Hujan yang Tak Pernah Bertanya

Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Pendidikan Guru Sekolah Dasar Mentawai
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Boas Sababang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hujan Pertama
Hujan pertama jatuh di Yogyakarta pada suatu pagi di penghujung Oktober, setelah kemarau yang panjang. Tanah menghirupnya seperti orang haus yang tak lagi sempat bertanya siapa yang menyodorkan air. Hujan tidak mengenal kelas. Ia menimpa atap genteng dan atap seng dengan hak yang sama. Tetapi yang terjadi sesudahnya tidak sama bagi semua orang.
Orang-orang muda itu bertutur tentang tempat-tempat yang pantas dikunjungi berdua selagi langit basah. Aku tidak menyalahkan mereka. Manusia berhak mencari keindahan, dan cinta tidak pernah menunggu izin dari siapa pun. Tetapi seorang yang sudah lama hidup tak dapat menahan diri untuk bertanya: sejak kapan hujan perlu dicarikan tempat yang romantis?
Mereka menyebut Kaliurang lebih dahulu. Di lereng Merapi itu, kabut turun seperti tirai. Aku ingat bahwa tempat sejuk itu dibuka orang pada zaman Belanda sebagai peristirahatan, tempat para tuan melepas penat dari panas dataran rendah, sementara yang memikul barang dan menyiapkan hidangan pulang ke gubuknya sebelum malam. Dinginnya sama, kabutnya sama. Hanya yang menikmatinya telah berganti, dan itu pun tidak sepenuhnya.
Mereka menyebut Malioboro, dan aku tersenyum. Jalan itu terbentang lurus dari Tugu ke Keraton, dan di ujungnya berdiri benteng yang dahulu dibangun untuk mengawasi penduduk di sekelilingnya. Kini orang berjalan berdua di atasnya, melihat lampu memantul di aspal basah, dan merasa dunia hanya milik mereka. Tak ada yang salah dengan perasaan itu. Hanya sejarah selalu lebih tua daripada kenangan kita, dan jalan yang kita injak sudah menanggung langkah orang lain jauh sebelum kita.
Mereka menyebut perbukitan Menoreh dengan kedai kopinya yang menghadap sawah. Di bukit-bukit itu, seabad lebih yang lalu, Pangeran Diponegoro dan pengikutnya bergerilya melawan kekuasaan yang hendak menelan Jawa. Mereka tidur di tanah basah, dan hujan bagi mereka bukan latar, melainkan musuh sekaligus kawan. Hari ini orang duduk di bawah atap, memesan kopi, dan menyebut dingin itu syahdu. Aku tidak hendak merendahkan kopi. Aku hanya ingin orang tahu di tanah apa ia duduk.
Lalu disebut pula Taman Sari, tempat seorang raja dahulu membangun kolam dan lorong untuk kesenangannya. Di sana, tiap dinding menyimpan perintah, dan tiap batu diangkat oleh tangan yang tak pernah tercatat namanya. Orang datang ke sana sekarang untuk berfoto. Ledok Sambi dengan sungainya, Bukit Bintang dengan kerlip kotanya, Becici dengan hutan pinusnya, semua dikunjungi dengan niat yang sama: mencari tempat yang pantas untuk perasaan.
Satu hal patut dicatat, yaitu kata murah. Penulisnya hendak menunjukkan bahwa keindahan tak harus mahal, dan itu benar. Tetapi kata itu juga membuka sesuatu yang lebih dalam. Di zaman ini, bahkan perasaan harus ditimbang harganya lebih dahulu. Romantik dibagi menjadi yang mahal dan yang terjangkau, seakan cinta adalah barang dagangan yang tinggal dipilih menurut isi kantong. Orang yang tak sanggup membayar bensin menuju lereng gunung, atau secangkir kopi di kedai berpemandangan sawah, apakah ia tak berhak atas hujan?
Aku kira ia berhak, dan penulis itu agaknya mengetahuinya juga. Di ujung tulisannya, setelah semua tempat disebut, ia pulang ke teras rumah. Di situlah kebenaran paling sederhana bersembunyi. Hujan tidak pernah meminta kita pergi ke mana-mana. Ia hanya jatuh, dan siapa yang mau berhenti boleh mendengarkannya. Yang membuat sebuah tempat berharga bukan kabutnya, bukan lampunya, bukan sawahnya, melainkan siapa yang duduk di sebelah kita dan apakah kita bersedia benar-benar mendengarkannya berbicara.
Maka biarlah orang memburu lereng dan bukit. Biarlah ada yang berjalan di bawah lampu jalan yang basah. Tetapi jangan lupa bahwa di kampung-kampung, di bawah atap yang bocor di satu sudut, ada orang-orang yang menyambut hujan pertama dengan rasa syukur yang paling jujur, karena sawahnya akan segera hijau dan sumurnya akan terisi. Bagi mereka, hujan bukan perkara romantik. Hujan adalah hidup itu sendiri.
Dan barangkali itulah romantik yang paling tua dan paling jarang dituliskan.
