Bengawan Solo Surut, Warga Mulai Berburu Emas

Reporter: Muhammad Qomarudin
blokBojonegoro.com - Surutnya debit air sungai Bengawan Solo di Bojonegoro, ternyata membawa berkah tersendiri bagi masyarakat. Selain pasirnya yang diambil untuk material pembangunan, sungai yang terpanjang di Pulau Jawa ini juga tersimpan sebuah harta karun, seperti emas, logam, uang kuno maupun benda antik lainya.
Seperti yang ada di Bengawan Solo Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, tepatnya di bawah Jembatan Kali Ketek. Di bawah jembatan bersejarah itu, setiap harinya ada belasan orang yang mencari emas. Tak hanya dari warga setempat saja, ada juga warga dari luar Bojonegoro yang berburu emas di sana. Seperti warga Jombang yang jauh-jauh datang ke lokasi tersebut untuk ikut mencari.
Mutakin (35) asal Ploso, Jombang, sambil membawa alat bantu ban dalam mobil sebagai pengganti pelampung, ia sudah berada di bawah jembatan Kali Ketek. Mutakin datang sejak pukul 09.00 WIB sampai sore sekitar pukul 16.00 WIB untuk mencari peruntungannya mendulang emas dengan belasan orang lainya.
"Saya berangkat dari Ploso sekitar pukul 07.00 WIB bersama teman-teman dan sampai di Bojonegoro biasanya tidak sampai pukul 9 pagi," terang Mutakin.
Dirinya mengaku sudah sekitar dua minggu mencari emas di bawah Jembatan Glendeng. Menurutnya, lokasi tersebut tak terlalu dalam airnya dibanding dengan tempat lainnya. Hanya saja, tidak setiap hari ia berhasil menemukan emas, beberapa kali juga pernah hanya menemukan logam saja.
"Tidak setiap hari saya mendapatkanya, sebab harus sambil menyelam ke dasar sungai dan itu membutuhkan tenaga yang sangat besar dan paling banyak bisa mendapatkan sampai 2 gram emas," lanjut Mutakin.
Sementara itu, penambang emas dari Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Munandar (33) juga mengungkapkan hal yang tak jauh berbeda. Namun ia sudah beberapa tahun mencari emas di bawah jembatan itu saat musim kemarau.
Untuk jenis emas sendiri, Munandar menjelaskan bahwa yang didapatkannya bukan berupa partikel emas atau serbuk emas. Melainkan serpihan atau pecahan asesoris seperti gelang, anting-anting atau pun benda lainnya yang berasal dari kerajaan seperti pusaka atau sejenisnya. .
"Saya tahun kemarin juga sudah mencari di sini, kalau yang teman-teman yang lain baru kelihatanya soalnya ada juga dari Jombang, Nganjuk dan Tuban. Sedangkan tidak setiap hari saya mendapatkanya dan paling banyak Alhamdulliah 1 gram dalam satu hari," lanjut Munandar kepada blokBojonegoro.com.
Untuk emas yang didapatnya tersebut, Munandar menjualnya kepada para tengkulak dengan harga 300 ribu per gramnya. Sedangkan untuk uang kuno ia menjualnya dengan harga puluhan ribu per bijinya, tergantung uang kuno dari zaman penjajahan ataupun kerajaan.
"Kalau saja menggunakan lampu senter, kaca mata renang dan ban dalam sebagai pelampumg untuk mencari emas," kata Munandar sebelum pulang ke Ngasem. [din/lis]

