Kawih Sinom, Menanam Pesan Antinarkoba dalam Ingatan Pelajar

Informasi Kegiatan P4GN BNN Kabupaten Karawang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari BNNK Karawang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pelajar hari ini sebenarnya tidak kekurangan informasi tentang bahaya narkoba. Pesan antinarkoba hadir melalui sekolah, media sosial, penyuluhan, hingga berbagai kampanye pemerintah.
Namun, mengetahui bahwa narkoba berbahaya belum tentu membuat seorang anak memiliki ketahanan ketika suatu hari berhadapan langsung dengan tawaran untuk mencobanya.
Tantangan pencegahan karena itu bukan hanya bagaimana menyampaikan informasi, tetapi bagaimana membuat pesan tersebut tinggal lebih lama dalam ingatan dan perlahan menjadi nilai. Kita melihat semangat itulah yang menarik dari Pasanggiri Agung Kawih Sinom “Narkoba Musuh Bangsa” yang digelar BNN Provinsi Jawa Barat di Bandung.
Kawih Sinom menawarkan pendekatan yang berbeda. Pesan tentang narkoba tidak disampaikan melalui ceramah panjang, tetapi melalui seni dan budaya yang dekat dengan identitas masyarakat Jawa Barat.
Pelajar membaca syair, memahami maknanya, menghafal, berlatih, lalu menyanyikannya. Ada proses pengulangan sekaligus penghayatan yang memungkinkan pesan antinarkoba tidak sekadar didengar, tetapi juga dirasakan.
Sinom sendiri merupakan salah satu pupuh Sunda yang lekat dengan petuah dan nasihat bagi anak muda. Ketika pesan pencegahan narkoba ditempatkan di dalamnya, budaya tidak lagi sekadar menjadi warisan yang dipertunjukkan. Ia menjadi medium pendidikan nilai.
Hal ini penting karena ujian sesungguhnya bagi seorang pelajar tidak selalu terjadi di ruang kelas. Ujian itu dapat datang ketika teman sebaya menawarkan narkoba dan berkata, “coba sekali saja”.
Pada saat seperti itu, guru, orang tua, ataupun petugas BNN mungkin tidak berada di sampingnya. Yang bekerja adalah pengetahuan, nilai, dan ketahanan diri yang telah tertanam.
Bagi kami di BNN Kabupaten Karawang, pendekatan seperti ini memberikan pelajaran penting. Pencegahan narkoba perlu semakin masuk ke ruang kehidupan pelajar: sekolah, pesantren, olahraga, kesenian, komunitas, hingga ruang digital.
Pesan P4GN tidak selalu harus menunggu anak datang ke ruang sosialisasi. Pesan itulah yang harus hadir di ruang tempat mereka tumbuh.
Pada akhirnya, keberhasilan pencegahan bukan sekadar berapa banyak pelajar yang pernah mendengar bahaya narkoba. Pertanyaan yang lebih penting adalah pesan apa yang masih mereka ingat ketika suatu hari harus memilih untuk mengatakan tidak?
