Konten dari Pengguna

ASEACCU dan USD Perkuat Pendidikan Katolik Asia di Yogyakarta

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Boas Sababang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh:Boas Sababang

Asosiasi Perguruan Tinggi dan Universitas Katolik Asia Tenggara dan Asia Timur (ASEACCU) adalah asosiasi regional yang berafiliasi dengan Federasi Internasional Universitas Katolik (IFCU). (Sumber: Humas USD)
zoom-in-whitePerbesar
Asosiasi Perguruan Tinggi dan Universitas Katolik Asia Tenggara dan Asia Timur (ASEACCU) adalah asosiasi regional yang berafiliasi dengan Federasi Internasional Universitas Katolik (IFCU). (Sumber: Humas USD)

Delegasi dari berbagai negara anggota Association of Southeast and East Asian Catholic Colleges and Universities (ASEACCU) memadati Auditorium Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Kamis (20/8/2026). Mereka hadir dalam hari kedua Konferensi Tahunan ke-32 ASEACCU yang diselenggarakan secara bersama oleh USD dan UAJY.

Sebagai tuan rumah bersama, USD dan UAJY mendemonstrasikan komitmen pendidikan Katolik Indonesia dalam mengintegrasikan keunggulan akademis, nilai-nilai Ajaran Sosial Gereja (Catholic Social Teaching/CST), dan kekayaan budaya lokal di hadapan para pendidik dan pemimpin pendidikan Katolik dari Asia Tenggara dan Timur.

Tema Besar: Mewujudkan Visi Humanitas melalui Aksi Nyata

Sesi akademis utama hari kedua difokuskan pada pembahasan tema "Realizing The Vision: How to Start Today with Actionable, Interdisipliner, and Grounded in Catholic Social Teaching for Human Flourishing". Melalui tema ini, para peserta diajak untuk mendalami bagaimana visi humanitas dapat diwujudkan secara nyata melalui langkah-langkah konkret yang bersifat lintas disiplin ilmu serta berlandaskan pada Ajaran Sosial Gereja Katolik untuk perkembangan hidup manusia seutuhnya.

Landasan Teoretis: Ajaran Sosial Gereja dan Human Flourishing

Ajaran Sosial Gereja (CST) merupakan kerangka etis yang telah berkembang selama lebih dari satu abad, dengan tujuh prinsip utama yang menjadi panduan bagi kehidupan bersama: (1) martabat dan kehidupan manusia, (2) panggilan kepada keluarga dan komunitas, (3) hak dan tanggung jawab, (4) pilihan bagi kaum miskin dan rentan, (5) martabat dalam pekerjaan, (6) solidaritas, dan (7) kepedulian terhadap ciptaan Tuhan.

Dalam konteks pendidikan, CST menekankan bahwa setiap manusia diciptakan menurut citra Allah (imago Dei), sehingga memiliki martabat inherent yang harus dihormati dan dikembangkan. Konsep human flourishing (perkembangan manusia seutuhnya) dalam tradisi Katolik tidak hanya mencakup pencapaian akademis atau ekonomi, tetapi juga pengembangan kebajikan, hubungan autentik, pekerjaan bermakna, dan partisipasi dalam komunitas.

Kerangka Human Flourishing dalam Pendidikan

Dalam perspektif akademis kontemporer, Tyler VanderWeele (2017) mengartikulasikan lima domain utama human flourishing yang dapat diukur dalam institusi pendidikan: (i) kebahagiaan dan kepuasan hidup, (ii) kesehatan fisik dan mental, (iii) makna dan tujuan, (iv) karakter dan kebajikan, dan (v) hubungan sosial yang erat.

Pendidikan menjadi salah satu dari empat jalur untuk mengalami domain-domain ini, bersama dengan keluarga, pekerjaan, dan komunitas religius. Untuk mempromosikan human flourishing secara efektif, institusi pendidikan perlu mengintegrasikan sembilan konsep kunci: moral sources dan budaya (kebahagiaan dan kepuasan hidup), antropologi (kesehatan fisik dan mental), motivasi dan agensi (makna dan tujuan), performa dan konteks (karakter dan kebajikan), serta cinta dan pedagogi (hubungan sosial yang erat).

Presentasi Riset Mahasiswa: "Cinta dalam Pelayanan Harapan"

instagram embed

Salah satu sorotan sesi akademis hari kedua adalah pemaparan riset ilmiah dari tiga delegasi mahasiswa yang mewakili institusi pendidikan Katolik di Asia Timur. Mereka adalah Shinen Lee (Wenzao Ursuline University, Taiwan), Charlie (University of Saint Joseph, Macau), dan Tiffany (Saint Francis University, Hong Kong).

Ketiga mahasiswa ini mempresentasikan penelitian kolaboratif berjudul "Love in The Service of Hope", yang mengangkat fenomena sosial sangat relevan saat ini: pola dan dampak penggunaan gawai (gadget) pada anak usia dini hingga remaja ditinjau dari perspektif masyarakat di Taiwan, Macau, dan Hong Kong.

Konteks Riset: Krisis Screen Time di Asia

Penelitian ini sangat relevan dengan temuan terbaru dari berbagai studi di kawasan Asia. Sebuah survei di Hong Kong yang dirilis pada 19 Agustus 2026 (sehari sebelum konferensi) mengungkapkan bahwa satu dari tiga anak taman kanak-kanak di Hong Kong kini menghabiskan minimal satu jam per hari di media sosial, dan lebih dari 80 persen konflik keluarga terkait dengan penggunaan layar yang berlebihan.

Data lebih lanjut menunjukkan:

60 persen siswa SMP junior dan dua pertiga siswa SMA di Hong Kong melebihi batas umum dua jam per hari untuk penggunaan layar rekreasi.

Remaja Hong Kong menghabiskan rata-rata 6–7 jam per hari di layar pada tahun akademik 2024/25, hampir dua kali lipat waktu yang dihabiskan orang dewasa.

Di Korea Selatan, siswa SMA menghabiskan rata-rata enam jam per hari di layar, sementara hanya sekitar satu jam untuk aktivitas di luar ruangan.

Di Singapura, lebih dari setengah anak berusia 2–6 tahun menghabiskan lebih dari satu jam per hari di perangkat digital, melebihi rekomendasi Kementerian Kesehatan. Angka ini melonjak menjadi 81 persen pada akhir pekan.

Di India, anak-anak di bawah lima tahun menghabiskan rata-rata 2,2 jam per hari di layar—dua kali lipat batas aman yang disarankan para ahli.

Di Bangladesh, 83,3 persen siswa sekolah berada dalam kelompok paparan layar tinggi, dengan rata-rata waktu layar 4,6 jam per hari.

Studi di Indonesia juga menunjukkan urgensi masalah ini. Penelitian yang diterbitkan di PLoS One pada Maret 2026 mengonfirmasi bahwa kuesioner DSEQ (Digital Screen Exposure Questionnaire) versi Indonesia telah divalidasi dan dapat diandalkan untuk mengukur paparan layar pada anak usia 2–5 tahun. Temuan ini penting karena paparan layar berlebihan pada usia dini terbukti secara negatif mempengaruhi perkembangan personal-sosial, dengan anak yang terpapar ≥120 menit per hari memiliki risiko 53,1 persen mengalami perkembangan suboptimal.

Di Chennai, India, penelitian pada Maret 2026 menunjukkan bahwa remaja menghabiskan rata-rata 2,45 jam per hari pada hari kerja dan 4,21 jam pada akhir pekan, dengan aktivitas rekreasi seperti video, gaming, dan media sosial sebagai kontributor utama.

Implikasi bagi Pendidikan Katolik

Dalam perspektif CST, penggunaan gawai yang tidak terkendali pada anak-anak dan remaja bertentangan dengan prinsip martabat manusia dan kepedulian terhadap ciptaan. Anak-anak perlu dilindungi dari dampak negatif teknologi agar dapat berkembang secara utuh—baik secara intelektual, moral, maupun sosial.

Penelitian Shinen, Charlie, dan Tiffany memberikan kontribusi penting dengan menyoroti bagaimana cinta dalam pelayanan harapan (love in the service of hope) dapat diwujudkan melalui pendidikan digital yang bertanggung jawab. Orang tua dan pendidik Katolik dipanggil untuk menerapkan strategi mediasi yang sesuai dengan usia: pengawasan ketat untuk anak usia 10–12 tahun, dan mediasi evaluatif yang mendorong otonomi untuk remaja 16–18 tahun.

MoU Penandatanganan: memperkuat Jejaring Pendidikan Katolik Asia

Setelah sesi presentasi mahasiswa, acara dilanjutkan dengan prosesi penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antar-institusi yang hadir. Penandatanganan ini menandai komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi akademis, pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, dan pengembangan kurikulum yang berlandaskan nilai-nilai Katolik.

ASEACCU, yang didirikan pada 1980, saat ini memiliki lebih dari 70 anggota dari 15 negara di Asia Tenggara dan Timur. Konferensi tahunan ini menjadi momentum strategis untuk memperluas jaringan dan menciptakan sinergi baru dalam menghadapi tantangan pendidikan global, seperti disrupsi teknologi, ketimpangan akses, dan krisis nilai.

Bagi USD dan UAJY, keterlibatan dalam konferensi ini memperkuat posisi mereka sebagai institusi pendidikan Katolik terkemuka di Indonesia yang mampu menjadi tuan rumah acara internasional bergengsi. Kolaborasi kedua universitas ini juga menunjukkan model sinergi antar-institusi Katolik yang dapat direplikasi di wilayah lain.

Pertunjukan Seni dan Diplomasi Budaya

Untuk mencairkan suasana dan mempererat persahabatan antarnegara, sesi formal dilanjutkan dengan berbagai penampilan seni yang dibawakan secara antusias oleh delegasi mahasiswa dari berbagai negara anggota. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga bentuk diplomasi budaya yang menunjukkan kekayaan tradisi masing-masing negara.

Dalam konteks pendidikan Katolik, pertukaran budaya semacam ini merupakan wujud konkret dari prinsip solidaritas dan panggilan kepada komunitas global. Melalui seni, para delegasi dapat menyampaikan nilai-nilai universal yang melampaui batas bahasa dan geografi.

Pengalaman Budaya: Sendratari Ramayana di Prambanan

Memasuki waktu petang, para delegasi diajak meninggalkan area kampus untuk menikmati pesona budaya Yogyakarta. Mereka bertolak menuju Kawasan Candi Prambanan untuk menonton pertunjukan Sendratari Ramayana yang dipentaskan di panggung terbuka Pelataran Ramayana.

Signifikansi Budaya dan Spiritual

Sendratari Ramayana di Prambanan bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga ekspresi nilai-nilai universal yang selaras dengan CST: perjuangan antara kebaikan dan kejahatan, pengorbanan, kesetiaan, dan kemenangan kebenaran. Latar belakang Candi Prambanan yang megah—sebagai warisan dunia UNESCO—memberikan dimensi spiritual dan historis yang mendalam bagi seluruh peserta.

Dalam konteks pendidikan Katolik, pengalaman ini menjadi pembelajaran lintas budaya yang konkret. Delegasi dari berbagai negara dapat melihat bagaimana nilai-nilai kemanusiaan diungkapkan melalui seni dan tradisi lokal, memperkuat pemahaman bahwa human flourishing tidak dapat dipisahkan dari akar budaya dan spiritualitas.

Candi Prambanan, yang dibangun pada abad ke-9, merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia dan menjadi simbol toleransi beragama di Nusantara. Keberadaan candi ini di Yogyakarta—kota yang juga menjadi pusat pendidikan Katolik dengan USD dan UAJY—menunjukkan harmoni antara tradisi Hindu-Buddha dan Katolik dalam konteks Indonesia.

Penutupan: Makan Malam Bersama di Ayem Tentrem Resto

Seluruh rangkaian agenda hari kedua resmi ditutup dengan kegiatan makan malam bersama (dinner) yang hangat dan akrab di Ayem Tentrem Resto. Momen ini menjadi kesempatan bagi para delegasi untuk membangun relasi personal, berbagi pengalaman, dan merencanakan kolaborasi masa depan.

Dalam tradisi Jawa, ayem tentrem berarti damai dan sejahtera—nilai yang sangat selaras dengan visi human flourishing dalam CST. Pemilihan restoran ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga upaya untuk memperkenalkan filosofi hidup Jawa kepada para tamu internasional.

Refleksi: Pendidikan Katolik di Tengah Disrupsi Global

Konferensi ASEACCU ke-32 di Yogyakarta terjadi di tengah tantangan global yang kompleks: disrupsi teknologi, krisis iklim, ketimpangan sosial, dan fragmentasi nilai. Dalam konteks ini, pendidikan Katolik dipanggil untuk menjadi ruang harapan (space of hope) yang menawarkan alternatif terhadap narasi-narasi yang mereduksi manusia menjadi sekadar produsen atau konsumen.

Prinsip-prinsip CST—martabat manusia, kebaikan bersama, solidaritas, dan kepedulian terhadap ciptaan—menjadi kompas etis bagi pendidik Katolik untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter, berempati, dan berkomitmen pada keadilan sosial.

Seperti ditegaskan dalam refleksi 50 tahun dokumen "The Catholic School" (1977), pendidikan karakter yang autentik harus bertujuan pada human flourishing yang mencakup kebajikan intelektual, moral, dan sipil, serta kebajikan pendukung seperti pengelolaan diri (self-management).

Peran USD dan UAJY dalam Ekosistem Pendidikan Katolik Asia

Keterlibatan USD dan UAJY sebagai tuan rumah bersama Konferensi ASEACCU ke-32 menunjukkan peran strategis kedua institusi ini dalam ekosistem pendidikan Katolik Asia. Sebagai universitas Katolik terkemuka di Indonesia, kedua institusi ini memiliki tanggung jawab untuk:

Memperkuat jaringan regional melalui kolaborasi penelitian, pertukaran mahasiswa, dan pengembangan kurikulum bersama.

Mengintegrasikan CST dalam praktik pendidikan sehari-hari, tidak hanya sebagai teori, tetapi sebagai panduan etis untuk pengambilan keputusan.

Menjadi jembatan budaya antara tradisi Katolik global dan konteks lokal Indonesia, termasuk kekayaan budaya Jawa dan Nusantara.

Menghadapi tantangan teknologi dengan pendekatan kritis dan humanis.

Penutup: Menuju Pendidikan yang Memanusiakan

Hari kedua Konferensi ASEACCU ke-32 telah menunjukkan bahwa sinergi antara akademis dan budaya bukan hanya mungkin, tetapi juga perlu untuk mewujudkan visi pendidikan yang memanusiakan. Melalui dialog lintas disiplin, kolaborasi riset, dan pengalaman budaya bersama, para delegasi telah melangkah lebih dekat untuk mewujudkan pendidikan Katolik yang actionable, interdisciplinary, dan grounded in Catholic Social Teaching for Human Flourishing.

Bagi USD dan UAJY, momentum ini menjadi titik tolak untuk memperkuat peran mereka sebagai pusat keunggulan pendidikan Katolik di Asia Tenggara. Dengan jejaring yang semakin luas dan komitmen yang semakin kuat, kedua universitas ini dapat berkontribusi lebih besar dalam membentuk masa depan pendidikan Katolik yang relevan, inklusif, dan berakar pada nilai-nilai humanis.