Catatan Mahasiswa Menembus Jalan Rusak Dusun Rogdok Mentawai

Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Pendidikan Guru Sekolah Dasar Mentawai
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Boas Sababang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Boas Sababang

"Ah, janji tinggal janji."
Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut temanku. Ia sedang sibuk membidikkan kameranya, memotret sebuah jembatan yang telah runtuh dan tak lagi berfungsi. Di waktu yang sama, isi kepalaku berkecamuk. Aku tersadar akan satu hal yang krusial.
"Kalau begitu, bagaimana kita menyeberang?" sambungku, menatap bentangan sungai di depan kami.
Tak ada jawaban instan. Kami akhirnya memilih duduk sejenak di tepi jalan, menghela napas sembari menunggu rombongan teman-teman lain yang masih tertinggal di belakang. Perjalanan pulang sejauh 100 kilometer membelah daratan Siberut ini benar-benar menguras energi. Mengendarai sepeda motor di jalur Trans Mentawai ini adalah sebuah perjuangan fisik yang luar biasa; jalanan becek, dipenuhi kubangan lumpur mendalam, tanpa adanya perbaikan yang tuntas.
Setengah jam berlalu, rombongan kami akhirnya tiba dengan wajah kepayahan. Kelelahan ini bukan semata-mata karena jaraknya yang jauh, melainkan karena kami sama sekali tidak bisa menikmati perjalanan akibat hancurnya infrastruktur penghubung antar-dusun ini.
Realitas Pahit di Jantung Siberut Selatan
Sebagai seorang mahasiswa yang gemar berpetualang, ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di kawasan pelosok Kepulauan Mentawai, tepatnya di Dusun Rogdok, Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan. Sebenarnya, bagi seorang petualang, menerjang jalanan becek bukanlah masalah besar. Namun, melihat realitas yang dihadapi warga lokal setiap hari, nuraniku menolak untuk sekadar maklum.
“Bagaimana bisa pemerintah daerah tidak begitu peduli dengan kondisi jalan sedahsyat ini?” gumamku dalam hati.
Lamunan itu buyar ketika kami menyadari tidak ada pilihan lain untuk bisa keluar dari sana. Karena jembatan utama runtuh, kami terpaksa turun ke sungai dan membiarkan pakaian kami basah kuyup. Arus sungai yang setinggi dada orang dewasa itu harus kami seberangi dengan sangat hati-hati. Kedua tangan kami kompak mengangkat tas tinggi-tinggi ke atas kepala, berjuang menjaga agar laptop dan peralatan elektronik di dalamnya tidak ikut terendam air sungai Rogdok yang dingin.
Debat "Pemimpin Luar Biasa" di Tengah Sungai
Di tengah perjuangan menembus arus sungai berkedalaman sedada itu, sebuah percakapan ironis sekaligus reflektif terjadi di antara kami.
"Daerah ini memang pelosok, tapi pemimpin yang memimpin daerah ini adalah orang yang luar biasa," ujar temanku, seorang putra asli daerah Mentawai yang ikut dalam rombongan.
Sambil terus menjaga keseimbangan di dalam air, aku spontan menyahut dengan nada sangsi, "Ya, buktinya jalan rusak parah dan jembatan juga runtuh. Bagaimana kamu bisa mengukur dan mengatakan pemimpinnya luar biasa?"
Bagi saya, seorang pemimpin seharusnya sadar bahwa infrastruktur jalan dan jembatan adalah urat nadi utama. Akses jalan di poros Rogdok ini bukan sekadar fasilitas pelengkap, melainkan jalur vital bagi anak-anak Madobag untuk pergi sekolah, akses warga menuju puskesmas, serta urat nadi kelancaran ekonomi lokal agar komoditas bumi Mentawai bisa keluar. Ketika akses itu terputus, kesejahteraan masyarakat di dalamnya pun ikut terisolasi.
Kepekaan yang Menolak Maklum
Saya memang bukan mahasiswa hukum, bukan pula mahasiswa teknik sipil yang paham betul pasal regulasi anggaran atau teknis pembangunan jalan Trans Mentawai. Namun, sebagai mahasiswa dan manusia, saya memiliki kepekaan sosial yang kuat terhadap ketimpangan nyata seperti ini.
Melihat bagaimana Dusun Rogdok yang kaya akan potensi budaya dan alam harus terpasung oleh keterbatasan fisik, adalah sebuah tamparan keras. Liputan perjalanan ini bukan lagi sekadar catatan petualangan mahasiswa yang mencari kesenangan, melainkan sebuah saksi bisu dari jeritan tersembunyi masyarakat pelosok Mentawai yang masih menanti janji kemerdekaan akses infrastruktur yang sesungguhnya.
