Konten dari Pengguna

UMKM Pantai Sepanjang Bergantung pada Musim, Pedagang Perlu Perluas Pasar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Boas Sababang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Kelompok A2 BUBA

Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma

wawancara pelaku UMKM Pantai Sepanjang oleh kelompok Buba INSIPRO PGSD USD (sumber: boas sababang)
zoom-in-whitePerbesar
wawancara pelaku UMKM Pantai Sepanjang oleh kelompok Buba INSIPRO PGSD USD (sumber: boas sababang)

Pendahuluan

Pantai Sepanjang di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar. Sejumlah warga membuka usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, mulai dari makanan, minuman, camilan, hingga oleh-oleh.

Aktivitas perdagangan di kawasan wisata tersebut ikut bergerak mengikuti jumlah kunjungan wisatawan. Ketika pantai ramai pada akhir pekan atau musim liburan, penjualan pedagang meningkat. Sebaliknya, ketika jumlah wisatawan menurun, pedagang harus menghadapi berkurangnya pendapatan.

kondisi

Pantai Sepanjang sendiri terus mengalami penataan kawasan. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul meresmikan pembangunan jalan dan penataan kios pedagang untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan serta mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Namun, pembangunan fisik perlu diikuti dengan penguatan kemampuan pedagang agar usaha mereka dapat bertahan dalam berbagai kondisi.

Untuk memahami persoalan tersebut, Kelompok A2 BUBA melakukan pengamatan dan wawancara terhadap lima pelaku UMKM di sekitar Pantai Sepanjang. Wawancara dilakukan untuk mengetahui masalah yang dihadapi pedagang, perubahan harga bahan baku, penurunan jumlah pembeli, hubungan antarpedagang, serta pengaruh kondisi ekonomi masyarakat terhadap penjualan.

Penjualan Bergantung pada Musim

wawancara Kelompok BUBA INSIPRO PGSD USD (sumber: Boas Sababang)

Hasil wawancara menunjukkan bahwa sepinya pembeli pada hari biasa menjadi persoalan yang paling sering dihadapi pedagang. Sebagian besar pedagang memperoleh pendapatan lebih tinggi pada akhir pekan, hari libur nasional, dan musim liburan sekolah.

Pada hari biasa, jumlah wisatawan yang datang ke Pantai Sepanjang cenderung lebih sedikit. Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang tidak dapat mengandalkan pendapatan harian secara tetap. Mereka tetap harus menyediakan barang dagangan dan menanggung biaya operasional, meskipun jumlah pembeli tidak sebanding dengan pengeluaran.

"Kalau hari biasa biasanya sepi. Ramai itu saat Sabtu, Minggu, atau musim liburan," demikian gambaran umum yang disampaikan pedagang dalam wawancara.

Ketergantungan pada musim liburan membuat pendapatan pedagang tidak stabil. Pada periode ramai, pedagang harus menyiapkan persediaan barang dalam jumlah lebih banyak. Namun, pada periode sepi, barang dagangan berisiko tidak habis terjual.

Ketergantungan terhadap kunjungan langsung juga membuat pedagang rentan terhadap perubahan kebiasaan konsumen. Wisatawan tidak selalu membeli makanan atau oleh-oleh dalam jumlah besar. Mereka dapat memilih membawa bekal, mengurangi pengeluaran, atau membeli produk melalui toko daring.

"Ramainya Pantai Sepanjang pada akhir pekan dan musim liburan menjadi berkah bagi pedagang. Namun, ketergantungan pada musim juga membuat pendapatan mereka tidak selalu stabil. Karena itu, UMKM perlu memperluas pasar dan tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung

Harga Bahan Baku Terus Berubah

wawancara kelompok BUBA INSIPRO PGSD USD (Sumber: Boas Sababang)

Selain menghadapi pembeli yang tidak selalu ramai, pedagang juga harus menghadapi kenaikan harga bahan baku. Berdasarkan hasil wawancara, harga bahan dan barang dagangan beberapa kali mengalami kenaikan, terutama menjelang Lebaran dan Tahun Baru.

Kenaikan harga bahan baku dapat mengurangi keuntungan pedagang. Apabila harga jual tidak dinaikkan, keuntungan menjadi lebih kecil. Namun, apabila harga jual dinaikkan terlalu tinggi, pembeli dapat mengurangi jumlah pembelian.

Pedagang berada dalam posisi yang sulit. Mereka perlu menjaga harga agar tetap terjangkau bagi wisatawan, tetapi juga harus memastikan pendapatan yang diperoleh mampu menutup biaya pembelian bahan, transportasi, listrik, sewa tempat, dan kebutuhan operasional lainnya.

Kenaikan harga bahan baku juga dapat memengaruhi kualitas serta ukuran produk. Pedagang mungkin mengurangi jumlah bahan, mengecilkan porsi, atau mengganti bahan dengan pilihan yang lebih murah. Jika tidak dikelola dengan baik, perubahan tersebut dapat memengaruhi kepuasan pembeli.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menyusun perencanaan persediaan. Pedagang dapat membeli bahan tertentu sebelum periode kenaikan harga, terutama bahan yang tahan lama. Langkah tersebut perlu dilakukan berdasarkan perkiraan penjualan agar bahan tidak rusak atau menumpuk.

Pedagang juga dapat bekerja sama melalui paguyuban untuk membeli bahan secara kolektif. Pembelian dalam jumlah besar berpotensi menghasilkan harga yang lebih rendah daripada pembelian secara perorangan. Selain itu, kerja sama tersebut dapat memperkuat posisi tawar pedagang terhadap pemasok.

Namun, pembelian kolektif membutuhkan pengelolaan yang terbuka. Paguyuban perlu memiliki catatan pembelian, pembagian biaya, dan mekanisme penyimpanan yang jelas. Tanpa pengelolaan yang baik, kerja sama tersebut dapat menimbulkan persoalan baru.

Pembeli Menurun Saat Low Season

Pedagang mengaku pernah mengalami penurunan jumlah pembeli secara drastis. Penurunan biasanya terjadi setelah masa liburan panjang berakhir. Pada periode tersebut, wisatawan kembali menjalankan kegiatan sehari-hari sehingga kunjungan ke pantai ikut menurun.

Selain faktor musim, kondisi cuaca juga memengaruhi jumlah wisatawan. Informasi mengenai hujan deras, angin kencang, atau gelombang tinggi dapat membuat masyarakat menunda perjalanan ke pantai.

Bagi pedagang, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada jumlah pembeli, tetapi juga pada persediaan barang dagangan. Makanan dan minuman yang tidak terjual dapat mengalami kerusakan. Kerugian semakin besar apabila pedagang sudah membeli bahan dalam jumlah banyak.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penghasilan pedagang di Pantai Sepanjang rentan terhadap faktor eksternal. Pedagang tidak dapat mengendalikan cuaca, musim liburan, atau perubahan rencana wisatawan. Karena itu, mereka memerlukan strategi usaha yang tidak hanya bergantung pada pembeli yang datang langsung.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah memberikan promosi pada hari biasa. Pedagang dapat membuat paket hemat keluarga, potongan harga untuk pembelian tertentu, atau menu khusus untuk wisatawan dengan anggaran terbatas.

Pengelola kawasan juga dapat bekerja sama dengan pedagang untuk menyelenggarakan kegiatan pada hari biasa. Kegiatan tersebut dapat berupa pasar kuliner, pertunjukan seni, kegiatan komunitas, atau acara edukatif yang sesuai dengan karakter Pantai Sepanjang.

Penataan kawasan wisata juga dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat promosi. Pemerintah daerah dan pengelola perlu memastikan bahwa keberadaan kios, akses jalan, kebersihan, serta informasi wisata dapat mendukung kunjungan masyarakat. Penataan Pantai Sepanjang diarahkan untuk meningkatkan kualitas kawasan dan mendukung kegiatan ekonomi pedagang.

Persaingan dan Solidaritas Pedagang

Berbeda dari persoalan penjualan dan harga bahan baku, persaingan antar pedagang tidak dianggap sebagai masalah utama. Para pedagang menyatakan bahwa hubungan mereka cukup baik. Mereka berkomunikasi dan saling berinteraksi dalam menjalankan usaha.

Pedagang juga melakukan pertemuan untuk membahas harga jual barang yang ditawarkan di warung. Tujuannya adalah menjaga kestabilan harga dan mencegah persaingan yang tidak sehat.

Hubungan tersebut menunjukkan adanya solidaritas di antara pelaku UMKM. Mereka menyadari bahwa persaingan harga yang terlalu tajam dapat merugikan semua pihak. Jika salah satu pedagang menjual barang dengan harga terlalu rendah, pedagang lain dapat terdorong melakukan hal serupa.

Meskipun demikian, kesepakatan harga perlu dilakukan secara hati-hati. Keseragaman harga tidak seharusnya menghalangi pedagang untuk mengembangkan produk, meningkatkan pelayanan, atau memberikan inovasi kepada pembeli.

Persaingan yang sehat dapat dilakukan melalui kualitas makanan, kebersihan warung, keramahan pelayanan, tampilan produk, serta kecepatan penyajian. Dengan demikian, pedagang tetap dapat memiliki keunggulan tanpa harus menjatuhkan pedagang lain.

Paguyuban pedagang dapat berperan dalam menjaga hubungan tersebut. Paguyuban tidak hanya berfungsi sebagai ruang pertemuan, tetapi juga dapat menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi, mengelola promosi bersama, dan membangun kerja sama dengan pemerintah daerah.

Daya Beli Masyarakat Menentukan Penjualan

wawancara pelaku UMKM (Sumber: Boas Sababang)

Kondisi ekonomi masyarakat memiliki pengaruh langsung terhadap penjualan pedagang. Ketika harga kebutuhan pokok dan bahan bakar meningkat, masyarakat cenderung mengurangi pengeluaran untuk hiburan dan wisata.

Wisata merupakan salah satu kebutuhan yang paling mudah ditunda ketika kondisi ekonomi menurun. Masyarakat akan lebih dahulu memenuhi kebutuhan pokok sebelum mengalokasikan penghasilan untuk bepergian.

Kenaikan harga bahan bakar juga dapat meningkatkan biaya perjalanan menuju pantai. Akibatnya, sebagian masyarakat memilih mengurangi frekuensi berwisata atau mencari lokasi yang lebih dekat dengan tempat tinggal.

Dampak tersebut dirasakan secara langsung oleh pedagang. Ketika jumlah kunjungan berkurang, penjualan makanan, minuman, dan oleh-oleh ikut menurun. Pedagang tidak hanya kehilangan pembeli, tetapi juga harus menghadapi kemungkinan meningkatnya biaya operasional.

Untuk mengatasi persoalan daya beli, pedagang dapat menyediakan produk dengan pilihan harga yang beragam. Porsi kecil dengan harga terjangkau dapat ditawarkan kepada pembeli yang memiliki anggaran terbatas. Sementara itu, porsi keluarga atau menu premium dapat disediakan bagi pembeli yang memiliki kemampuan belanja lebih besar.

Pilihan harga bertingkat memungkinkan pedagang menjangkau lebih banyak konsumen. Strategi tersebut juga dapat mencegah pembeli meninggalkan warung karena tidak menemukan produk yang sesuai dengan anggaran mereka.

Namun, porsi kecil memiliki margin keuntungan yang lebih rendah. Karena itu, pedagang perlu menghitung biaya produksi secara teliti. Harga jual harus tetap mampu menutup biaya bahan baku dan memberikan keuntungan yang wajar.

Memperluas Pasar melalui Digitalisasi

Salah satu solusi penting bagi pedagang adalah memperluas pemasaran melalui media digital. Pedagang dapat menggunakan WhatsApp Business, Instagram, atau marketplace untuk memperkenalkan produk kepada konsumen di luar kawasan Pantai Sepanjang.

Produk yang dipasarkan secara daring sebaiknya berupa makanan ringan dan oleh-oleh yang tahan lama. Contohnya ialah keripik, makanan kering, sambal kemasan, atau produk khas daerah yang mudah dikemas dan dikirim.

Penjualan daring dapat membantu pedagang mengurangi ketergantungan terhadap wisatawan yang datang langsung. Produk tetap dapat dijual ketika pantai sedang sepi atau ketika kondisi cuaca tidak mendukung kegiatan wisata.

Namun, digitalisasi bukan solusi yang dapat berjalan secara otomatis. Pedagang perlu memiliki foto produk yang jelas, informasi harga, pilihan pembayaran, serta cara pengemasan yang aman. Mereka juga perlu menghitung biaya pengiriman agar harga produk tetap kompetitif.

Media sosial dapat digunakan untuk membagikan informasi mengenai produk, suasana Pantai Sepanjang, promo, dan kegiatan di kawasan tersebut. Konten yang dibuat secara rutin dapat membantu membangun hubungan dengan calon pembeli.

Promosi melalui Instagram, TikTok, dan WhatsApp Business dinilai berperan penting dalam memperkenalkan usaha serta menarik minat wisatawan. Meskipun demikian, pendampingan tetap diperlukan agar pedagang mampu mengelola akun, membuat konten, dan menanggapi pesan konsumen secara profesional.

Memperkuat Paguyuban Pedagang

Solidaritas antar pedagang merupakan modal sosial yang perlu dipertahankan. Namun, hubungan baik tersebut perlu diperkuat melalui organisasi yang memiliki aturan dan program kerja yang jelas.

Paguyuban dapat menyusun aturan mengenai kebersihan, pengelolaan sampah, pelayanan, penggunaan fasilitas, dan penyelesaian konflik. Aturan tersebut harus disepakati bersama dan diterapkan secara adil.

Paguyuban juga dapat membentuk dana kas bersama. Dana tersebut dapat digunakan untuk kegiatan promosi, perawatan fasilitas, bantuan bagi pedagang yang mengalami musibah, atau kebutuhan bersama lainnya.

Selain itu, paguyuban dapat mengusulkan pelatihan kepada pemerintah daerah maupun perguruan tinggi. Pelatihan yang dibutuhkan antara lain pengelolaan keuangan sederhana, pemasaran digital, pengemasan produk, keamanan pangan, dan pelayanan konsumen.

Kerja sama dengan perguruan tinggi juga dapat dikembangkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Mahasiswa dapat membantu pedagang membuat katalog digital, memotret produk, menyusun daftar harga, dan mengelola media sosial.

Dengan pengelolaan yang lebih terorganisasi, pedagang tidak hanya menjadi penerima dampak dari perubahan kawasan wisata. Mereka dapat terlibat dalam perencanaan dan pengembangan Pantai Sepanjang sebagai destinasi yang mendukung ekonomi masyarakat.

Kesimpulan

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa UMKM di sekitar Pantai Sepanjang menghadapi persoalan utama berupa ketergantungan pada musim wisata, sepinya pembeli pada hari biasa, kenaikan harga bahan baku, pengaruh cuaca, dan menurunnya daya beli masyarakat.

Pendapatan pedagang meningkat ketika akhir pekan dan musim liburan, tetapi menurun setelah masa liburan berakhir. Kenaikan harga bahan baku juga dapat mengurangi keuntungan apabila tidak diikuti dengan pengelolaan persediaan dan penyesuaian harga yang tepat.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, pedagang memiliki kekuatan berupa hubungan sosial dan solidaritas yang baik. Kerja sama antarpedagang dapat menjadi dasar untuk membentuk paguyuban yang lebih kuat, mengadakan pembelian kolektif, menyusun promosi bersama, dan memperjuangkan kepentingan pedagang.

Pedagang juga perlu memperluas pasar melalui penjualan daring, menyediakan pilihan harga bertingkat, menawarkan promo pada hari biasa, dan mengembangkan produk oleh-oleh yang tahan lama. Strategi tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap wisatawan yang datang langsung.

Pengembangan UMKM di Pantai Sepanjang tidak cukup dilakukan melalui pembangunan kios dan penataan kawasan. Pedagang juga membutuhkan pendampingan dalam pemasaran digital, pengelolaan keuangan, pengemasan produk, kebersihan, dan pelayanan konsumen.

Dengan dukungan pemerintah, pengelola wisata, perguruan tinggi, dan paguyuban pedagang, Pantai Sepanjang berpotensi berkembang sebagai kawasan wisata yang tidak hanya menarik bagi pengunjung, tetapi juga memberikan penghidupan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

"INSIPRO menjadi langkah awal bagi mahasiswa PGSD untuk melihat masyarakat bukan sekadar sebagai objek pembelajaran, melainkan sebagai sumber pengetahuan. Dari pelaku UMKM di Pantai Sepanjang, mahasiswa belajar memahami persoalan ekonomi, kerja sama sosial, dan ketahanan masyarakat pesisir."

INSIPRO PGSD USD 2026 Pantai Sepanjang Gunung Kidul (Sumber: Boas Sababang)

INSIPRO PGSD menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal kehidupan masyarakat secara lebih dekat. Melalui pengamatan terhadap UMKM di Pantai Sepanjang, mahasiswa belajar bahwa pendidikan, ekonomi lokal, dan kepedulian sosial merupakan bagian yang saling berkaitan."