Dua Paradigma yang Diperdebatkan

Aku hanya ingin menulis menurutku. Seorang penulis yang sekarang jadi pekerjaan
Tulisan dari bob bimantara leander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang teman waktu mengobrol menjelaskan panjang dan lebar apa itu sistem kepemerintahan, sejarah Indonesia, dan masalah Indonesia dewasa ini. Mulai dari definisi yang 'rakyat, rakyat, dan rakyat' sampai masalah kerusuhan tahun 98 yang masih terasa 'aura' nya sampai sekarang, katanya. Ada yang menarik dari omongannya. Walaupun kebanyakan teori, dia juga tetap menyelipkan satu dua aktualisasi teori itu dalam 'cerita' nya berupa, salah satu contohnya, demonstrasi yang pernah ia lakukan. Sampai-sampai, saya terbawa ke situasi serius yang ditaruh di muka saya. Padahal, itu hanyalah obrolan di warkop (warung kopi).Teman saya waktu mengobrol menjelaskan panjang dan lebar apa itu sistem kepemerintahan, sejarah Indonesia, dan masalah Indonesia dewasa ini. Mulai dari definisi yang 'rakyat, rakyat, dan rakyat' sampai masalah kerusuhan tahun 98 yang masih terasa 'aura' nya sampai sekarang, katanya. Ada yang menarik dari omongannya. Walaupun kebanyakan teori, dia juga tetap menyelipkan satu dua aktualisasi teori itu dalam 'cerita' nya berupa, salah satu contohnya, demonstrasi yang pernah ia lakukan. Sampai-sampai, saya terbawa ke situasi serius yang ditaruh di muka saya. Padahal, itu hanyalah obrolan di warkop (warung kopi).
"Apasih guna dari kamu sok teoristis dan ngomongin rakyat, rakyat, dan rakyat? Seng penting kuliah seng bener. Emang kuliah mu wes bener? " Celetuk teman satunya lagi. Merasa tersinggung, teman saya, yang care sama rakyat itu, memakai tameng berupa segudang 'dalil'nya. Memukau. Cara jawabnya mulus seperti pejabat waktu debat. Waktu itu saya hanya melihat perdebatan antara satu yang concern dengan keadaan masyarakat dan politik negaranya, yang satunya cukup realistis saja 'pokok kuliah, seng liane pikir keri, cepet lulus'. Itulah, sekelumit dinamika perdebatan teman-teman saya di warung kopi malam itu.
Jika saya tarik secara luas, percakapan atau bisa dibilang perdebatan teman-teman saya itu memiliki 2 paradigma dalam memandang perkuliahan. Satu, memandang bahwa apa-apa IPK nomor satu atau IPK-oriented. Selain hal berbau IPK, secara tidak langsung atau langsung, dinomorduakan atau bahkan diterakhirkan. Bertolak belakang dari itu, yang kedua adalah cara pandang bahwa meskipun kita kuliah, kita tidak boleh tutup mata akan keadaan sekitar walaupun kadang sampai 'memandang' nya terlalu jauh, kita sampai lupa akan tugas kita sebagai mahasiswa jaman now ini apa. Tapi kembali lagi apalah arti ilmu tinggi jika kita tidak bisa menjadi 'agent of change'.
Ini sungguh dilematis. Memang. Di satu sisi, kita harus lulus cepat-cepat karena berbagai alasan seperti mahalnya UKT dan biaya kost, bagi beberapa mahasiswa luar kota, atau ngejar deadline nikah dan kerja. Tak cukup cepat-cepat lulus, di jaman yang serba kompetisi ini, kita harus mempunyai sesuatu yang 'layak jual' yaitu, sebagai mahasiswa, IPK kita. Jika IPK rendah, banyak implikasi yang akan ditemui seperti halnya sulit mendapat pekerjaan kalau mau cepet nikah, sulit melanjutkan studi kalau memang ingin, dan sulit sulit lainnya. Ini yang membuat teman saya, yang menceletuk itu, selalu tertuju ke IPK. Di sisi lain, teman saya yang kritis dan concern terhadap negara dan rakyatnya itu memang diperlukan dalam dunia perkampusan, seperti kata Najwa Shihab 'Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk? Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi, jika hanya perkaya diri dan sanak-famili?' (DARI JOGJA UNTUK BANGSA, hlm. 159). Lebih jauh lagi, tanpa ada mahasiswa seperti dia, kampus menjadi seperti pabrik robot.
Meskipun ada sisi yang tidak sejalan, kedua paradigma ini juga mempunyai kesamaan. Entah itu IPK-oriented atau aktivis kampus, kedua paradigma itu memaksa mahasiswa untuk bergerak ke arah yang positive. IPK-oriented memaksa mahasiswa terus belajar mengasa kemampuannya dalam menguasai mata kuliah dan juga menumbuhkan tanggung jawab mahasiswa tersbut. Setali tiga uang, aktivis kampus juga merangsang mahasiswanya untuk jeli dan peduli terhada lingkungannya dengan gerakan-gerakan amal yang dibuatnya, demonstrasi atas nama kepedulian terhadap kaum tertindas dan masih banyak lagi.
Ternyata, jika dilihat dari kesamaannya, saya jadi berfikir bahwa teman-teman saya itu tidak perlu sampai berdebat dan berargumen sampai mengeluarkan jurus-jurusnya jika mereka mencoba melihat essensi positif dari paradigma atau way of thinking mereka yang memiliki kesamaan.
