotaan itu bisa meningkatkan kualitas hidup warganya," kata Ferdi.

Konsep tersebut menggunakan pendekatan kawasan campuran (mixed-use), di mana TOD bisa dikembangkan sebagai residensial, perkantoran, hingga komersial. Kawasan tersebut, apalagi di wilayah padat penduduk, harus meningkatkan konektivitas, menciptakan pertumbuhan ekonomi, dan menghidupkan kesetaraan sosial.

Bangun TOD Tanpa Bebani Negara

Ferdi menjelaskan bahwa sejak didirkan pada tahun 2020, PT Integrasi Transit Jakarta telah membangun serta mengelola setidaknya lima proyek TOD, yakni Simpang Temu Lebak Bulus, Taman Literasi Martha Tiahahu di Blok M, Senayan dan Istora, Dukuh Atas, hingga Bundaran HI.

Sebagai satu-satunya perusahaan properti yang bergerak dalam pengembangan kawasan TOD di Indonesia, dia menegaskan mayoritas proyek PT Integrasi Transit Jakarta tidak mengandalkan anggaran negara. Adapun saham perusahaan tersebut dimiliki 96,99 persen oleh PT MRT Jakarta, sementara 3,01 persen sisanya milik PT Transportasi Jakarta.

"Bisa Anda bayangkan kalau infrastruktur publik semuanya terbangun tidak membebani APBD. Jadi pemerintah provinsi itu sebetulnya bisa memprioritaskan anggarannya ke tempat-tempat lain, pos-pos lain yang sebetulnya lebih strategis," jelas Ferdi.

Kantor PT MRT Jakarta (Perseroda). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Dia menilai kemampuan perusahaan bertahan hidup dengan mengembangkan tata kota melalui suntikan investasi mandiri dan swasta ini kerap mengilhami daerah lain untuk turut membuat peta jalan penataan ruang kota yang lebih manusiawi bagi warganya.

"Kami adalah satu-satunya perusahaan pengembang properti yang memang fokus untuk area TOD, hingga saat ini se-Indonesia. Tidak bisa disalahkan karena memang satu-satunya panduan rancang kota se-Indonesia yang sudah punya hanya DKI Jakarta, sehingga kami cukup sering dipanggil oleh Jawa Timur, Jawa Barat, untuk share bagaimana pengembangan kota berbasis simpul transformasi," ungkap Ferdi.

Simpul Ekonomi Baru

Tidak hanya soal tata ruang, bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta, kawasan TOD juga diharapkan bisa menjadi titik simpul baru bagi pengembangan perekonomian daerah, terutama melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, menyebut kawasan TOD yang dikembangkan PT MRT Jakarta diharapkan menjadi ruang baru bagi aktivitas warga setempat yang lebih tertib dan dapat menarik lebih banyak wisatawan.

Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, Rabu (19/8/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

"Kita harapkan di sana menjadikan ekonomi kreatif itu tumbuh, karena nantinya selain kegiatan olahraga, seni, budaya, juga UMKM juga difasilitasi, sehingga ekonomi kreatif itu akan tumbuh dan yang menjadi tugas kami adalah bagaimana agar kawasan ini tetap tertib, PKL tidak berdagang di sembarang tempat, demikian juga parkir liar tidak terjadi," tuturnya saat ditemui awak media di kawasan Bundaran HI.

Syafrin juga berharap akan lebih banyak lagi simpul konektivitas terbangun di sekitar transportasi publik, layaknya kawasan Blok M yang menurutnya bisa menjadi pedoman yang baik bagi pengembangan tata kota ke depannya.

"Tentu ini akan ada pembangunan secara masif dan ini terjadi salah satu pilot project untuk Jakarta. Semuanya akan mengarah kepada bagaimana transit oriented kawasan terjadi dan mobilitas transportasi di sana akan terjadi," jelasnya.

Bayangkan jika masyarakat bisa berjalan kaki dengan nyaman untuk mengakses hunian, kantor, pusat perbelanjaan, ruang publik, dan transportasi dalam suatu kawasan yang terintegrasi. Bagi kota sebesar Jakarta, gagasan itu bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga tentang bagaimana waktu dan ruang warga digunakan.

Konsep TOD yang dikembangkan PT MRT Jakarta mencoba membawa Jakarta ke arah tersebut, yakni kota yang membuat warga lebih banyak bergerak dengan kaki dan transportasi publik, bukan terjebak di balik kemudi.

instagram embed