Kumparan Logo

Wall Street Bervariasi, Nasdaq Naik 0,24 Persen di Tengah Data Inflasi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Rabu (30/9). Pergerakan tersebut terjadi setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober.

Mengutip Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 443,87 poin atau 0,86 persen menjadi 50.906,05. S&P 500 kehilangan 19,30 poin atau 0,25 persen ke level 7.651,54. Sementara itu, Nasdaq Composite naik 63,52 poin atau 0,24 persen menjadi 26.861,06. Dalam perdagangan tersebut, S&P 500 sempat menguat 0,7 persen dan Nasdaq naik hingga 1,2 persen.

Sepanjang September, S&P 500 turun 0,45 persen, Nasdaq menguat 1,86 persen, sedangkan Dow Jones melemah 4,29 persen. Dow mengakhiri tren kenaikan selama lima bulan berturut-turut. S&P 500 mencatat penurunan bulanan untuk ketiga kalinya dalam empat bulan terakhir. Sebaliknya, Nasdaq membukukan kenaikan untuk bulan kedua berturut-turut.

Secara kuartalan, S&P 500 dan Nasdaq sama-sama mencatat kenaikan untuk kuartal kedua berturut-turut. Keduanya juga membukukan kenaikan dalam lima dari enam kuartal terakhir. Dow Jones mencatat penurunan kuartalan untuk kedua kalinya dalam tiga kuartal.

Sebagian besar saham berkapitalisasi besar dan saham pertumbuhan bergerak menguat. Microsoft, Apple, dan Nvidia menjadi sejumlah saham yang menopang indeks teknologi S&P 500, yang naik 0,6 persen dan menjadi sektor dengan kinerja terbaik. Meski demikian, sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah.

Departemen Perdagangan AS melaporkan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 3,4 persen secara tahunan pada Agustus. Angka tersebut berada di bawah proyeksi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,7 persen.

Data tersebut turut mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan Oktober turun menjadi sekitar 37 persen, dari 51 persen pada sesi sebelumnya dan hampir 71 persen sepekan sebelumnya.

Di sisi lain, data final produk domestik bruto (PDB) AS kuartal II direvisi naik menjadi pertumbuhan tahunan 2,2 persen. Revisi tersebut didorong oleh belanja konsumen dan investasi yang tetap solid, termasuk aktivitas pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Namun, tekanan terhadap pasar kembali muncul menjelang penutupan perdagangan. Kenaikan harga minyak mentah akibat perang AS-Iran dan tingginya biaya bahan bakar diesel meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Kondisi tersebut turut mendorong imbal hasil US Treasury naik. Imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed juga berbalik menguat pada perdagangan tersebut.

Sementara itu, imbal hasil obligasi dengan tenor lebih panjang terus naik seiring ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi AS yang solid.

“Yang menjadi fokus pasar adalah, apakah ekonomi terus tumbuh dan apakah ekonomi mampu menghadapi suku bunga yang lebih tinggi? Dan saya akan mengatakan sejauh ini, pasar terlihat seperti sejarah bahwa ketika ekonomi tumbuh, ketika laba kuat, ketika ada tema sekuler, pasar akan mengabaikan suku bunga yang lebih tinggi,” kata Anthony Saglimbene, chief market strategist Ameriprise Financial di Troy, Michigan.

Menurut Saglimbene, suku bunga yang bertahan tinggi dalam waktu lama dapat mulai menekan pasar obligasi dan membatasi ketersediaan kredit. Kondisi tersebut berpotensi menjadi perhatian investor jika mulai memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan profitabilitas perusahaan dalam beberapa kuartal ke depan.

“Namun, jika suku bunga yang lebih tinggi ini bertahan pada level tinggi tersebut untuk waktu yang lebih lama, kemungkinan hal itu mulai memberikan dampak yang lebih besar terhadap sisi obligasi dalam portofolio, dan dapat membatasi kredit atau ketersediaan kredit. Jika investor mulai merasa kondisi tersebut dapat membebani pertumbuhan ekonomi atau profitabilitas perusahaan dalam satu atau dua kuartal ke depan, maka saya pikir Anda akan melihat reaksi negatif yang sangat cepat di pasar,” ungkapnya.

Dari sisi ketenagakerjaan, laporan ADP National Employment Report menunjukkan lapangan kerja swasta AS bertambah 90.000 pada September. Angka Agustus juga direvisi turun menjadi 36.000. Data tersebut menjadi salah satu indikator pasar tenaga kerja yang dirilis pekan ini. Pasar selanjutnya menunggu laporan ketenagakerjaan pemerintah yang akan dirilis pada Jumat.

Gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan dirinya berkomitmen menurunkan inflasi tanpa merusak pasar tenaga kerja. Pernyataan tersebut disampaikan tanpa menyinggung data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan.

Di pasar saham, Hewlett Packard Enterprise naik 3,9 persen. Penguatan terjadi setelah perusahaan server AI tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan jangka panjang bisnis jaringannya dan mengumumkan kesepakatan senilai USD 1,2 miliar dengan Vultr.

Sebaliknya, saham Moderna turun 5,3 persen setelah Citigroup menurunkan peringkat perusahaan bioteknologi tersebut menjadi “sell” dari sebelumnya “neutral”.

Di NYSE, jumlah saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 1,66 banding 1. Di Nasdaq, rasionya mencapai 1,51 banding 1.

S&P 500 mencatat 11 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 24 saham yang mencapai level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite mencatat 54 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 212 saham yang mencapai level terendah baru.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 18,13 miliar saham, lebih tinggi dari rata-rata 17,06 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.