Konten Media Partner

Pertempuran Talangkembar dan Nyali Pasukan Muda

Blok Tuban

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pertempuran Talangkembar dan Nyali Pasukan Muda
zoom-in-whitePerbesar

Apa yang diprediksikan militer Indonesia bahwasanya Belanda akan kembali ke Montong terbukti. Pertengahan April 1949, serdadu Belanda segera membangun pertahanan di Desa Montongsekar dengan jumlah personil dan perlengkapan persenjataan yang lengkap.

Sebelumnya: Peluru Belanda yang Menghujani Montong

Penduduk Montong merasa terancam dan berangsur-angsur melakukan pengungsian ke wilayah Jojogan Kecamatan Singgahan. Keadaan Jojogan menjadi lebih ramai dengan kedatangan pengungsi. Informasi ini langsung dilaporkan komandan SDO Singgahan kepada para pasukan gerilya.

Seorang tokoh gerilyawan bernama Tambunan bergerak ke Jojogan. Dia baru saja membentuk pasukan gabungan dari tiga regu yang selama ini tercerai berai dari induknya. Pasukan gabungan itu mayoritas anak muda berusia 19 tahun. Pasukan itu juga diikuti satu pemuda keturunan Arab dan satu muda keturunan Cina.

“Pasukan berkekuatan tiga regu dengan persenjataan senapan, karaben, dan pistol-mitralyur dari berbagai tipe dan merek,” Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe, Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe, 1985:358.

Setelah berkumpul, Tambunan langsung menempatkan posisi pasukan di tempat-tempat strategis. Tujuannya menghadang laju pasukan Belanda yang diinformasikan akan melintas di tempat ini.

“Sekitar pukul 07.00, muncul suara kentongan dari salah satu desa disambut kentongan dari Desa Talangkembar sebagai isyarat Belanda mulai mendekati lokasi.”

Pasukan bersiap, dan tiada lama muncul gerombolan serdadu Belanda dengan posisi waspada dari arah timur. Tiba di salah satu jembatan, barisan gerilya langsung menghujaninya dengan tembakan peluru.

Serdadu Belanda kocar-kacir mencari perlindungan. Pasukan gerilya yang mendapat posisi yang menguntungkan di medan pertempuran terus melakukan gempuran, hingga pertempuran itu berlangsung sampai dua jam lebih.

Setelah pasukan Belanda bisa mengatur formasi, mereka kemudian melakukan serangan balasan dengan mempergunakan senjata yang lebih canggih. Belanda menembakan bertubi-tubi peluru mortil dan meledak di barisan belakang pertahanan. Terus menerus pasukan digempur dengan peralatan senjata yang lebih modern.

Melihat kekuatan dan senjata yang tidak seimbang, barisan muda ini langsung mundur dan masuk ke hutan. Pasukan Belanda juga langsung mundur kembali ke markas dan tidak berani meneruskan patroli penyisiran.

“Dalam penghadangan ini korban di pihak kita (Indonesia) tewas satu orang penduduk terkena peluru, sedang patroli lawan (Belanda) mengalami kerugian dua orang mati dan dimasukan ke dalam kantong serta seorang luka berat yang ditandu menggunakan dipan yang diambil dari rumah pendudk Talangkembar,” Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe, Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe, 1985:359.

Pasukan gerilya dari anak-anak muda itu langsung kembali ke desa yang ditentukan untuk melakukan konsolidasi. Meski misi penghadangan tidak sukses 100 persen, tapi Belanda setelah itu mengalami kesulitan luar biasa memperluas wilayah kekuasaan ke arah barat Kabupaten Tuban.

Buku Brigade Ronggolawe menyebut, sesuatu yang menggembirakan juga terjadi karena semangat tempur dan jiwa korsa pasukan yang terdiri dari anak-anak muda itu semakin menguat. Selain itu juga penting untuk memulihkan moril pasukan dari SDO Singgahan yang sempat tercerai berai dari induk pasukan. (*)

Sumber:

1. Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe, Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe, 1985

2. Catatan Dewan Harian Cabang 45 (DHC 45), Peristiwa Perjuangan Dalam Agresi II di Kabupaten Tuban dan Pembudayaan Nilai Kejuangan, 2005

Keterangan foto:

Serdadu Belanda yang berada di salah satu perkampungan penduduk di Tuban. Dokumentasi foto milik Leen Camps - Van Der Zander, veteran Belanda yang ikut misi operasi 'Zeemeeuw', 18 Desember 1948.