Yen Menguat, Pelaku Pasar di Jepang Dorong Ada Intervensi Lanjutan
·waktu baca 3 menit

Para pelaku pasar valuta asing di Jepang kini mencermati kemungkinan langkah lanjutan dari otoritas setelah intervensi pemerintah membuat yen menguat paling tajam dalam tiga tahun terakhir pada Kamis lalu.
Berdasarkan analisis Bloomberg terhadap rekening bank sentral, Jepang diperkirakan menggelontorkan sekitar ¥5,4 triliun atau setara USD 34,5 miliar di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar yen.
Pada perdagangan Jumat di New York, yen bergerak stabil di kisaran USD 156,80. Posisi ini bertahan setelah lonjakan sekitar 2 persen sehari sebelumnya yang sempat menjauhkan yen dari level terlemahnya dalam hampir empat dekade.
Meski pejabat terkait belum mengonfirmasi adanya intervensi, sumber yang mengetahui kebijakan tersebut mengatakan otoritas telah masuk ke pasar untuk pertama kalinya sejak 2024. Sumber lain juga menyebut bahwa pejabat ekonomi Amerika Serikat telah diberi notifikasi sebelum langkah itu diambil.
Pelaku pasar menilai penguatan yen berisiko tidak bertahan lama apabila tidak diikuti intervensi tambahan. Mereka juga melihat peluang semakin besar bagi Jepang untuk kembali masuk ke pasar guna menjaga stabilitas mata uangnya. Di satu sisi, pelemahan yen memang menguntungkan ekspor, namun di sisi lain berpotensi mendorong inflasi lebih cepat karena biaya impor, termasuk minyak, menjadi lebih mahal.
“Kemungkinan mereka perlu terus bertindak untuk mendukung yen dalam jangka panjang. Ada sejarah intervensi yang gagal mendukung yen, yang menunjukkan bahwa penguatan ini mungkin tidak bertahan dan dolar bisa kembali menguat,” kata Kathleen Brooks, Direktur Riset di XTB.
Pengalaman pada 2024 menunjukkan pola serupa, ketika otoritas Jepang beberapa kali melakukan intervensi untuk meredam pelemahan yen. Wakil Menteri Keuangan untuk Urusan Internasional Atsushi Mimura memberi sinyal kewaspadaan menjelang libur panjang Golden Week pada 4-6 Mei.
“Saya tidak akan mengomentari perkembangan ke depan, tetapi saya ingin menekankan bahwa kita baru memasuki awal periode libur panjang,” ujar Mimura.
“Kami berkomunikasi sangat dekat dengan AS, dan saya yakin kami memiliki penilaian dan langkah yang sejalan,” tambahnya.
Ia juga menegaskan kesiapan pemerintah dalam merespons dinamika pasar energi. “Secara umum, kami selalu siap bertindak terkait transaksi kontrak berjangka minyak mentah,” ujar Mimura.
Tekanan terhadap yen juga datang dari faktor eksternal, terutama ketegangan di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak. Kebergantungan Jepang terhadap impor energi membuat mata uangnya rentan terhadap gejolak tersebut.
Sepanjang 2024, Jepang tercatat telah menghabiskan sekitar USD 100 miliar untuk intervensi di pasar valuta asing saat yen melemah hingga kisaran 160 per dolar. Namun, sejumlah analis menilai langkah terbaru ini masih belum cukup kuat untuk membalikkan tren pasar secara signifikan tanpa dukungan tambahan.
