Hari Nelayan Pelabuhan Ratu dan Tradisi Labuh Saji

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar S1
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nabila Kristi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tanggal 6 April, masyarakat pesisir Sukabumi memperingati Hari Nelayan Pelabuhan Ratu. Perayaan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan wujud rasa syukur nelayan atas laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka. Tradisi yang paling menonjol dalam peringatan ini adalah Labuh Saji, sebuah ritual melarung sesaji ke laut yang masih dijaga hingga sekarang.
Bagi warga Pelabuhan Ratu, laut bukan hanya tempat mencari ikan. Laut adalah ruang hidup, sahabat, sekaligus kekuatan alam yang harus dihormati. Karena itu, Hari Nelayan Pelabuhan Ratu selalu dirayakan dengan penuh makna, melibatkan masyarakat, tokoh adat, dan nelayan dari berbagai daerah.
Sejarah Hari Nelayan Pelabuhan Ratu dan Labuh Saji
Pelabuhan Ratu dikenal sebagai salah satu kawasan nelayan terbesar di Jawa Barat. Sejak dulu, kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada laut. Dari ketergantungan inilah lahir tradisi Labuh Saji yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi ini dipercaya sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Masyarakat pesisir memandang laut bukan hanya sebagai ruang ekonomi, tetapi juga memiliki nilai spiritual. Melalui Labuh Saji, nelayan menyampaikan rasa syukur dan harapan agar selalu diberi keselamatan saat melaut
Menurut penelitian Lely Irianti (2011), Labuh Saji awalnya dilakukan secara sederhana oleh kelompok nelayan. Seiring waktu, ritual ini berkembang menjadi upacara adat besar dan kemudian dikaitkan dengan peringatan Hari Nelayan Nasional setiap 6 April.
Makna Tradisi Labuh Saji bagi Nelayan
Bagi nelayan Pelabuhan Ratu, Labuh Saji bukan ritual mistis tanpa makna. Tradisi ini mengandung nilai kehidupan yang masih relevan hingga sekarang.
Pertama, Labuh Saji menjadi ungkapan rasa syukur dan doa keselamatan. Nelayan menyadari bahwa hasil laut tidak hanya bergantung pada kerja keras, tetapi juga kondisi alam. Karena itu, doa keselamatan selalu menjadi bagian penting dari prosesi ini.
Kedua, tradisi ini mengajarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Laut tidak boleh dieksploitasi secara berlebihan. Nilai ini menjadi pengingat agar masyarakat pesisir tetap menjaga kelestarian laut.
Ketiga, Labuh Saji memperkuat identitas budaya maritim. Nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur tercermin dalam seluruh rangkaian acara (Damayanti, 2018).
Rangkaian Perayaan Hari Nelayan Pelabuhan Ratu
Perayaan Hari Nelayan Pelabuhan Ratu biasanya berlangsung meriah dan melibatkan banyak pihak.
Acara puncaknya adalah prosesi Labuh Saji, di mana sesaji dilarung ke tengah laut menggunakan perahu nelayan. Ritual ini dipimpin oleh tokoh adat dan dilakukan dengan penuh khidmat
Selain itu, ada arak-arakan perahu nelayan yang dihias warna-warni, pementasan seni budaya Sunda, serta kegiatan syukuran dan makan bersama. Dalam beberapa tahun terakhir, perayaan ini juga dilengkapi dengan aksi peduli lingkungan, seperti bersih pantai dan penanaman mangrove.
Relevansi Hari Nelayan di Era Modern
Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, Hari Nelayan Pelabuhan Ratu tetap relevan. Tradisi ini menjadi pengingat pentingnya menjaga laut di tengah ancaman pencemaran, eksploitasi berlebihan, dan perubahan iklim.
Selain itu, Hari Nelayan juga berfungsi sebagai media edukasi budaya bagi generasi muda agar tidak kehilangan identitas pesisirnya. Perayaan ini bahkan memiliki potensi ekonomi melalui pariwisata budaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan (Herlina, 2022).
Peran Generasi Muda dan Upaya Pelestarian
Keberlanjutan Hari Nelayan Pelabuhan Ratu sangat bergantung pada generasi muda. Anak muda perlu dilibatkan langsung dalam pelaksanaan acara, dokumentasi digital, hingga pengembangan kegiatan ramah lingkungan.
Tradisi Labuh Saji juga perlu terus beradaptasi, misalnya dengan penggunaan sesaji yang ramah lingkungan serta penguatan kegiatan konservasi laut. Dukungan pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas lokal menjadi kunci agar tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
Penutup
Hari Nelayan Pelabuhan Ratu bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan warisan budaya maritim yang menyimpan nilai syukur, kebersamaan, dan kepedulian terhadap alam. Selama masyarakat dan generasi muda terus menjaga maknanya, tradisi Labuh Saji akan tetap hidup dan menjadi bagian penting dari identitas pesisir Indonesia.
Disusun oleh:
Kelompok 5
1. Nabila Kristi
2. Niswah Aulia Bilqis
Mata Kuliah: Sosiologi dan Antropologi
Program Studi: Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Pamulang
Referensi
Ahimsa-Putra, H. S. (2007). Antropologi Budaya dan Tradisi Maritim Nusantara.
Damayanti, L. (2018). Makna Sosial pada Upacara Labuh Saji. Repository UNPAD.
Herlina, S. (2022). Upacara Adat Labuh Saji: Dari Tradisi Spiritual ke Atraksi Wisata. UIN Sunan Gunung Djati.
Irianti, L. (2011). Upacara Adat Labuh Saji di Pelabuhan Ratu Sukabumi. Repository UPI.
Media Pakuan. (2025). Hari Nelayan Nasional: Mengenal Sejarah Tradisi Labuh Saji di Pelabuhan Ratu Sukabumi.
Media Pakuan. (2025). Upacara Labuh Saji di Pelabuhan Ratu Jadi Daya Tarik Wisatawan.
iNews Sukabumi. (2023). Mengenal Upacara Labuh Saji, Tradisi dan Ritual Unik Nelayan.
