Konten dari Pengguna

Teater Besar Sebagai Cermin Retak Masyarakat Indonesia

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Boas Sababang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Entah kapan kusebut itu rumah: Pentas besar teater Seriboe Djendela 2026, hadir menjadi kisah yang related bagi keluarga menengah masa kini (Sumber: humas usd)
zoom-in-whitePerbesar
Entah kapan kusebut itu rumah: Pentas besar teater Seriboe Djendela 2026, hadir menjadi kisah yang related bagi keluarga menengah masa kini (Sumber: humas usd)

Teater, sejak zaman Yunani Kuno, selalu berfungsi sebagai cermin kehidupan masyarakat. Aristoteles dalam Poetics mendefinisikan teater (khususnya tragedi) sebagai mimesis praxeos — peniruan tindakan manusia yang bermakna. Melalui proses ini, penonton mengalami katharsis, yaitu pembersihan emosi berupa rasa kasihan dan takut, yang pada akhirnya membawa pemahaman lebih dalam tentang kondisi manusia. Plato sempat mencurigai seni tiruan ini, tetapi Aristoteles melihatnya sebagai sarana pendidikan moral dan refleksi sosial yang penting.

Di Indonesia, tradisi ini sudah mengakar jauh sebelum teater modern masuk. Teater rakyat seperti Ludruk (Jawa Timur) dan Ketoprak (Jawa Tengah) lahir sebagai sarana hiburan sekaligus kritik sosial halus. Ludruk, misalnya, berkembang pesat pada masa pergerakan nasional melalui sosok Cak Gondo Durasim yang menggunakan humor dan sindiran untuk menyuarakan nasionalisme serta perlawanan terhadap ketidakadilan kolonial. Ketoprak sering mengangkat kisah kerajaan untuk menyindir kesewenangan penguasa atau kemerosotan moral masyarakat. Kedua bentuk teater tradisional ini menjadi “media massa” rakyat sebelum radio dan televisi ada — menyampaikan pendidikan, kontrol sosial, dan refleksi kehidupan sehari-hari.

Di tengah dinamika sosial-ekonomi Indonesia saat ini, peran teater sebagai ruang refleksi kembali relevan. Pentas besar “Entah Kapan Kusebut Itu Rumah” oleh Teater Seriboe Djendela (TSD) Universitas Sanata Dharma pada 5 Juni 2026 adalah contoh kuat bagaimana teater kampus mampu menjadi cermin retak-retak masyarakat kelas menengah Indonesia.

Data yang Menggambarkan Retak Itu Sendiri

Menurut data Mandiri Institute yang mengolah Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk kelas menengah Indonesia pada 2025 menyusut menjadi 46,7 juta orang, turun 1,2 juta jiwa dari 47,9 juta pada 2024. Penurunan ini memperburuk kerentanan keluarga-keluarga yang selama ini menjadi penopang konsumsi domestik.

Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) per 4 Juni 2026 menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Mei 2026, tercatat 23.470 pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) yang tercatat dalam program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (46.015 orang), tetapi tetap memberatkan. PHK paling tinggi terjadi di Februari (7.443 orang), dengan Jawa Barat menjadi provinsi terdampak terbesar (5.044 orang), diikuti Banten, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan potensi tambahan PHK hingga 15.300–20.300 orang, terutama di sektor manufaktur.

Fenomena sandwich generation semakin memperparah situasi. Generasi usia produktif terjebak menopang orang tua yang renta sekaligus anak-anak dengan biaya pendidikan yang terus membengkak. Komunikasi antargenerasi macet, toxic parenting muncul dari kecemasan ekonomi, dan keheningan di dalam rumah menjadi norma.

Pentas TSD sebagai Katharsis Kolektif

Entah Kapan Kusebut Itu Rumah (Sumber: Humas)

Melalui pendekatan realis, pentas TSD mengisahkan sebuah keluarga kelas menengah yang tampak rapi di luar namun retak di dalam: ayah yang baru PHK, ibu yang terbebani tagihan, dan anak-anak yang bergulat dengan peran masing-masing. Bukan sekadar cerita individu, melainkan representasi struktural dari penyusutan kelas menengah dan melemahnya daya tahan keluarga Indonesia.

Proses kolektif mahasiswa dalam mengembangkan naskah dan pementasan ini mencerminkan semangat teater sebagai pendidikan kepekaan. Teater Seriboe Djendela, yang aktif sejak akhir 1990-an (awalnya sebagai Kethoprak Sadhar Budaya), memiliki tradisi panjang menggunakan panggung untuk refleksi sosial — dari pementasan kolosal sejarah hingga karya kekinian. Pentas ini, yang juga menjadi graduasi angkatan 2023, membuktikan bahwa teater kampus tetap menjadi ruang di mana anak muda belajar melihat, merasakan, dan menyuarakan denyut nadi masyarakat.

Seperti Ludruk dan Ketoprak di masanya, pentas ini memberikan katharsis bagi penonton. Banyak yang menangis bukan karena fiksi, melainkan karena melihat potret keluarga mereka sendiri. Seorang penonton mengatakan cerita itu “sangat dekat dengan kehidupan kita”, sementara aktor Ajeng (pemeran ibu) merasa terharu karena bisa menyampaikan luka yang selama ini terpendam.

Pada akhirnya, teater besar seperti “Entah Kapan Kusebut Itu Rumah” mengingatkan kita bahwa seni bukan pelarian dari realitas, melainkan pintu masuk untuk menghadapinya dengan lebih jujur. Ketika ruang bicara di masyarakat semakin sempit, panggung teater harus tetap bersuara — mengajak kita bertanya: entah sampai kapan retak-retak ini dibiarkan menganga?