Kumparan Logo

Zulhas Sebut Kerugian Akibat Praktik Pencurian Ikan Capai Ratusan Triliun Rupiah

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Pangan Zulkifli Hasan memimpin Ratas di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Pangan Zulkifli Hasan memimpin Ratas di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menjelaskan Indonesia sudah mengalami kerugian dari praktik pencurian ikan. Kerugian tersebut menurutnya kini sudah mencapai triliunan rupiah.

Menurutnya, hal itu bisa terjadi karena kebijakan di sektor perikanan dan kelautan tidak menjadi prioritas selama puluhan tahun.

“Sumber daya kekayaan ikan kita yang dicuri, itu berapa triliun? Tuh, ratusan T nya. Kenapa? karena (nelayan) kita tidak berdaya. Kebijakan-kebijakan tadi tidak menjadi prioritas utama,” kata Zulhas dalam peresmian Ocean Institute of Indonesia di Kantor KKP, Jakarta pada Selasa (21/7).

Zulhas juga menyebut, hal itu menjadi salah satu alasan Indonesia tertinggal di sektor perikanan dari beberapa negara di ASEAN, seperti Thailand dan Vietnam.

“Kita masih tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga di ASEAN, yaitu Thailand dan Vietnam. Kalau saya melihat, mengapa kita tertinggal jauh? Memang selama 80 tahun, sektor kelautan belum menjadi skala prioritas utama,” ujarnya.

KKP amankan 2 kapal berbendera Malaysia yang curi ikan di Selat Malaka dan 2 kapal ikan Indonesia yang langgar operasional di Ternate. Foto: KKP

Hal itu menurutnya juga membuat nelayan Indonesia tertinggal dan tak berdaya. Ia mendetailkan bahwa ketidakberdayaan nelayan Indonesia terjadi baik dari sisi keterampilan maupun sisi permodalan.

Di sisi lain, Zulhas juga menuturkan banyak fenomena di mana hasil tangkapan nelayan Indonesia juga akhirnya dihargai murah.

“Saat nelayan memperoleh banyak ikan, harga yang ditawarkan justru murah. Kalau tidak dijual, ikannya akan busuk. Akhirnya mereka menjual dengan harga rendah, padahal sebenarnya mereka merugi,” kata Zulhas.

Kondisi tersebutlah menurutnya yang membuat nelayan Indonesia terus merugi. Situasi itu diperparah dengan adanya tengkulak yang menjerat nelayan dengan utang. Hal itulah yang menurut Zulhas menjadi perbedaan antara kondisi nelayan di Indonesia dengan nelayan di Thailand maupun Vietnam.

“Hampir rata-rata nelayan Indonesia berada dalam kondisi seperti itu. Mereka meminjam uang dalam jumlah besar, dan ketika melaut hasil tangkapannya harus disetor kepada tengkulak. Sementara itu, nelayan Thailand dan Vietnam mampu meningkatkan kesejahteraannya. Dari kapal kecil mereka berkembang menjadi kapal besar, kemudian menguasai perairan yang luas, bahkan masuk ke wilayah laut kita,” ujarnya.