Konten dari Pengguna

108 Mahasiswa Baru PGSD USD Ikut Kegiatan INSIPRO

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Boas Sababang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Boas Sababang

 Mahasiswa Baru PGSD USD berkumpul di Belakang BAA dan mendengarkan Instruksi Panitia Insipro 2026 melakukan sirkulasi menuju ruang  Seminar Driyakara. (Sumber: PDD, Humas USD)
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa Baru PGSD USD berkumpul di Belakang BAA dan mendengarkan Instruksi Panitia Insipro 2026 melakukan sirkulasi menuju ruang Seminar Driyakara. (Sumber: PDD, Humas USD)

INSIPRO PGSD USD, Yogyakarta - Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta kembali menggelar Inisiasi Program Studi (Insipro) pada 14–15 Agustus 2026. Kegiatan dua hari ini menjadi gerbang pengenalan dunia kependidikan bagi 108 mahasiswa baru yang resmi bergabung pada tahun akademik 2026/2027.

Dengan mengusung tema besar "Peduli itu aksi, kreasi itu bukti, tumbuh itu pasti", Insipro PGSD 2026 dirancang bukan sekadar sebagai orientasi formal, melainkan ruang transformasi nilai-nilai kependidikan yang menggerakkan mahasiswa untuk bergerak, berkarya, dan berkembang tanpa henti.

Momentum di Tengah Badai Krisis Guru

Kegiatan ini berlangsung di saat dunia pendidikan Indonesia, khususnya profesi guru, tengah menjadi sorotan publik. Sejumlah permasalahan struktural masih menghantui, mulai dari isu kesejahteraan, ketidakpastian status kepegawaian, hingga fenomena guru honorer yang memilih mengundurkan diri.

Data Badan Kepegawaian Negara (BKN) mencatat, sebanyak 2.722 Aparatur Sipil Negara (ASN) mengundurkan diri sepanjang semester pertama 2026. Mayoritas (58 persen) merupakan pegawai dengan masa kerja 0–5 tahun, yang menunjukkan bahwa usia muda menjadi kelompok paling rentan meninggalkan profesi ini.

Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melaporkan jumlah guru di Indonesia per Januari 2026 mencapai 2,9 juta orang. Namun, sekitar 137.000 guru di antaranya belum memiliki sertifikat pendidik, dan sekitar 200.000-an guru belum bergelar S1, sehingga belum berhak menerima tunjangan profesi.

Survei IDEAS (2024) juga menunjukkan bahwa 74 persen guru non-ASN masih digaji di bawah upah minimum regional. Kondisi ini diperparah dengan relaksasi kebijakan honor guru non-ASN melalui Dana BOSP yang hanya bersifat sementara dan terbatas maksimal 20 persen untuk sekolah negeri.

Dalam konteks inilah, langkah PGSD Sanata Dharma yang justru menerima 108 mahasiswa baru pada 2026 menjadi sinyal penting. Data per 11 Agustus 2026 menunjukkan angka tersebut masih akan bertambah seiring proses seleksi jalur Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang masih berjalan.

Insipro: Lebih dari Sekadar Orientasi

Sambutan Ketua Program Studi PGSD Andreas Erwin Prasetya MP.d, Dari Kampus untuk Kelas, Mencetak Guru SD yang Adaptif dan Inspiratif (Sumber: PDD, Humas USD)

Insipro PGSD 2026 dirancang sebagai ruang pembentukan identitas kependidikan. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan struktur akademik, kurikulum, dan sistem pembelajaran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai dasar menjadi guru SD yang peduli, kreatif, dan berkomitmen pada pertumbuhan peserta didik.

Salah satu panitia Insipro menyebutkan, menjadi bagian dari kegiatan ini bukan hanya tentang menjalankan tugas, tetapi juga tentang belajar, berbagi, menciptakan pengalaman, dan tumbuh bersama.

Kegiatan dua hari ini diisi dengan berbagai sesi, antara lain:

  1. Pengenalan profil dan visi-misi PGSD USD, termasuk sejarah dan capaian akreditasi program studi.

  2. Workshop nilai-nilai kependidikan yang menekankan pada etos peduli, kreativitas pedagogis, dan komitmen pertumbuhan berkelanjutan.

  3. Simulasi pembelajaran inovatif yang melibatkan mahasiswa baru dalam praktik mengajar mikro.

  4. sesi dari dosen dan alumni yang berbagi pengalaman menjadi guru SD di berbagai konteks, termasuk tantangan dan peluang di era digital.

  5. Pembentukan kelompok belajar yang akan menjadi basis kolaborasi akademik sepanjang masa studi.

Sanata Dharma: Konsisten di Tengah Gelombang Pesimisme

Di tengah narasi pesimisme seputar profesi guru, Universitas Sanata Dharma menunjukkan konsistensi dalam mencetak pendidik berkualitas. PGSD USD, yang telah lama dikenal sebagai salah satu program studi pendidikan guru terkemuka di Yogyakarta, terus membuka kuota penerimaan mahasiswa baru setiap tahunnya.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USD bahkan memperpanjang pendaftaran mahasiswa baru hingga 10 September 2026, menunjukkan antusiasme yang masih tinggi terhadap program pendidikan guru di kampus ini.

PGSD USD juga dikenal dengan pendekatan inovatif dalam pembelajaran. Salah satu contohnya adalah kolaborasi lintas program studi dalam pengembangan aplikasi Jawalens, sebuah aplikasi Augmented Reality (AR) berbasis marker untuk pengenalan aksara Jawa bagi siswa sekolah dasar. Program ini melibatkan dosen dan mahasiswa dari Prodi Informatika, PGSD, dan Sastra Indonesia, serta telah diimplementasikan di sekolah-sekolah dasar Kabupaten Gunungkidul.

Kolaborasi semacam ini menunjukkan bahwa PGSD USD tidak hanya mencetak guru yang kompeten secara pedagogis, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi dan pelestarian budaya lokal.

Data Penerimaan: 108 Mahasiswa dan Masih Bertambah

Data resmi per 11 Agustus 2026 menunjukkan PGSD USD menerima 108 mahasiswa baru pada tahun akademik 2026/2027. Angka ini masih bersifat sementara karena proses seleksi jalur KIP masih berlangsung.

Jika dibandingkan dengan tren nasional yang menunjukkan penurunan minat terhadap program studi keguruan di beberapa daerah, angka ini cukup signifikan. Restrukturisasi jurusan keguruan dan integrasi dengan Pendidikan Profesi Guru (PPG) memang menjadi wacana untuk memutus rantai honorer berupah murah dan mengatasi mismatch antara supply lulusan dan kebutuhan formasi.

Namun, di level mikro, PGSD USD menunjukkan bahwa minat menjadi guru SD masih ada, terutama di kalangan calon pendidik yang memiliki motivasi intrinsik kuat dan visi jangka panjang terhadap pendidikan dasar.

Konteks Nasional: Guru Indonesia di Persimpangan

Secara nasional, kondisi guru Indonesia memang berada di persimpangan. Di satu sisi, jumlah guru mencapai 2,9 juta per Januari 2026, dengan tunjangan guru non-ASN yang naik dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2 juta pada 2025.

Di sisi lain, fenomena pengunduran diri ASN, termasuk guru, menunjukkan bahwa peningkatan tunjangan saja tidak cukup. Beban kerja, ketidakpastian karir, dan minimnya dukungan profesional menjadi faktor pendorong utama.

Kemendikdasmen melalui Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2026 tentang penataan guru non-ASN menegaskan bahwa istilah "honorer" tidak dikenal lagi dalam undang-undang. Guru kini disebut non-ASN, sebuah perubahan nomenklatur yang seharusnya diikuti perubahan nyata dalam perlakuan dan penghasilan.

Program SIPKA (Sertifikasi dan Peningkatan Kualifikasi Akademik) juga dibuka dengan bantuan dana Rp 3 juta per semester dan kuota 150.465 guru pada 2026. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan, terutama terkait transparansi dan aksesibilitas bagi guru di daerah terpencil.

PGSD USD: Membangun Ekosistem Pendidik yang Berkelanjutan

Salah satu mahasiswa baru Amelia Sagita Yordan berpartisipasi dalam diskusi dan memberikan pertanyaan mendalam seputar PGSD USD (Sumber: Humas USD)

Dalam konteks ini, PGSD USD tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai ekosistem yang membangun pendidik berkelanjutan. Melalui Insipro, mahasiswa baru diperkenalkan pada kultur akademik yang menekankan pada refleksi, kolaborasi, dan inovasi.

Laboratorium Montessori yang dirintis sejak 2009 menjadi salah satu fasilitas unggulan PGSD USD. Laboratorium ini menjadi ruang eksperimen pedagogis bagi mahasiswa untuk menerapkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak, sesuai dengan filosofi Maria Montessori.

Selain itu, PGSD USD juga aktif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, seperti implementasi aplikasi Jawalens di sekolah dasar. Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa SD, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran.

Harapan di Tengah Tantangan

Kehadiran 108 mahasiswa baru PGSD USD di tengah sorotan krisis guru menjadi harapan baru. Mereka adalah generasi yang akan menghadapi tantangan pendidikan dasar di masa depan, termasuk transformasi digital, diversifikasi kebutuhan peserta didik, dan tuntutan kompetensi abad 21.

Tema Insipro "Peduli itu aksi, kreasi itu bukti, tumbuh itu pasti" menjadi kompas moral bagi mereka. Kepedulian terhadap pendidikan dasar harus diterjemahkan dalam aksi nyata di kelas, kreativitas dalam merancang pembelajaran yang relevan, dan komitmen pada pertumbuhan diri serta peserta didik.

Dalam jangka panjang, keberadaan mereka diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan dasar di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang masih mengalami kekurangan guru berkualitas.

Penutup: Bergerak, Berkarya, Berkembang Tanpa Henti

Insipro PGSD 2026 telah usai, tetapi perjalanan 108 mahasiswa baru ini baru dimulai. Mereka akan menghadapi tantangan akademik, praktik mengajar, dan realitas lapangan yang tidak selalu mudah. Namun, dengan bekal nilai-nilai yang ditanamkan selama Insipro, mereka diharapkan dapat menjadi guru SD yang tidak hanya kompeten, tetapi juga inspiratif.

"Bergerak, berkarya, berkembang tanpa henti" bukan sekadar slogan, melainkan komitmen yang harus dihidupi setiap hari. Di tengah badai krisis guru, kehadiran mereka menjadi bukti bahwa masih ada harapan untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Penulis: Boas Sababang (humas Insipro pgsd 2026)