Kumparan Logo

Trump Bakal Pungut Biaya 20 Persen dari Muatan Kapal yang Lewat Selat Hormuz

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden AS Donald Trump menghadiri sebuah acara di Raymond F. Kravis Center for the Performing Arts di West Palm Beach, Florida, AS, Jumat (1/5/2026). Foto: Roberto Schmidt/Getty Images/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Donald Trump menghadiri sebuah acara di Raymond F. Kravis Center for the Performing Arts di West Palm Beach, Florida, AS, Jumat (1/5/2026). Foto: Roberto Schmidt/Getty Images/AFP

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengusulkan agar seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz dikenakan biaya kompensasi sebesar 20 persen dari nilai muatannya.

Berdasarkan harga minyak saat ini yang berkisar USD 80 per barel, pungutan tersebut setara sekitar USD 30 juta atau sekitar Rp 543 miliar (kurs Rp 18.093 per dolar AS) untuk satu supertanker yang mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah.

Dilansir Bloomberg, Selasa (14/7), usulan itu jauh lebih tinggi dibandingkan biaya yang selama ini disebut-sebut dipungut Iran secara ad hoc, yakni sekitar USD 2 juta untuk setiap pelayaran.

Dalam pernyataannya pada Senin waktu setempat, Trump mengatakan AS akan kembali memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran yang melintasi Selat Hormuz. Ia juga menyebut AS akan menjadi "penjaga" jalur pelayaran strategis tersebut.

Sebagai konsekuensinya, Trump menilai seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz harus memberikan kompensasi kepada Amerika Serikat sebesar 20 persen dari nilai muatannya. Namun, hingga kini Gedung Putih belum menjelaskan mekanisme penerapan kebijakan tersebut maupun apakah rencana itu telah dikomunikasikan kepada negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk.

Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS

Pengumuman tersebut langsung memicu kekhawatiran di kalangan industri pelayaran. Beberapa pelaku industri, termasuk pemilik kapal tanker yang baru saja melintasi Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir, mengaku tidak menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai rencana tersebut.

Mereka menilai masih terlalu dini untuk memperkirakan dampaknya terhadap operasional pelayaran karena rincian kebijakan belum tersedia. Seorang kapten kapal yang enggan disebutkan namanya bahkan menyamakan pungutan itu dengan "perampokan di jalan raya".

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global. Ketegangan terkait penguasaan jalur tersebut kembali meningkat setelah gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran mulai memudar.

video story embed

Menanggapi usulan Trump, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pihak yang menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz memang layak memperoleh kompensasi. Namun, ia menilai tarif sebesar 20 persen terlalu tinggi.

"Siapa pun yang menyediakan pelayaran komersial yang aman melalui Selat Hormuz memang harus diberi kompensasi atas layanan tersebut," tulis Araghchi di media sosial. Meski demikian, ia menambahkan bahwa tarif 20 persen "jelas terlalu besar" dan menegaskan Iran akan bersikap lebih adil.